
Benar saja, setibanya dirumah Bu Widya, mereka telah disambut dengan sangat hangat di depan teras.
"Assalamuallaikum, Bu!" sapa keduanya, menyalami tangan ibunda Sekar penuh hormat.
"Wa'allaikumsalam, ayo masuk. Ibu sudah menunggu sejak tadi." Bu Widya senang bisa bertemu dengan Bulan lagi. Dengan begitu rindunya pada Sekar terbayarkan.
"O ya, Sekar sudah bilang sama, Ibu?" selidik Angkasa, melirik Bulan disampingnya.
"Hehehe, iya. Maaf ya, takutnya Ibu gak di rumah nanti," timbal Bulan nyengir. Terpikirkan pun pun tidak, ada diantara orang-orang asing baginya. Namun anehnya, Ia merasa sangat bahagia. Seperti menemukan keluarga yang utuh.
"Ayo kita makan dulu, Ibu sengaja masak kesukaan kalian berdua!" Bu Widya mengantar keduanya ke meja makan.
Banyak makanan siput tersaji disana, dari dulu Sekar suka makanan laut namun sejak dia sakit. Sekar tidak pernah menyentuhnya lagi karena makanan tersebut mengandung lemak dan kolesterol yang membahayakan bagi penderita sakit seperti Sekar.
Bulan agak riskan setelah mengamati seluruh makanan yang ada disana. Tidak ada yang namanya sayur, bisa jadi Bu Widya tidak menyukainya. Padahal Bulan sendiri memiliki Alergi terhadap makanan itu.
"Ayo duduk, Sayang. Ini pasti enak!" Angkasa menyeret kursi dan mendudukkan Bulan di sampingnya.
"Maaf ya, Angkasa. Ibu tidak masak sayuran soalnya Sekar tidak suka," kata Bu Widya menyayangkan.
"Gak papa, Bu. Ini sudah sangat luar biasa kok, Angkasa menyukai apa yang disukai Sekar," jawab Angkasa santai.
Angkasa mengambilkan Bulan makanan dan lagi-lagi mau menyuapinya. "Ayo buka mulutmu, buar aku yang suapi," katanya, seenak hati tanpa memikirkan kalau Bulan sangat takut makan siput tersebut.
Namun untuk menolak, Bulan tidak sampai hati mengecewakan Bu Widya yang sudah susah payah masak untuk mereka, di tambah Angkasa yang begitu antusias memperhatikannya.
__ADS_1
"Biar aku sendiri, malu dilihat Ibu." Bulan hendak mengambil alih tapi Angkasa menolaknya.
"Is, ngapain malu. Biar Ibu tahu, kalau aku akan selalu menyayangi kamu. Ayo buka...!" Angkasa tetap memaksa dan Bulan tidak punya pilihan untuk menolak. Ia melahapnya dengan was-was.
Bu Widya termenung, membayangkan jika yang dilihatnya sekarang memang benar-benar Sekar yang bahagia dengan keluarga kecilnya. Jika itu nyata seharusnya dia adalah orang tua yang paling bahagia.
Tertawanya, manjanya maupun apapun yang bersangkutan dengan Sekar Ia ingat dan kini semua itu hanya tinggal sebuah kenangan yang tercatat dan disimpan didalam hati. Dulu, Sekar begitu terbuka padanya. Sikapnya memang egois dan ingin selalu berpenampilan sempurna tapi dia sangatlah setia bisa jadi semua itu terjadi karena Ia membutuhkan perhatian dan kasih sayang.
Sambil menyuapi, Angkasa memulai mengatakan maksud kedatanganya pada Bu Widya.
"Empat hari lagi, aku akan mengadakan ULTAH untuk Sekar, Ibu harus datang ya, aku ingin pesta ini di rayakan dengan sangat meriah."
"Iyakah? berarti Sekar sudah menginjak dua puluh satu tahun ya, Ibu aja gak ingat," kata Bu Widya.
"Aku tidak akan melupakan hari-hari penting sama Sekar, Bu. Karena hari itu sangat berarti untukku." Angkasa memandangi tulus wajah Bulan yang merasa tidak enak pada Bu Widya.
Angkasa memegang tangan Bu Widya, dan mengatakan jika Sekar akan ada dihatinya.
"Sekar adalah wanita yang luar biasa, Bu. Aku belum pernah menemukan perempuan seperti dia. Meski manja dan selalu ingin dimengerti, Ia tidak pernah lupa membahagiakan hatiku dan menghibur saat aku terjatuh," ungkap Angkasa. Menambah perasaan bersalah dihati Bulan, tidak sepantasnya Ia membohongi Angkasa hanya demi yang namanya uang. Melihat Cinta Angkasa sedalam itu terhadap Sekar, ingin Bulan mengatakan semuanya lalu pergi sejauh-jauhnya.
Bulan tidak kuat ada disana, Ia pun berpamitan ke toilet.
"Kamar mandi dimana, Bu?" celotehnya tanpa sadar.
Angkasa mengernyitkan dahi, suasana yang seharusnya penuh haru berganti menjadi wajah kaget.
__ADS_1
"Oh, iya Sekar lupa. Sudah lama tidak kerumah Ibu," sela Bulan lagi. Ia pun meninggalkan keduanya menjauh. Tiba ditempat yang dirasa sepi, Bulan menumpahkan tangisnya.
Ia membenci keadaan itu, tidak seharusnya hidupnya menikmati cinta dari orang lain sebagai seorang Sekar.
"Mengapa aku tidak terlahir dari keluarga yang penuh Cinta? apa salahku? mengapa aku dan Fatan terlantar, harus bekerja keras bahkan berbohong demi, agar bisa tetap hidup."
Bulan menutupi wajahnya. Ia malu berpura-pura menjadi istri orang yang sebenarnya tidak menginginkannya melain kan menginginkan Sekar.
"Apa yang harus ku lakukan? mana mungkin aku membiarkan Fatan sekarat jika aku pergi dari sini, tolong beri aku jalan Tuhan, aku tidak sanggup hiks...."
Bu Widya rupanya mengikuti Bulan dan ikut menangis meratapi kemalangan gadis itu. Bukan salahnya ada disana, sebab takdirlah yang telah membawanya ada di tempat saat ini.
"Bulan, tetaplah menjadi Sekar demi Ibu dan Angkasa," ujar Bu Widya tiba-tiba. Lekas Bulan menyeka air matanya dan berusaha tersenyum didepan Bu Widya.
"Aku bukan Sekar, Bu. Sekar tidak akan bisa di tukar dengan Bulan. Kami berbeda, Bu. Berbeda dalam hal apa pun." Bulan hendak pergi, tapi Bu Widya menahannya.
"Tidak, Nak. Ibu tidak menyalahkanmu, Ibu tahu, Sekar tidak bisa melakukan apa yang dilakukan Bulan sekarang. Mengorbankan hidupnya pada seorang adik yang pantas untuk kau benci karena terlahir dari rahim yang berbeda. Tapi Bulan tidak melihat itu, karena Bulan terlalu baik tidak dengan Sekar, Nak. Dia belum tentu bisa melakukan itu." Bu Widya merangkul tubuh gadis itu dan berharap Bulan tidak akan pernah berniat melarikan diri.
"Tapi, Bu. Melihat Cinta Ibu dan Angkasa pada Sekar, Bulan sakit, Bu. Kenapa Bulan tidak pernah mendapatkan itu dari keluarga Bulan sendiri." Bulan terus terisak-isak. Memori ingatan nya kembali pada beberapa tahun yang lalu dimana Ayah dan Ibu tirinya menganiaya dia tanpa belas kasih hanya karena memecahkan sebuah gelas hasil hadiah taruhan judi.
Ia di seret dan dipukuli layaknya bin*tang, Setiap hari tubuh mungil itu mengalami lebam karena tiada waktu yang terlewatkan tanpa tersentuh tangan kejam keduanya.
Tangis Bulan pecah, semuanya bagaikan duri dalam daging meski sudah lama berlalu tapi masih tetap tertancap didalam hati.
"Bulan, lupakan yang lalu. Karena Fatan membutuhkan sosok tegar seperti dirimu." Bu Widya mengusap-usap punggungnya. Bulan sudah seperti Sekar baginya. Tidak ada rasa benci sedikit pun pada diri gadis tersebut. Yang ada hanya Cinta dan belas kasih.
__ADS_1
Bulan mengurai pelukan dan mengamati wajah Bu Widya dengan tatapan sayu.
"Aku sudah biasa melewati masa sulit, Bu. Jangan khawatirkan aku...." Usai mengucapkan kata-katanya Bulan berlalu menemui Angkasa tapi saat hampir mendekat. Ia merasa kalau tubuhnya mulai gatal dan mengeluarkan bintik-bintik kecil.