
...๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ...
"Sayang...!" Panggilan Angkasa membuat perasaaan Bulan semakin tidak tenang. Ia takut Angkasa akan segera mengajaknya melakukan hal yang tidak dikehendaki.
Belum selesai berbicara semua tamu mulai lengang menghampiri mereka untuk berpamitan pulang. Karena menganggap acara sudah hampir selesai.
"Pak, kami permisi pulang dulu, terima kasih atas undangan nya!"
"Sama-sama, Pak. Saya yang harusnya bilang terimakasih karena Bapak sudah menyempatkan hadir di acara Ulang tahun istri saya," jawab Angkasa penuh rasa hormat.
"Tidak perlu sungkan, kami sangat senang bisa hadir ke acara ini," ujar koleganya.
"Baik, Pak. Semoga tidak mengecewakan."
"No, semua ini sangat memuaskan." Cukup lama berbincang, teman koleganya keluar.
Semakin lama suasana mulai lengang menyisakan beberapa anak buah dan teman-temannya termasuk Dokter Lintang. Bulan dan dia saling tatap, bermaksud akan mulai melakukan rencana mereka.
Maafkan aku Angkasa, aku yakin aku telah melakukan hal yang benar. Aku tidak ingin berzina dengan mu karena aku hanya ingin memberikan pada suamiku nanti...
Dokter Lintang bergerak mendekat dan menyapanya dan itu adalah awal dari apa yang sudah menjadi pilihannya.
"Hey, cantik!" Dokter Lintang menghampiri Angkasa dan Bulan yang hanya berdiri berdua mengamati Bayu dan kawan-kawan membereskan dekorasi.
Angkasa mengerutkan dahi, Ia berusaha mengingat wajah yang kini ada didepannya. "Bu_ bukankah kau adalah_?"
"Benar, aku adalah Dokter Lintang yang waktu itu hampir menyuntik istrimu yang tak lain adalah pacarku," ungkap Dokter Lintang santai sambil menyeringai picik.
"Apa?" Angkasa mencoba memahami penuturan Dokter Lintang. "Pacar, aku tidak salah dengar?"
"Iya, aku adalah pacarnya. Apa kau tidak sadar Angkasa, kami sudah lama menjalin hubungan ini, makanya kalau dia sakit pacarku ini akan mencariku, " yakin Dokter Lintang mencubit gemas pipi Bulan dan tentu saja serta merta membuat hati Angkasa meradang menepis tangan Dokter Lintang.
"Lancang...! Kau ingin aku mematahkan tulang , hah?" bentak Angkasa dengan mata melotot. Mencengkram erat kerah baju Dokter Lintang.
Dokter Lintang tertawa lalu mengalihkan tangannya. "Santai Bos, aku mengatakan yang sebenarnya padamu karena aku cemburu." Dokter Lintang sama sekali tidak merasa bersalah.
__ADS_1
"Sekar...!" Angkasa memegang pundaknya dan meminta penjelasan. "Katakan padaku, jika itu tidak benar kan? dia bohongkan sayang? Kamu gak mungkin berkhianat, aku tahu kamu sangat mencintai aku." Angkasa tak dapat membendung air matanya yang berderai jatuh.
"Ti_ tidak Sweety, aku ti_ tidak begitu." Bulan pura-pura membela diri.
"Ayolah Sekar, katakan pada suamimu jika cintamu itu sekarang hanya milik aku!" paksa Dokter Lintang.
Bug!
Angkasa yang tidak tahan langsung memukul wajah Dokter Lintang.
"Berhenti bicara Lintang, tolong jelaskan secara rinci. Aku tidak mau momen yang indah ini kalian rusak dengan pengakuan yang tidak masuk akal!" desak Angkasa. Raut wajah yang tadinya bahagia berubah seketika menjadi padam yang ada hanya suara emosi.
"Ada apa, Bos?"
Anak buahnya yang melihat menghentikan kegiatannya untuk mendekat tapi angkasa meminta mereka keluar.
"Kalian keluar dulu sekarang!" titah Angkasa tanpa menoleh.
"Tapi, Bos_."
"Keluar Bay, kalian juga!" paksa Angkasa. Ia tidak ingin ada yang tahu tentang keburukan istrinya.
"Sayang...!" Angkasa menghunus Bulan dengan tatapan menusuk. "Katakan, kalau pria bus*k ini hanya berbohongkan?"
Bulan membisu, Ia tidak akan menjawab itu.
"Sayang, tolong jawab. Kamu menyakiti aku, Sayang." Angkasa memohon agar Sekar tidak mengakui hubungannya dengan Dokter Lintang namun yang dia lihat Bulan tetap diam saja.
"Harusnya kamu sadar Angkasa, apa kamu tidak meragukan perubahan sikapnya. Dia itu tidak mencintai kamu lagi dan hanya mencintai aku," kata Dokter Lintang, untuk kesekian kali.
Angkasa menggeleng tak percaya. Sedang kan Bulan hanya menunduk Ia tahu jika ini adalah keputusan yang sangat berat tapi Ia telah melakukan hal yang benar dengan mengabulkan permintaan Fatan kala itu.
"Sayang, katakan padaku. Dia ngelantur kan, Sayang? ayo jawab, kamu jangan diam saja dong." Angkasa terlihat takut.
Berada di posisi pelik, Bulan tiba-tiba terhuyung pingsan lekas Dokter Lintang mendahului Angkasa menahan tubuhnya dan itu begitu mengejutkan.
__ADS_1
"Lintang, apa-apaan ini?" sentak Angkasa.
"Kenapa? dia kan pacarku. Aku tidak ingin dia terjatuh," jawab Dokter Lintang.
"Serahkan padaku karena dia adalah istriku!" Angkasa mengambil alih dan membopong Bulan.
"Angkasa, kamu tidak peduli jika dia berkhianat. Mata mu sudah buta ya, aku sedang menunggu jandanya sejak lama," delik Dokter Lintang.
Angkasa tidak menggubris, dan hendak meninggalkan Dokter Lintang.
"Tunggu Angkasa, aku sudah tahu segala kekurangan Sekar!" pernyataan Dokter Lintang lagi-lagi mengejutkan.
Angkasa menghentikan langkahnya dan menunggu kelanjutan perkataan Dokter Lintang.
"Kamu harus tahu, kalau Sekar itu MANDUL itu sebabnya aku menyukai dia sebagai pasangan se"s," jelas Dokter Lintang.
Angkasa berbalik dan menatap penuh ketidak percayaan.
"Jangan mengada-ngada, Dok."
"Buktikan saja apa perempuan itu masih suci atau tidak, aku adalah Dokter jadi aku tahu segala tentangnya?" tantang Dokter Lintang.
Hati Angkasa bergemuruh mendengarnya, Ia ingin sekali memukul wajah Dokter Lintang tapi posisinya yang masih menggendong Bulan dengan kondisi pingsan memilih mengabaikannya.
Sepanjang jalan menuju kamar, Angkasa memandangi wajah Bulan disertai amarah dan kebencian yang amat sangat besar. Ia tidak tahu mengapa sesuatu yang seharusnya dibayangkan indah tiba-tiba berubah jadi badai.
Benarkah itu, benarkan istriku sudah memberikan tubuhnya pada pria lain. Kenapa? apa kurangku selama ini?...
Memasuki kamar yang indah itu, Angkasa menidurkan Bulan yang belum juga sadarkan diri.
"MANDUL, apa benar istriku mandul? apa mungkin Dokter Lintang hanya sengaja berbohong karena ingin memisahkan aku dengannya?" Pikiran Angkasa berkecamuk, hatinya bagai teriris sembilu. Tidak menyangka jika wanita yang dicintainya tega berkhianat. Tapi untuk membuktikan omongan Dokter Lintang Ia harus menunggu Bulan sadar dan menanyai secara langsung.
Angkasa mendudukkan diri di sofa, matanya tak pernah lepas sedikit pun memandangi tubuh Bulan. Berniat membantunya untuk sadar pun tidak terpikirkan. Air matanya menetes. Ia berharap itu hanyalah sebuah mimpi buruk yang tidak sepantasnya terjadi di hari yang lama dinantikannya.
Bulan tidaklah pingsan hatinya menangis. Ia bisa mendengar jelas isakkan Angkasa. Sejujurnya Ia tidak pernah berniat sedikit pun menyakiti hati Angkasa tapi hanya itu jalannya agar Angkasa berhenti meminta nya berhubungan.
__ADS_1
Maafkan aku Angkasa, aku menghindari Dosa yang lain dengan membuat dosa yang baru. Maafkan aku juga Pak Dewok aku akan berusaha merubah Angkasa dengan jalan ku...
Angkasa tidak tenang, sebentar-sebentar berdiri dan kadang mondar-mandir. Terus mengacak-acak rambutnya yang rasanya ingin mengamuk. Namun, Ia tahan sebisanya.