Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 73 Berubah


__ADS_3

Oek... Oek...


Bulan membungkam mulutnya, Ia jadi tak enak hati sebab langsung menjadi pusat perhatian disana, yang mungkin beranggapan jika dia tidak punya Etika dan sopan santun.


Fatan kasihan, Ia mencoba mendekati Bulan tapi belum juga mulai bertanya, Pelangi menahan lengannya.


"Biarin aja, Tan!".


"Tapi, Kak_?"


"Stttt... nurut aja sama Kakak." Pelangi tidak suka Fatan terlalu sibuk mengurusi Kakak tirinya itu.


Bulan yang tak sanggup menahan diri akibat rasa mual, lekas menaruh piring kembali kemeja dan berlari ke toilet.


Bu Widya adalah salah satu tamu di ruangan tersebut. Ia yang sedang menyalami para tamu undangan lainnya dapat melihat Bulan dari kejadian merasa was-was.


"Bu Widya, sudah lama ya gak ketemu?" tanya salah seorang teman perempuannya.


"Iya, Bu. Biasalah sibuk. O ya, Maaf ya saya izin ke toilet sebentar!" ujarnya berpamitan.


"Iya, silakan Bu."


Bu Widya bergegas menyusul, Angkasa sendiri sampai heran melihat mertuanya itu terburu-buru.


(Bu Widya kenapa ya? kok kelihatannya gelisah begitu?)


Angkasa kembali kemeja makan, Ia sudah cukup lama membiarkan Bulan seorang diri. Tapi sesampainya disana Ia tidak melihat Bulan dimana-mana.


Angkasa menemukan Bu Arumi dan Pak Dewok yang sedang makan lalu menanyainya, tapi keduanya juga tidak tahu.


Fatan yang tak jauh dari sana, rupanya peka. Ia segera mendekat dan memberi tahukan jika Bulan sedang ke toilet.


Tepi diambang pintu, Bu Widya tidak langsung masuk. Ia memilih mengintip dari balik pintu yang rupanya tidak di tutup rapat oleh Bulan.


"Aduh, kenapa perutku jadi sering mual ya? apa mungkin aku sakit? badanku memang agak demam sih?" tanya Bulan seorang diri dan ucapannya itu sampai ketelinga Bu Widya.


Perempuan paruh baya itu menggeleng berulang-ulang, Ia takut apa yang selama ini Ia pikirkan benar-benar sudah terjadi dan itu akan menjadi momok yang akan sangat menakutkan didalam hidup gadis malang itu.


Mungkinkah perkiraan ku, benar? sekarang Bulan sudah mengandung benih dari rahim Angkasa? ya, mungkin Angkasa dan keluarga akan sangat bahagia dengan itu. Ta_tapi bagaimana jika suatu hari nanti Angkasa menyadari semua kebenaranya? Apa yang akan terjadi pada hidup gadis itu?...

__ADS_1


Sibuk memikirkan sesuatu, Bulan yang mendorong pintu terkejut saat tubuh Bu Widya jadi ikut tertabrak dibelakangnya.


"Aduh, Ibu. Maaf, Bulan tidak tahu," ucapnya tidak sengaja.


Ia tidak sadar, jika dilain tempat Angkasa tengah menguping ucapan mereka. Pemuda tersebut sangat syok mendengarnya, tatapan dingin ke satu arah terlihat jelas. Tidak percaya jika yang didengar nya kali ini benar-benar dari mulut Bulan sendiri.


"Nak, kamu kenapa?" tanya Bu Widya, takut. Ia mendekatkan tangannya ke perut Bulan.


Bulan yang mengikuti pergerakan tangan Bu Widya mengembangkan senyum kecilnya.


"Gak papa, Bu. Jangan khawatirkan aku. Cuma masuk angin biasa kok, atau malah salah makan tadi." Bulan sebenarnya punya pemikiran sama tapi untuk mengakuinya di depan Bu Widya itu sangat memalukan.


"Ayo, Bu. Kita kedepan lagi...!" Bulan merangkul Bu Widya keluar, bahkan melintasi Angkasa di balik tembok. Pemuda tersebut terdiam seribu bahasa, Ia masih menganggap itu hanya ilusi.


"Pengantinnya cantik dan ganteng ya Bu?" Bulan berusaha terlihat cuek dan tenang. Meski sebenarnya Bu Widya tahu kalau Ia sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Iya, Nak. Semoga mereka langgeng ya!"


Bulan mengangguk. Bola matanya terus tertuju pada pasangan pengantin, ada harapan yang tiba-tiba terbersit dibenaknya.


(seandainya aku bisa merasakan pernikahan seperti ini? itu pasti akan sangat membahagiakan) batin Bulan dalam hati.


"Bu, Angkasa sedang sendiri disana. Bulan kesitu ya!" pamitnya lebih dulu.


"Iya, Nak. Semoga kebahagiaan menyertaimu," jawab Bu Arumi setulus hati.


"Aamiin."


Gadis itu berjalan mendekat. Ia memutuskan menyapa kedua pasangan tersebut.


"Malam, Pak, Bu!" sapanya ramah.


"Malam, oh iya. Baru nyadar ya, Pa. Ini istrimu kan Pak Angkasa?" tanya Bu Wiwit kemudian.


Angkasa hanya mengembang kan senyum sekilas, suasana hatinya serasa kurang baik sekarang.


"Oh.. iya, Bu. Saya istrinya."


Bulan agak heran, gak biasanya Angkasa enggan mengakui siapa dirinya.

__ADS_1


"Ayo duduk, kita ngumpul sama-sama!" pinta Pak Guntara. Karena menurutnya itu adalah momen yang sangat langka. Bisa duduk bersama pengusaha muda seperti Angkasa dan juga istrinya.


"O ya, Pak Angkasa rasanya sudah hampir lima bulan kalian menikah, apa sudah ada tanda-tanda baby kalian akan segera launching?" tanya Bu Wiwit, iseng.


Bulan mengernyitkan dahi, Ia hanya tersenyum dan menunggu Angkasa sendiri yang menjawabnya.


"Doakan saja, Bu," jawabnya datar dan tidak berniat menoleh sama sekali kearah Bulan.


Ada apa dengan, Angkasa? kenapa dia terlihat sangat cuek dan dingin ya...


"O ya, Bu Sekar, Pak Angkasa. Kalian sudah pernah berbulan madu belum sih? pergi saja ke Swiss disana sangat indah pemandangannya?" tanya Bu Wiwit lagi dengan bangganya. Sebab Ia sudah bolak-balik kesana namun tidak juga merasa bosan.


Angkasa memaksakan diri untuk tersenyum, jujur saja Ia memang tidak pernah sekali pun membawa Bulan berlibur selama hidup bersama.


Itu karena banyak hal yang Ia pertimbangkan, baru-baru ini saja Bulan mengalami Amnesia bahkan sampai melukai perasaannya dengan berbohong jika Lintang adalah pasangan se*snya.


Bertambah pula banyak hal-hal aneh yang membuat nya selalu merasakan keraguan pada sosok Bulan. Walau sekuat hati Ia mencoba untuk menepis, perasaan itu tetap ada di dalam hatinya.


Bahkan tak sekali, dua kalinya Ia di buat aneh, bukan hanya satu atau pun dua orang Saja yang dengan beraninya menyebut nama istrinya dengan panggilan orang lain.


Sebagai seorang manusia, Ia merasa sedang dipermainkan dan itu harus Ia buktikan sendiri.


Bayangannya akan makam Sekar waktu Adi dan kawan-kawan membawa nya kesana. Selalu menganggu otaknya dan Ia masih tetap belum percaya.


"Sayang, kenapa kamu diem aja?" tanya Bulan lirih. Ia takut jika Pak Guntara dan istri menganggap hubungan mereka kurang harmonis.


"Mulutku lagi banyak sariawan," jawabnya asal. Angkasa beranjak dari duduknya dan berpamitan pergi diikuti Bulan yang makin bingung dibuatnya.


Perasaan Bulan berdetak, Ia tahu Angkasa sedang berbohong sebab saat dirumah tadi pemuda tersebut tidak mengeluh kan apa pun juga.


"Sayang, setidaknya jangan terlihat kaku. Tidak baik dilihat orang," ucapnya lagi sambil masih mengekor dibelakang Angkasa hingga pemuda tersebut menghentikan langkahnya.


Angkasa hanya menoleh, tapi tatapan itu membuat hati Bulan semakin bergetar. Sepertinya tatapan itu adalah tatapan kemarahan yang besar.


"Maaf jika aku melakukan kesalahan." Bulan menundukkan sedikit wajahnya karena Ia takut jika Angkasa sudah mulai memasang wajah dinginnya.


...🌺🌺🌺🌺...


Maaf jika ada typo, saya buru-buru...πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2