
Sudah beberapa hari sejak selesainya pengajian Dinda. Angkasa mulai berubah, Ia tidak akan pulang jika tidak dalam kondisi mabuk. Seperti hari itu, Ia bercengkrama dengan ketiga sahabatnya yang kembali akrab dengan Angkasa.
Mereka berjanji akan bertemu di bar, dan pertemuan itu membuat Angkasa cenderung melampiaskan kekesalannya dengan meminum Wine, bir dan semacamnya.
Tidak peduli dengan semua di sekitar, sebab dengan cara itu Ia merasa dapat melupakan segala masalahnya.
"Hai, Bro. Datang juga lo!" Putra, Adi dan Dino melakukan salam persahabatan.
"Iya lah, bosen dirumah. Gak ada yang bikin hatiku seneng. O ya, Udah mesen minum belom?" Angkasa duduk di kursi kosong yang tersisa.
"Baru juga nyampek, lo sabar aja dulu. Ni kacang goreng!" Putra memberikan satu bungkus makanan ringan tersebut di depan Angkasa. Pemuda itu langsung membuka dan menikmatinya.
"Sudah lama gak kayak gini sama kamu, Angkasa. Jarang-jangan kan kita bisa kumpul bareng."
Perkataan Adi, di balas Angkasa dengan senyuman.
"Itu karena aku sibuk dengan istriku. O iya, salah. Dia bukan istriku tapi aku terperdaya." Angkasa melanjutkannya dengan tersenyum miring.
Ketiganya menatap lekat kearah Angkasa, meski Ia menutupi masalah itu dengan rapat. Mereka sangat tahu jika lukanya begitu dalam dan itu sulit untuk disembuhkan.
"Sa, apa kamu tidak punya perasaan dengan cewek itu?" Seloroh Dino, dari dulu pemuda itu selalu berpikir dewasa dalam mengambil sikap.
"Hah, siapa maksudmu?" Angkasa pura-pura tidak tahu.
"Gadis mirip Sekar. Kalian sudah tiga bulan lebih bersama, saya yakin kamu punya perasaan istimewa terhadapnya," lanjut Dino lagi.
Mendengar itu, Putra rupanya tidak setuju.
"Tolong, jangan membuat pikiran Angkasa kacau lagi dong, Din. Biarkan saja dia terlepas dari cewek penipu itu."
"Maaf, Put. Tapi bukan tidak mungkinkan. Jika melupakan Sekar dan mencoba membuka perasaan untuk wanita lain Angkasa tidak menderita lagi."
"Alah, lebay lo. Angkasa hanya akan mencintai Sekar," cibir Putra.
Dino tersenyum menanggapi Putra, rupanya pemuda itu enggan melihat Angkasa terlepas dari masa lalu.
"Masa lalu tidak akan kembali. Angkasa harus move_on dan melanjutkan hidup. Aku setuju dengan Dino kalau Angkasa harus membuka diri." Adi juga mengeluarkan pendapatnya karena itu akan sangat membantu Angkasa.
Angkasa mengacuhkannya dan lebih memilih pergi memesan Wine. Setelah mendapatkan apa yang dia mau. Pemuda itu langsung meneguknya.
"Angkasa, tolong jangan minum terus." Dino kembali mengingatkan.
"Kalian tenang saja, aku tidak akan kenapa-napa hanya karena menghabiskan satu botol ini. O ya, aku harap kalian tidak usah lagi memikirkan nasib aku selanjutnya. Bisa jadi Jomblo itu lebih menyenangkan dan bebas. Iya kan hahaha....."
__ADS_1
Angkasa meneguk lagi wine ditangannya langsung dari botol. Sebab Ia tidak puas hanya dengan gelas mini yang disediakan pemilik Bar.
Tak lama larut dalam kesibukan, beberapa wanita menghampiri mereka. Tentu mereka adalah para wanita sewaan yang menginginkan uang dari pemuda yang butuh ketenangan.
"Halo, Sayang. Apa kamu butuh teman mengobrol." Gadis seksi itu melingkarkan tangannya di leher Angkasa lalu mendaratkan satu kecupan di pipi pria itu.
Angkasa menoleh dan tersenyum. Sayangnya Ia tidak tertarik lagi dengan wanita selain istrinya.
"Kamu ajak saja yang lain, saya butuh sendiri," ujarnya menolak.
"Oh... gitu ya. Oke... mereka bertiga menarik Putra, Adi dan Dino kelantai Disco dan menikmati suka cita sebagai pria yang belum memiliki pasangan.
Angkasa mengamati mereka dan tersenyum smart. Bagaimana juga Ia cukup terhibur di tempat itu.
...🏵️🏵️🏵️🏵️...
Di tempat lain, Bulan yang tampak sibuk melayani pengunjung tamu kembali bertemu dengan Akhsan.
"Repot banget ya kelihatannya," celoteh pria itu.
Bulan tersenyum. "Aku harus bersemangat, bukankan mau sukses butuh perjuangan," ucapnya sembari menoleh kearah Bu Rina yang menyukai cara kerjanya.
"Ow... Oke, aku mau mengobrol sebentar denganmu."
"Emangnya kenapa, kalau aku memilih kamu." Akhsan memilih tempat duduknya dan sekali lagi meminta Bulan mendekat.
"Temani saja Bulan, biar mereka yang handle," ucap Bu Rina memberi izin.
"Oh... baik, Bu."
Bulan duduk di depannya.
"Mau ngobrol soal apa?" ucapnya agak sinis.
"Em... kamu pernah gak sih di jodohin?" Pertanyaan itu sontak membuat Bulan tertawa.
"Emangnya kenapa, ha? kamu di jodohin sama orang tua kamu?" Tawa itu seolah mengejek Akhsan yang diam-diam mengaguminya.
Akhsan menghela nafas panjang. "Sebenarnya aku tidak menyukai perjodohan, tapi entah mengapa Papa ku sangat ingin melihat aku segera menikah," ucapnya sedikit miris.
"Kenapa gak cari pacar?" sahut Bulan sesukanya.
"Bukan belum, tapi aku belum menemukan yang cocok," jawab Akhsan.
__ADS_1
Di Bar...
Angkasa terlihat sudah mabuk, Ia yang sudah cukup lama ada disana sangat ingin beristirahat akan tetapi untuk berjalan saja Ia kelelahan.
Melihat Angkasa melenggang pergi ketiga sahabatnya bergegas mengejar.
"Angkasa, tunggu. Kamu mau kemana?" tanya Adi.
"Pulang, aku lelah," jawabnya asal.
"Kalau begitu biar kami antar," tawar Dino. Ia memapah Angkasa kemobil pria itu. Diikuti oleh Putra dan Adi yang menggiring dari belakang.
Melihat kondisi Angkasa, Dino terenyuh. Karena cinta sahabatnya banyak mengalami hal yang dulu sama sekali tidak ada dalam dirinya.
"Din, kenapa bengong. Ayo jalan!" ucapnya terus mengoceh tanpa henti. "Aku paling benci menunggu, sesuatu yang tidak akan datang lagi," imbuhnya. Sesekali Ia terbatuk-batuk. Pasti itu pengaruh alkohol tersebut.
"Iya, Sa. Ini kita jalan."
Dino menyalakan mesin dan melajukan mobil Angkasa dengan kecepatan sedang.
Di belakang, Adi terus memperhatikan wajah Putra yang lebih sering di tekuk di depan mereka.
"Lo kenapa, Put? akhir-akhir ini, Lo sangat terobsesi pengen Angkasa menjauhi gadis mirip istrinya itu?"
Putra hanya menoleh sebentar kearah Adi tapi tidak memberikan jawaban sepatah kata pun. Seakan menunjukkan jika Adi tidak perlu tahu apa pun soal perasaannya.
Tepat di depan rumah makan yang mereka lintasi, tiba-tiba mobil Angkasa mogok.
"Din, kalau nyetir yang bener kenapa?" celoteh Angkasa lagi masih belum sadarkan diri.
"Gak tau, Sa. Sepertinya mobil ini mogok." Dino segera turun dan mengecek kondisi mobilnya. Benar saja mesin depan Angkasa mengeluarkan asap.
"Aduh, ini mah mesinnya kepanasan. Bentar ya aku mintak air ke rumah makan itu dulu, mungkin saja jual."
Dino masuk dan memesan tiga botol mineral pada seorang penjual yang ternyata adalah Bu Rina.
"Berapa, Bu?"
"Rp 21000..., mobilnya mogok nak?" tanya Bu Rina penasaran.
"Iya, Bu. Mungkin temen saya lupa mengecek mesin mobilnya."
Angkasa yang lelah menunggu. Akhirnya turun dari mobil dan ikut menyusul Dino. Meski sempoyongan Ia nekat juga. Tapi belum juga masuk kedalam rumah makan, Angkasa terpatri pada sosok Bulan yang sedang mengobrol dengan seorang pria dengan sangat bahagia.
__ADS_1