Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 35 Di bawa Pergi


__ADS_3

...___________________...


Membaca itu sebaiknya sambil tiduran, kalau ngantuk tinggal merem. Tapi ingat ya kalau hpnya jatuh ngenain muka, aku gak tanggung. Kabur Ah...😝😝😝


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Pagi-pagi sekali, sekitar pukul lima lewat dua puluh menitan. Suara ponsel Pak Dewok yang ada diatas nakas menggema berulang-ulang. Suara itu terus menjerit-jerit dan berharap Tuannya akan segera datang untuk menggapainya.


Pak Dewok baru saja kembali selepas melaksanakan olah raga rutin di dekat kolam renang. Ia masuk ke kama dan menutup pintu, disambut riang oleh dering ponselnya.


Pak Dewok seketika membulatkan matanya, Ia tidak percaya jika telpon tersebut datangnya dari rumah sakit Fatan dirawat. Cepat-cepat Pak Dewok mengangkat dan ingin mengetahui kabar anak itu.


"Pagi, Sus. Ada kabar apa?" Pak Dewok langsung pada intinya.


"Pagi, Pak. Mohon beri tahukan Kakaknya Fatan tadi jam 4 dia Anfal lagi. Dokter menyarankan sebaiknya Fatan harus segera dirujuk kerumah sakit luar negeri yang memiliki alat-alat medis lebih memadahi," jawab suster itu.


"Apa? sebenarnya kondisi Fatan seperti apa, Dok?" Pertanyaan itu sontak mengundang perhatian Bu Arumi yang ikut masuk kedalam sana.


"Kankernya bertumbuh lagi, masih kecil-kecil, Pak. Oleh karena itu Fatan perlu perhatian Khusus," jelas suster lagi.


"Baiklah, kami akan segera membawa Fatan tolong katakan pada Dokter untuk persiapkan segalanya!"


"Baik, Pak."


Pak Dewok yang sudah mengakhiri Panggilan, bingung. Tapi tidak berpikir panjang, Ia segera mengemasi barang-barang yang diperlukan untuk pergi.


"Ayah...!" tatapan Bu Arumi berkaca-kaca dan penuh rasa sedih.


"Ayah harus pergi, Bu. Keselamatan bocah itu juga keselamatan Angkasa," jawab Pak Dewok, tidak juga menghentikan kegiatannya.


"Ibu, mau ikut," ujar Bu Arumi tiba-tiba membuat Pak Dewok tersentuh dan menoleh kearah Bu Arumi.


"Ibu yakin?"


Bu Arumi mengangguk. "Saya tau rasanya kehilangan, Yah. Bulan sudah seperti anak Ibu," kata Bu Arumi menambahi.


Pak Dewok langsung memeluk istrinya. "Terima kasih, Bu. Maafkan Ayah jika ini adalah keputusan Ayah."

__ADS_1


"Gak papa, Yah. Semoga apa yang kita lakukan adalah pilihan yang tepat. Walau pun aku sendiri takut Angkasa akan merampas kesucian gadis itu," tebak Bu Arumi asal.


Pak Dewok mematung, bukan lagi akan merampas. Ia justru meminta Bulan memberikan lebih dari itu dan jika mengharapkan keinginanya terwujud caranya adalah berusaha mengupayakan kesembuhan Fatan.


"Lupakan, Bu. Menyelamatkan Fatan juga adalah bentuk kemanusiaan kita. Lebih baik Ibu berkemas!"


Keduanya sudah menyiapkan dua buah koper dan menariknya berjalan kedepan.


Bulan dan Angkasa yang keluar kamar bermaksud hendak sarapan terkesima menatap apa yang mereka bawa.


"Ayah, Ibu, kalian mau kemana?" Angkasa mendekat dan memperhatikan dengan seksama.


"Ayah dan Ibu ingin menjenguk Pamanmu diluar negeri. Anaknya Arfian kan lumpuh jadi kami diminta untuk datang, belum lagi Ayah ada urusan disana," jawab Pak Dewok beralasan.


"Ta_ tapi bagaimana dengan ULTAH Sekar, Yah, Bu?" Angkasa nampak kecewa.


Pak Dewok menepuk pundak Angkasa, berharap Angkasa ikhlas menerima keputusan mereka.


"Tetaplah merayakannya tanpa kami, Nak. Doa kami akan selalu menyertai kalian berdua. Mohon mengerti, saudara Ayah cuma Pamanmu. Dia adalah bagian hidup Ayah."


"Kenapa dadakan sih, Yah." Jelas sekali jika raut wajahnya menunjukkan ketidak relaan.


Angkasa menoleh kearah Bulan. "Jangan marah ya?" ujarnya.


Bulan menatap lekat wajah Pak Dewok dan Bu Arumi. Sejujurnya, dia tahu tujuan utama kedua pasangan patuh baya itu bahkan rasanya ingin ikut mendampingi. Akan tetapi, dia harus rela melepas Fatan yang sedang berjuang hidup untuknya.


"Gak papa kok, Yah, Bu. Sekar mengerti, sebuah pesta hanya sebatas bersenang-senang tapi kebahagian sesungguhnya adalah saat kita melihat keluarga kita yang lain tersenyum." Bulan menahan kalimatnya sebentar lalu melanjutkan lagi.


"Bulan tahu banget, bagaimana rasanya takut kehilangan orang yang kita sayang." Kata-kata itu terlahir dari hatinya yang paling dalam.


Pak Dewok dan Bu Arumi memahami itu. "Selamat berpesta!" ucap Pak Dewok.


Keduanya akhirnya mencium punggung tangan keduanya sebelum mereka benar-benar pergi.


Setelah sepi, Angkasa merangkul Bulan. Ia bermaksud mengajak masuk.


"Ayo sarapan!"

__ADS_1


Tidak ada penolakan, keduanya berjalan beriringan ke meja makan dan menikmati sarapan pagi.


"Kita kerumah sakit!" kata Angkasa lagi, membuat Bulan menghentikan kunyahan nasi dimulutnya.


"Aku mau mengecek kondisinya, dan jika diharuskan. Kita akan membawa Fatan ke luar negeri setelah acara ULTAH mu selesai," lanjut Angkasa lagi.


Bulan tidak menjawab, Ia juga ingin melepas kepergian Fatan sebelum dibawa ke luar negeri.


Beberapa waktu berlalu, keduanya tiba di rumah sakit dimana Fatan dirawat. Benar saja, beberapa perawat sibuk memindahkan Fatan kedalam ambulans.


Angkasa tercekat, dia merasa belum melakukan pada anak itu. Tapi malah sudah akan dibawa pergi.


"Tunggu, Pak. Pasien mau di bawa kemana?" tanyanya ingin tahu.


"Ada pihak dinas sosial datang dan bersedia memberikan bantuan untuk Fatan. Mereka tahu, Fatan anak berprestasi disekolah," jawab salah seorang dari mereka.


"O ya, siapa yang menemaninya?" tanya Angkasa lagi.


"Ada, dua orang wakil dinas, Mas," jawab perawat itu lagi.


Sedang Bulan beralih menghampiri Fatan yang juga belum sadarkan diri. Tidak tahu apa yang akan terjadi pada anak kecil itu setelahnya. Ia tidak yakin masih bisa melihat Fatan sehat lagi.


Diamati nya tubuh mungil Fatan yang penuh dengan berbagai alat dan selang dari balik kaca mobil. Air mata tak henti-henrinya berderai. Hatinya sakit. sebagai Kakak, Ia ingin selalu ada di dekatnya tapi keadaan harus menjauhkan mereka.


Fatan, berjanjilah dengan Kakak jika kamu akan kembali dengan nafasmu.


Bulan dapat melihat jelas, meski koma air mata Fatan mengalir dari bola matanya yang terpejam.


"Dek, kamu dapat merasakan keberadaan Kakak!" teriak Bulan histeris. Pintu belakang sudah ditutup dan bersiap melaju.


"Dek, cepat sehat Dek. Kakak akan menunggu mu pulang. Kakak rindu lihat kamu bisa bermain lagi."


Angkasa yang melihat secepatnya merengkuh Bulan, mobil itu sudah mulai berjalan meninggalkan pelataran rumah sakit.


"Fatan, Kamu harus kembali dengan selamat!" teriak Bulan lagi, tidak peduli ada banyak orang yang melihat kearah mereka.


"Tenang, Sayang. Fatan pasti bisa mengalahkan penyakitnya. Dia akan datang memanggil namamu." Hanya itu yang bisa Angkasa katakan untuk mencairkan kesedihan Bulan.

__ADS_1


"Tapi aku takut, Sweety."


Bulan tenggelam dalam perasaan yang tidak menentu, seolah semua seperti sangat gelap.


__ADS_2