
"Ini keterlaluan, Pak. Sangat tidak adil buat Bulan," ucap Bu Widya lagi, kurang setuju. Tentu saja masa depan Bulan akan suram nantinya.
"Merugi?" cecar Pak Dewok. "Aku sudah menghabiskan hampir 5 M apa itu juga bukan merugi Bu Widya?" Jawab Pak Dewok dengan nada lagi-lagi menyakitkan.
"Anda sungguh keterlaluan, Pak. Putriku yang sudah matipun tidak akan menyukai ini."
Bu Widya yang malas memberi nasehat memutuskan meninggalkan rumah itu tanpa permisi. Ia menganggap semua keluarga dirumah itu sudah mulai gila semua.
Pak Dewok dan yang lainnya mematung, terutama Bulan matanya sudah sembab oleh air mata.
"Bulan kekamar dulu, Yah, Bu!" Gadis tersebut tidak mau memperpanjang masalah. Ia hanya bisa menguatkan hati untuk pasrah menerima nasibnya dirumah itu.
Sesampainya di kamar, Bulan langsung menutup pintu dan menguncinya. Ia menumpahkan air mata yang sempat tertahan sejadi-jadinya.
Perkataan Pak Dewok sebenarnya sangat menyakiti hati, itu artinya kalau pun nanti Ia berhasil hamil. Maka Ia harus siap dipisahkan dengan darah dagingnya sendiri.
Bulan mengusap perutnya yang masih rata, ada rasa takut jika sesuatu yang hidup sudah tumbuh di rahimnya.
"Apa kah aku sanggup menjalani ini? bagaimana bisa AYah Dewok berpikir memisahkan aku dengan anakku sendiri?"
...BEBERAPA MINGGU BERLALU...
Sejak kejadian itu, Angkasa dan Bulan kembali menjalani hari-hari mereka seperti biasanya. Angkasa yang sudah mulai curiga pada Bulan masih saja belum mau menerima kebenaran jika Bulan bukanlah istrinya Sekar.
Sedangkan di rumah lain, Pelangi yang awalnya kesulitan mendekati Kiara akhirnya berhasil mengakrabkan diri dan itu sangat membantu Dokter Lintang untuk mengurus Kiara.
Malam itu tepat Malam minggu. Keluarga Angkasa dan Dokter Lintang sama-sama di undang di sebuah acara pernikahan putri dari seorang Pembisnis ternama di kota itu.
"Pelangi...!" teriak Dokter Lintang. Ia sudah lelah menunggu Pelangi mendandani Kiara yang akan diajaknya kesana.
"Haduh, masih saja belum berubah. Kapan laki-laki itu bisa sopan saat memanggilku!"
Beberapa waktu dirumah itu Ia sudah diajarkan untuk ekstra sabar guna membentengi diri dari suara bising milik Dokter Lintang setiap pria itu ada dirumah.
"Ayah, Kiara sudah siap!" Gadis kecil itu datang bersama Pelangi diiringi senyum imutnya. Ia terlihat sangat cantik memakai gaun cinderella yang sedikit di lingkari pernak pernik di bagian pinggangnya.
"Wah, anak Papa cantik sekali!" puji Dokter Lintang senang plus takjub akan penampilan putri kecilnya. Tidak disangkanya Pelangi handal juga mengurus Kiara.
"Iya, dong Pa. O ya Pa, kita pergi berdua saja ni? kenapa Tante cantik gak diajak sekalian?"
__ADS_1
"Emangnya kenapa? Biarin aja dia dirumah," ujar Dokter Lintang, sembari melirik kearah Pelangi yang mematung.
"Kasihan tau, Pa. Tante gak punya temen, Kiara kan sayang banget sama Tante cantik," mohon bocah itu lagi.
"Em... gimana ya? Papa gak punya gaun buat Tante cantik. Gimana dong?" Dokter Lintang memang tidak berniat mengajak Pelangi itu sebabnya dia tidak menyiapkan apa-apa.
"Ih, Papa jahat. Kiara gak jadi ikut lah." Gadis kecil itu berlari kekamar. Ia menangis marah karena Dokter Lintang sudah membuatnya kecewa.
"Kiara, Kiara, keluar, Nak. Papa minta maaf, tapi kita gak punya waktu buat beli baju untuk Tante Cantik!" teriak Dokter Lintang yang mengejarnya sampai didepan pintu bersama Pelangi.
"Iya, Nak. Tante gak papa kok gak ikut. Kan Kiara berdua sama Papa," imbuh Pelangi pula.
"Gak, Kiara gak mau pergi. Kiara maunya sama Tante Cantik aja. Huhu....." sahut Kiara dari dalam.
Gadis kecil tersebut melihat beberapa paper bag pembelian Dokter Lintang beberapa waktu lalu. Tapi selama itu pula Kiara sayang untuk membukanya.
Kiara pun beranjak dari duduknya mengabaikan panggilan Dokter Lintang dan Pelangi untuk memeriksa apa saja isi didalamnya, sampai Ia terpaku pada sebuah paper bag yang terlihat berkilauan saat terpantul lampu.
"Ini apa ya? mungkinkah gaun ini buat Kiara?"
Gadis itu mengeluarkan isinya, dan luar biasanya gaun tersebut muat untuk orang dewasa.
Sesaat kemudian, senyum gadis kecil itu mengembang. Ia punya ide dengan gaun tersebut. Gadis itu berlari ke pintu dan membuka nya.
"Papa, Kiara punya sesuatu?"
"Apa, Nak?"
"Papa pasti sengaja ya beliin ini buat Tante cantik tapi Papa malu memberikannya!"
Dokter Lintang menoleh kearah Pelangi. Lalu berlutut didepan Kiara.
"Maksud Kiara apa?"
"Ini liat, ada baju bagus banget di paper bag mainan Kiara." Bocah polos tersebut menunjukkannya pada Lintang dan Pelangi.
Keduanya ter perangai.
"Kok bisa? apa kamu membeli dua gaun kemaren?" tanya Dokter Lintang pada Pelangi.
__ADS_1
"Enggak, Dok. Hanya itu saja," jawabnya pada dress selutut yang Ia perlihatkan pada Dokter Lintang waktu itu.
"Udah jangan banyak mikir, cepet pakek ini Tante, terus dandan yang cantik supaya kita pergi!" ucap Kiara.
"Ta_ tapi?" Pelangi takut Dokter Lintang tidak setuju.
"Pakailah," jawab Dokter Lintang kemudian.
Kiara dan Pelangi nampak antusias, mereka segera kekamar untuk bersolek.
Di kediaman Pak Dewok, Angkasa sudah tampil memukau. Ia memakai pakaian formal yang biasa dikenakan orang keacara-acara resmi. Sedangkan Bulan masih membenahi rambutnya di depan cermin.
Ia yang mau memoles wajahnya, tiba-tiba merasa mual saat bauk bedak tersebut menerpa hidungnya.
Oek...
"Aduh kenapa aku tiba-tiba mual ya?"
Angkasa yang berdiri tak jauh dari sana langsung menoleh ke arah Bulan. Ia dapat mendengar suara yang baru saja terjadi.
"Sayang, kamu kenapa?" Angkasa mendekati Bulan karena khawatir.
"Gak papa, aku mual sedikit dengan bauk bedak ini!" tunjuknya pada Angkasa.
"Itu bedak yang biasa kamu pakaikan?" tanyanya menyelidik.
Bulan mengangguk. Tapi untuk tetap bisa mendampingi Angkasa ke acara tersebut Bulan harus nekat memakainya.
Kenapa mual sekali? bagaimana kalau Angkasa tau dan melarangku ikut?...
"Sayang, kamu gak papa. Kalau gak kuat, kita gak perlu pergi kesana." Benar dugaan Bulan, Angkasa pasti akan mengatakan itu.
"Enggak, papa kok. Mungkin karena aku mendekatkannya di hidung tadi makannya langsung mual," jawab Bulan, masih dengan kebohongannya.
Angkasa tidak mau beralih, Ia memilih menunggui Bulan sampai selesai. Meski tidak percaya diri, Bulan harus bisa bersikap layaknya seorang istri. Sampai pada saat Ia memakai lipstik beberapa kali agar terlihat rata. Angkasa malah protes.
"E... eh... Sayang. Tunggu dulu, lipstikmu ketebalan, aku tidak mau sampai ada lelaki lain yang terpesona melihat bibirmu yang seksi ini."
Angkasa segera mengusap bibir Bulan dengan Ibu jarinya perlahan-lahan. Karena bibir dan wajah Bulan adalah candu untuknya. Ia tidak ingin orang lain ikut menikmati kesempurnaannya.
__ADS_1
Bulan tersenyum, Ia terus menatap bola mata bening milik suaminya dengan lekat. Semakin hari Ia semakin menyukai perhatian dan ketulusan pria didepannya.