Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 38 Heart


__ADS_3

...🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️🏡️...


...🍁🍁🍁🍁...


...πŸŒ•πŸŒ•πŸŒ•πŸŒ•πŸŒ•πŸŒ•πŸŒ•πŸŒ•πŸŒ•πŸŒ•πŸŒ•...


Cahaya senja kian meremang berangsur berubah berganti gelap yang menjemput sang malam. Cahaya Bulan yang berbentuk bulat sempurna mulai menghiasi Angkasa, secerah langit biru di taburi ribuan bintang-bintang yang menyebar memilih tempat terbaiknya sendiri. Memanjakan sang pemilik mata. Bagi yang berkenan ingin merasakan ke sempurnaannya.


Kedua sejoli itu, melangkah memasuki sebuah tempat wisata yang di datangi banyak pengunjung dari berbagai daerah. Sengaja hiburan itu dibuat pada malam hari karena diperuntukan untuk mereka yang sedang menikmati suasana berpasang-pasangan. Baik yang masih belajar mengenal cinta, bertunangan, pengantin baru maupun pasangan lama ada disana.


Angkasa terus berjalan merangkul Bulan menikmati panorama lampu seperti disko maupun gemericik air pancuran yang dibuat seindah mungkin menambah daya tarik sendiri bagi penikmatnya.


Sesekali tersenyum melihat pasangan muda mudi duduk mengobrol, berbicara pun terlihat malu-malu.


"Jadi ingat pertama kali kenal kamu," kata Angkasa tiba-tiba. Dulu Ia bertemu Sekar disebuah pesta pernikahan sahabatnya saat umur tujuh belas tahun. Cukup sulit mendapatkan perhatian Sekar kala itu. Bahkan saingannya berasal dari keluarga berada.


Materi keluarga nya tak sebaik sekarang. Meski berhasil mendapatkan balasan cinta dari Sekar, tak ayal membuat Angkasa mundur. Ia takut, kelak jika menikahi gadis itu. Dia tidak mampu memberikan kehidupan yang layak.


Sampai pada suatu ketika, Angkasa dinyatakan lulus sekolah terbaik di Sekolah menengah atas. Menemui Sekar dengan perasaan tak karuan. Dalam hati, Angkasa ingin merubah hidup dan berharap Sekar bersedia mengabulkan keinginannya sebelum pergi.


"Sekar, aku tidak tahu apa yang ada didalam hatimu untukku. Tapi jika kamu mencintai aku, kamu harus sanggup menungguku kembali dalam jangka waktu lima tahun."


Perkataan itu terasa konyol, tapi Angkasa benar-benar melakukannya. Sesekali tersenyum melirik Bulan yang tidak mengerti apa yang ada dipikiran Angkasa.


Lima tahun berlalu, waktu itu. Angkasa membuktikan ucapannya. Ia berhasil lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan layak hingga bisa membangun perusahaanya sendiri.


Selama itu juga, Ia tidak yakin jika Sekar akan setia. Bisa juga malah sudah menikah dan punya anak.


Hingga yang tidak disangka pun terjadi, Angkasa mendapat secarik undangan untuk menghadiri pesta ULTAH Sekar. Ia sendiri tidak tahu darimana Sekar tahu jika Ia sudah berada di tanah air. Ia yang memutuskan datang ke acara itu mendapatkan kejutan yang tidak pernah Ia bayangkan sekali pun.


Gadis pujaannya itulah yang terang-terangan mengungkapkan perasaanya di depan seluruh teman-teman mereka. Jika Ia masih setia pada Angkasa dan hanya akan mencintai Angkasa. Seberapa lama pun Angkasa meminta Ia menunggu, gadis itu akan bersedia menunggu.


Sejak saat itu, Angkasa juga berjanji hanya akan mencintai Sekar didalam hidupnya. Ia sangat takjub akan kesetiaan Sekar terhadapnya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Angkasa. Sampai detik ini, rasa itu masih aku simpan untukmu seorang. Lima tahun tidak sebentar, Sweety. Tapi entah mengapa ada sesuatu disini yang meminta aku untuk selalu menunggumu."


Tak terasa, air mata Angkasa meleleh mengenang kalimat itu dua tahun lalu dari mulut kekasihnya. Tak pernah sekali pun Ia mengira akan mendapat kan cinta yang besar pula dari wanita yang dicintainya.


Angkasa langsung merengkuh Bulan, seakan takut kehilangan. Bulan yang tidak peka, hanya bisa pasrah.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah setia menungguku selama itu. Karena kesetiaan mu, cintaku semakin besar dan semakin bertumbuh untukmu. Bahkan aku tidak sanggup jika harus jauh darimu."


Ucapan Angkasa mendadak menikam perasaan Bulan. Pasti ada sesuatu yang luar biasa pernah Ia ingat pada sosok Sekar hingga tiba-tiba mengucapkan itu padanya.


Bola mata indah gadis berusia dua puluh satu tahun itu, ikut berkaca-kaca. Apa pun yang pernah Angkasa lewati dengan Sekar. Tentu sesuatu yang sangat melekat di dalam dirinya.


Angkasa, aku tidak tahu seberapa dalam cinta mu pada Sekar dan apa saja yang kalian lewati sampai-sampai Pak Dewok rela mengeluarkan uang yang sangat besar untuk Fatan.


Tapi aku dihadapkan dengan pilihan yang sulit, sekarang. Bagaimana mungkin aku yang bukan siapa-siapa kamu akan memberikan seorang anak.


Lalu bagaimana dengan ucapan Fatan saat dia koma, dia tidak rela aku melakukan itu. Apa yang harus aku lakukan? Kakak ingin melihat kamu selamat Fatan...


"Kenapa kamu menangis?" Angkasa tidak ingin melihat ada air mata sedikit pun disana.


"Sweety...!" Bulan balas memukul pelan dadanya. "Kamu saja menangis, kenapa aku tidak boleh?" ucap Bulan manja.


"Hey, aku menangis bukan bersedih. Tapi itu bentuk rasa syukurku telah dicintai oleh wanita sehebat kamu, Sayang." Angkasa menempelkan kedua kening mereka dengan sangat dekat, Bulan bisa melihat jika bola mata Angkasa menunjukkan seberapa tulus dan jujurnya perasaan itu. Saat seperti ini, jantung Bulan selalu saja berdegup kencang.


Perasaan ini? kenapa muncul lagi?


Bulan berusaha menenangkan diri, Ia tidak ingin Angkasa tahu ada sesuatu yang timbul didalam hatinya. Sesuatu yang baru pertama kali Ia rasakan.


Cup!


Bibir keduanya menempel. Tidak ada yang dicanggungkan, sebab tempat itu sudah lumrah terjadi adegan seperti yang mereka lakukan.


"Sweety, malu dilihat orang." Bulan menarik wajahnya menjauh. Ia harus bisa menyembunyikan perasaan aneh itu dari Angkasa.

__ADS_1


Angkasa menggenggam tangan Bulan dan menciumnya lagi cukup lama.


"Aku mencinta mu," ujarnya, tanpa lelah sedikit pun. Menanti jawaban dari mulut Bulan. "Sayang, tolong kali ini saja balas ucapan ku!" mohon Angkasa.


Bulan meragu, Ia selalu saja dibingungkan akan yang sesuatu yang sebenarnya sepele tapi memberatkan dirinya.


"Sayang, ayolah. Aku ingin mendengar kamu mengulang perkataan mu saat malam ULTAH mu dua tahun lalu, dimana setelah lima tahun berpisah kita dipertemukan lagi."


"A_ aku...." Bulan menjeda kalimatnya. Masih takut untuk membalas kalimat tersebut.


"A_ aku...."


Angkasa yang tidak sabar menunggu mengerutkan dahi. "Apa kamu sudah tidak mencinta aku?" pertanyaan itu sontak membuat Bulan membulatkan kedua matanya.


"Ti_ tidak, iya. Aku juga mencintai kamu suamiku," jawab Bulan akhirnya.


Angkasa sangat suka itu, Ia langsung mengangkat tubuh Bulan dan memutar-mutar nya.


"Ahk, Sayang. Aku pusing!" Bulan bisa merasakan kebahagiaan yang sama.


"I Love You, Sekar. I love you, istriku!" teriak Angkasa berulang- ulang agar seluruh dunia tahu. Jika Cintanya hanya untuk Sekar seorang.


Prok! Prok! Prok!


Tepukan riuh dari orang-orang disana, menambah aura semakin bergejelok didalam dada keduanya. Mereka tidak malu, dan akan mengumbar kemesrahan itu dimana pun mereka berada.


Cukup puas berputar, Bulan merasa pusing.


"Cukup, Sayang. Aku bisa mabuk nanti."


Angkasa menurut dan menurunkannya.


"Kau dengar itu? mereka saja mendukung hubungan kita?"

__ADS_1


__ADS_2