Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 23 Tak Sadar


__ADS_3

Embun-embun pagi masih terlihat menempel pada para dedaunan. Angkasa mengerutkan dahi hingga mengundang rasa tak nyaman.


"Sayang, kamu memanggil namu ku lagi?" Angkasa nampak tidak suka.


Bulan tersadar dan langsung membekap mulutnya. "Aduh, maaf Sweety aku terkejut," kata Bulan. Menggantungkan celana terakhir di atas tali lalu menggandeng tangan Angkasa.


"Eh, tunggu dulu!" Bulan menahan tangannya dan berbalik.


"Ada apa?" Angkasa berpikir kalau Bulan akan memberinya hadiah pagi seperti waktu mereka masih berpacaran.


"Bukan apa-apa, dasi mu miring," tukasnya, segera membenahi sedikit saja.


Angkasa menunduk memperhatikan tangan sang istri kini berada di dadanya. Nafas mereka pun saling bertabrakan.


"I love you," ucap Angkasa. Bulan hanya tersenyum, lalu berlari kecil menjauhinya.


"Sekar, kemaren kau melupakan sesuatu!" teriak Angkasa.


Bulan kembali berbalik. "Soal Apa?"


"Makan siang," jawabnya mengingatkan.


"Maaf, baiklah nanti siang aku akan mengantarnya untukmu." Bulan sudah tenggelam dibalik pintu kamar mereka.


"Aku akan menunggumu, Sayang," gumam Angkasa.


Pemuda tampan tersebut kembali kemeja makan. Pak Dewok dan Bu Arumi mengamati wajah nya secara seksama.


"Kenapa Ayah dan Ibu memandangku begitu?" Angkasa menggeret kursi dan duduk. Membalikan piring yang tadinya dalam posisi terlengkup.


"A_ apa semalam kalian habis_?" Pak Dewok ragu lalu mengurungkan pertanyaannya.


"Maksud Ayah Malam pertama," tebak Angkasa. "Apa Ayah dan Ibu juga tidak sabar untuk menggendong cicit?" tanya nya balik sembari tersenyum simpul.


Pak Dewok mengunyah roti lapis di piringnya, Ia mati kutu akan pertanyaaan balasan dari putranya itu.


"Bukan begitu, Nak." Bu Arumi menengahi.


"Tenang saja, Bu. Aku akan memintanya di malam Ulang Tahun nya nanti." Angkasa tampak sangat bahagia dan menantikan malam kejayaan itu.


Pak Dewok dan Bu Arumi menghela nafas, jika benar Angkasa akan melakukannya pada malam tersebut, itu artinya mereka tinggal menghitung hari dari sekarang.


Bulan yang ternyata sudah berdiri dibelakang mereka, termangu. Ia langsung merasa ketakutan. Pikirannya mulai tidak singkron. Kali ini Angkasa pasti tidak main-main dengan ucapannya.


Ulang tahun siapa? Sekar maksudnya? kapan itu?

__ADS_1


"Hey...." Angkasa akhirnya sadar. "Ayo sini, Sayang. Hari ini aku ingin dilayani spesial dari tangan istriku," cakap Angkasa.


Bulan mendekatkan kakinya pelan-pelan, sesaat menatap Pak Dewok seolah ingin menanyakan sesuatu tapi itu tidak mungkin didepan Angkasa.


Pak Dewok menundukkan kepala, mulut mereka semua terkunci. Hanya Angkasa yang sumringah diantara mereka sebab mereka bertiga sedang terperangkap dalam sebuah kebohongan yang sengaja diciptakan sendiri.


Bulan segera menyediakan makanan masakannya untuk yang pertama kali pada Angkasa. Pemuda itu langsung menyendok dan melahapnya.


"Hm? kenapa ini enak sekali? apa racikannya telah berubah, Bu?" todong Angkasa pada Bu Arumi.


"Tidak, berterima kasihlah pada istrimu. Sebab dialah yang masak tadi," jawab Bu Arumi. Ia jadi tidak tenang, memikirkan nasib kedua bocah di hadapannya. Keningnya seolah berdenyut sakit hingga sesekali harus dipijatnya


"O ya, Sayang. Aku akan menunggumu siang nanti jadi jangan lupa seperti kemaren ya. Seharian aku tidak makan hanya karena ingin makan berdua denganmu!" katanya lagi, melirik Bulan yang baru saja mulai mengunyah nasi di dalam mulutnya.


Bulang mengangguk.


"Satu lagi, kita akan datang kerumah Ibu mu untuk mengundang nya hadir pada saat perayaan UlTAHMu empat hari lagi," tambahnya lagi membuat Bu Arumi dan Pak Dewok tersendat bersamaan.


Uhuk... uhuk...


Bu Arumi dan Pak Dewok sampai menyambar gelas yang sama.


"Ayah, lepasin. Tenggorokan Ibu panas ni!"


"Gak bisa, Ibu sudah gak tahan," jengah Bu Arumi.


Alhasil tarik menarik pun terjadi, hingga gelas itu bolak balik pindah tangan. Tidak peduli airnya sudah tumpah kemana-mana.


Angkasa dan Bulan dipaksa ikut memainkan mata mereka melihat aksi orang tua didepannya.


"Ayah, Ibu. Tunggu dulu biar Bulan ambilkan," ucap Bulan kemudian membuat mereka semua memandang kearahnya.


Angkasa mencoba mencerna perkataan sang istri yang baru saja terlontar begitu mudah di depan mereka.


"Sayang, aku tidak salah dengar?" tanya Angkasa.


Pak Dewok dan Bu Arumi saling senggol. "Ibu sih, pakek acara ngajak rebutan," kata Pak Dewok cuap-cuap. Sedang Bu Arumi memukul keningnya.


Bulan jadi mengkerut, Ia sendiri merutuki kebodohannya sampai menyebut nama aslinya.


"Bulan? siapa itu?" Angkasa mengulangi pertanyaanya.


Bulan mencari ide. Satu hal yang Ia luoa sekarang dirinya adalah seorang Sekar.


"Oh... hihihi... Aku sudah lama tidak melihat Bulan, jadi aku semalam bermimpi terbang ke Bulan," jawab Bulan asal disertai gelak tawa kecilnya.

__ADS_1


Angkasa mengusap janggutnya, Ia merasa kalau istrinya sedang berbohong. "Jangan-jangan_?"


Bulan, Pak Dewok dan Bu Arumi membelalakan mata. Pasti Angkasa telah mengetahui kebohongan mereka.


"Kamu mau punya anak perempuan di beri nama Bulan ya," goda Angkasa tiba-tiba. Hingga ruangan itu berubah menjadi tawa.


Sudah deg-degan setengah mati, tidak di sangka Angkasa rupanya tengah bercanda.


"hehehe... kamu bisa saja, Sweety," desis Bulan malu-malu.


"Tenang saja, kalau anak kita perempuan hak sepenuhnya untuk memberi nama ada padamu tapi kalau cowok, itu murni hak Ayahnya yang ganteng ini." Angkasa membanggakan diri.


"Kakek dan Neneknya gak kebagian ni," sungut Bu Arumi sedih.


"Iya, Kakek nya juga mau kok disuruh kasih nama," tambah Pak Dewok pula mencairkan suasana yang sempat menegang.


"Nanti Ayah dan Ibu kasih nama belakangnya, oke lah kalau ngobrol terus kapan selesainya. Angkasa pergi dulu ya!"


Bulan menemani sang suami ke teras, seperti biasa. Dia melakukan itu setiap pagi untuk menghantar Angkasa berangkat bekerja.


"Ingat ya, Sayang. Aku akan menunggu kedatangan mu!" ujar Angkasa lagi.


"Iya, baiklah. Kamu mau dibawakan masakan apa?" Tanya Bulan ingin tahu.


"Kesukaanku," bisiknya lirih di telinga Bulan. Ia berharap Bulan mengerti apa yang sebenarnya Ia inginkan ketika Ia datang dan menemaninya bekerja.


Emang kesukaannya apa ya? perasaan dia makan apa pun yang di masak Bu Arumi setiap hari


Cup!


Kecupan lembut bagaikan lalat menempel dibibirnya.


"Aku suka itu." Usai mengatakan ucapan manisnya, Angkasa masuk kedalam mobil dan meninggalkan Bulan. Gadis itu mengabaikannya, tentu Ia harus mencari tahu apa masakan spesial kesukaan Angkasa.


"Ayah, Ibu!" panggilnya, setelah berada diruang makan.


"Kenapa, Lan?" tanya Pak Dewok.


"Itu, Angkasa minta dibawain makanan kesukaannya. Apa itu?" tanya Bulan dengan wajah memohon agar keduanya memberi tahu.


Keduanya menggeleng. "Sampai saat ini, Ayah dan Ibu tidak mengetahui apa pun," jawab Bu Arumi.


Bulan jadi gelisah, tapi Ia harus menemui Fatan terlebih dahulu untuk mengecek kondisi adiknya itu.


"Baiklah, Bulan minta maaf tidak membantu Ibu membereskan ini. Karena Bulan harus menyempatkan diri menengok Fatan." Bulan terlihat bersedih, dari mana Ia harus mencari tahu agar mendapat jawaban tentang kebiasaan Sekar.

__ADS_1


__ADS_2