
Hari sudah beranjak malam, Angkasa menghentikan mobilnya disebuah salon ternama di kota itu. Ia ingin dirinya dan Bulan bisa tampil menawan. Sebab, perjamuan makan malam tersebut sudah pasti hanya dipenuhi oleh orang-orang berkelas.
"Sayang, katanya mau ke pesta? mengapa berhenti disini?" Bulan mengedarkan pandangannya kearah gedung yang lumayan besar di sana.
"Ayo keluar, apa kita akan ke pesta dengan dandanan seperti ini?" Angkasa melepas sabuk pengaman bulan dan keduanya segera turun dari mobil.
Angkasa mendekat dan menggenggam tangan Bulan memasuki ruangan salon yang ramai oleh pengunjung. Hari itu bertepatan dengan malam minggu, dimana malam itu adalah malam bersejarah saat pertama kali Ia jadian dengan Sekar.
Angkasa tidak akan lupa, Ia akan mengucapkan kata-kata Cinta saat hari itu datang menyapa. Angkasa berencana akan menciptakan kebahagian untuk Bulan, menghapus sejenak suasana hati yang tadinya berkabut oleh ulah Dokter Lintang.
"Mbak!" panggil Angkasa.
"Selamat malam, mas, Mbak!" sapa pemilik toko.
Angkasa enggan berbasa basi dan langsung pada pokok utamanya.
"Aku ingin kami dilayani spesial ya Mbak, tiga puluh menit lagi kami akan menghadiri acara penting," ujar Angkasa, melihat sebentar jam yang melingkar ditangannya.
"Oh.. iya, baiklah. Silahkan ikut kami!" ajak pemilik Salon.
Mereka di bawa masuk kesebuah ruangan tertutup. Banyak alat make over dan pakaian mewah tergantung di sisi dinding sebelah kanan.
"Ayo duduk Mbak cantik!" hatur pemilik salon di depan cermin. "Oya, Mas. Mbak nya mau di dandani seperti apa ya? formal atau girly?" tanya pemilik salon lagi.
"Girly, Mbak. Sebab bukan acara resmi. Tolong dibuat secantik mungkin," tutur Angkasa.
"Baiklah, Mas. Doni, bantu Mas ini memilih pakaian untuknya!" titah pemilik salon pada salah satu orang kepercayaannya.
"Siap, mimi. Ayo Mas kesana!" ajak Doni pada Angkasa, pria tulen yang sangat ahli dalam bidang fashion.
Angkasa mengangguk dan mengikuti langkahnya dari belakang.
"Mas kan ganteng, tu. Jadi aku pilihin warna-warna yang cerah ya. Itu akan menambah kegantengan kamu," kata Doni seenaknya, sambil meraih beberapa pakaian yang dianggap pantas.
"Ayo di coba, biar aku nilai nanti," titahnya lagi.
Angkasa menurut dan menjajal satu persatu pakaian yang disediakan.
__ADS_1
"Aduh, Mas ganteng banget deh. Pakek apa aja kelihatan keren!" Pujian terus saja terlontar dari mulut Doni yang emang sifatnya cenderung agak menyebalkan.
"Mas, Doni. Kalau semua keren, aku harus pakai yang mana?" Angkasa mulai geram harus mendengarkan ocehan dari mulut Doni yang sudah kayak kaleng roti.
"Nanti dulu, aku lihat lagi." Doni menempelkan baju kemeja kotak-kotak ketubuh Angkasa. "Ini kurang mathces, Cin. Coba yang biru." Doni kembali menempelkannya pada tubuh Angkasa hingga kali ini terlihat sangat sempurna.
"Yes, ini sempurna. Ayo pakek sekarang!"
Angkasa menurut lagi dan memakainya.
"Apa tidak terlalu mencolok, Don?" tanya Angkasa.
"No, ini ajib banget, Sayang. Semua cewek akan melotot melihatmu," ujar Doni lagi-lagi bawel.
Doni juga sibuk memilik celana setelan, dan yang satu itu mudah didapat sebab biru identik dengan celana hitam atau abu-abu.
Di sisi lain, polesan wajah Bulan hampir selesai. Rambutnya dibuat kelabang dengan tambahan jepit kembang-kembang dibawahnya menyisakan beberapa helai di sisi wajah Bulan agar wajahnya terlihat imut tapi berisi. Pemilik salon yang melihat apa yang di pakai Angkasa berinisiatif meminta Doni memilih kan dress senada untuk Bulan sebagai lambang jika mereka adalah pasangan suami istri.
"Ayo pakai baju nya Mbak!" Pemilik salon membantu Bula mengenakannya. Dress cantik selutut dengan manik-manik kecil di tepi pinggangnya sangat anggun di tubuh Bulan, Angkasa sendiri yang melihatnya seolah terhipnotis.
"Tunggu Mimi, belum pakek H_heelnya." Doni mengambilkan sepasang sepatu yang juga berwarna biru ke kaki Bulan. "Ini baru cucok, mirip cinderella," canda Doni lagi disertai kekehan kecil.
"Kamu emang pinter, Don. Gak salah aku masuk kesalon ini." Angkasa sangat terpukau akan kecantikan istrinya, Ia bergerak mendekat dan mengitari tubuh Bulan untuk memastikan tidak ada yang kurang sedikit pun.
Sedang kan Wajah Bulan memerah, Ia tersipu dengan tindakan Angkasa.
"Gimana, Mas?" tanya pemilik salon itu lagi.
"Perfek, aku suka penampilannya."
Angkasa menyerahkan kartu debit sebagai pembayaran, sebelum akhirnya mereka melanjutkan perjalanan ke kafe dimana Bulan pernah bekerja disana.
Tepi di ambang pintu, Angkasa dan Bulan di sambut ramah oleh manager kaffe.
"Selama malam, Mas. Silakan masuk Pak Baroto sudah menunggu," ujar Pak Bambang mempersilakan. Sejenak menatap Bulan, Ia ingat betul jika Bulan adalah mantan pelayan disana.
Sudah berkecukupan rupanya...
__ADS_1
Angkasa dan Bulan langsung di sambut oleh para koleganya yang sudah lebih dulu ada disana bersama para istri mereka.
"Wah, Pak Angkasa terlihat keren saja. Istrinya cantik lagi!" puji salah seorang dari mereka yang memeluk tubuh Angkasa.
"Makasih, Pak. Terima kasih sudah mengundang kami datang, maaf jika kami sedikit terlambat." Angkasa tidak enak hati pada mereka yang menunggunya secara khusus.
"Tidak sama sekali, Pak. Masih banyak yang belum datang juga kok," ujar Pak Baroto. Ia juga memeluk Angkasa dengan hormat. Sedang Bulan cipika-cipiki dengan istri-istri mereka.
"Duduk disini, Bu!" hatur mereka disebelah Angkasa. "Sudah berapa lama nikahnya?" tanya Bu Rina istri Pak Baroto.
Mengingat Bulan Amnesia, Angkasa memutuskan menjawabnya. "Baru tiga Bulan, Bu."
"Wah, lumayan lama ya. Pasti sudah terlihat dong tanda-tanda positifnya?" gurau mereka lagi.
Angkasa dan Bulan hanya tersenyum, mereka tidak bisa menjawab. Sebab, Angkasa sadar jika dirinya belum pernah menyentuh Bulan sama sekali.
"Pak Bambang!" seru Maya dari arah lainnya, Ia berlari menghampiri dan menanyakan segala yang dibutuhkan.
"Hati-hati, May. Perutmu sudah semakin besar," ucap Pak Bambang mengingatkan.
Sebenarnya saat tahu Maya sakit dan dinyatakan hamil, Bos mereka ingin memecat Maya tapi karena rasa kasihan dan kemanusiaan semua itu urung terjadi. Mereka memberi kesempatan Maya bekerja sampai usia kandungannya mencapai enam bulan.
"Iya, Pak. Saya tahu, ini daftarnya. Ada yang kurang gak?" Maya menunjukkan koleksi kertas di tangannya.
"Udah, oke ini. Tapi ingat ya, ada 4 orang yang tidak minum jus melon jadi sediakan saja air kelapa muda!"
"Baiklah, Pak. Saya kebelakang dulu ya!"
"Iya, hati-hati kamu. Aku gak mau harus menunjang biaya kerja jika sampai terjadi apa-apa sama kamu!" pesan Pak Bambang berkali-kali tanpa pernah lelah.
"Iya, Pak. Jangan galak-galak napa. Ni anak juga anugerah, pasti saya jaga," jawab Maya, sambil berjalan menjauh seraya menjebikkan bibirnya.
"Dasar cewek aneh, hamil di luar nikah kok bangga. Anak memang anugerah tapi perbuatan orang tuanya laknat ," gerutu Pak Bambang heran sambil menggeleng-geleng tak percaya. Ia pun tidak mau ambil pusing dan memilih pokus menyambut para tamu yang berdatangan.
...๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ...
Jangan lupa tinggalkan Like, komentar, Vote, gift dan bintang lima yaโ๏ธโ๏ธโ๏ธ
__ADS_1