Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 74 Marah


__ADS_3

Angkasa tak mengatakan apa pun, Ia memegang tangan Bulan dan dengan kasar menggeretnya keluar. Tidak peduli jika pesta tersebut belumlah berakhir.


"Sayang, kita mau kemana? Pestanya kan belum dimulai?" Cara Angkasa sekarang membuat Bulan takut, jika hari itu Ia akan mendapatkan masalah besar.


"Sayang, ada apa denganmu?" tanya nya sambil menangis menahan sakit. Belum juga mengerti mengapa pemuda tersebut mendadak berubah.


Angkasa masih tak menjawab, Ia membuka pintu mobil dan membantu Bulan masuk. Kemudian Ia pun ikut duduk di dekat kemudi dan menyalakan mesin mobilnya dengan sangat keras. Seolah-olah dunia akan runtuh dibuatnya.


Setelah masuk kedalam jalan tol, mobil itu bertambah kencang, Bulan yang takut akan kecepatannya langsung menutup mata.


Angkasa tak menggubris reaksi gadis disampingnya, Ia naikkan lagi kecepatan mobil itu seperti akan terbang.


"Angkasa, aku mohon hentikan. Aku takut!" Teriak Bulan sekuat yang Ia mampu agar Angkasa mau mendengarkan. Tapi percuma, Angkasa terlalu marah hingga tidak bisa mengendalikan diri.


Oek.. Oek..


Perut Bulan bergejolak lagi, tubuhnya yang terombang-ambing oleh hentakan mobil itu cepat-cepat meraih kantong kresek didepannya untuk memuntahkan isi perut yang sejak tadi sudah terkuras.


Bulan belum juga selesai, Ia kembali meraih kantong plastik lainnya untuk memuntahkannya lagi. Mendapati wajah Bulan memucat, pemuda tersebut tak sampai hati. Ia akhirnya mengalahkan egonya untuk menurunkan kecepatan mobilnya tersebut sampai berhenti.


Angkasa menghela nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan nya dengan kasar. Ia ingin tetap menahan diri untuk tidak marah meski emosinya sudah memuncak diubun-ubun.


"Maaf...," ucap Bulan lirih. "Aku pasti melakukan kesalahan ya?"


Angkasa menoleh, Ia ingin bertanya untuk meyakinkan diri tapi mau membuka mulutnya entah mengapa terasa berat. Ia belum siap mendengarnya langsung dari mulut Bulan jika dirinya memang bukanlah Sekar istrinya.


Pemuda itu nampak sangat kalut, Ia memijit pelipisnya yang berdenyut hebat, sambil sesekali memejamkan mata berharap semua benar-benar mimpi.


Bulan pun membisu, Ia tidak tahu apa yang sudah membuat Angkasa bersikap demikian. Tapi untuk bertanya juga dia tidak berani.

__ADS_1


Cukup lama dalam diam, Angkasa kembali melajukan mobil mereka hingga sampai dirumah dengan kecepatan standard.


Pemuda tersebut masuk mendahului Bulan, dan itu menambah perasaan yang tak menentu di hati Bulan. Pasti ada sesuatu yang Angkasa sembunyikan darinya tapi untuk berbagi Angkasa masih enggan.


Bulan bergegas menyusul, Ia butuh jawaban dari Angkasa langsung atas perubahan sikapnya. Cukup cepat berlari, gadis itu berhasil masuk kekamar dan menahan lengan Angkasa.


"Sayang, kamu kenapa? Tolong cerita sama aku? Apa yang membuatmu sampai seperti ini?" Bulan sampai berkaca-kaca.


Susah payah menahan dirinya, Angkasa yang terpancing dengan pertanyaan Bulan tiba-tiba mendorong tubuhnya merapat didinding lalu meraih tengkuk Bulan dan mengulum Bibirnya dengan kasar dan itu membuat Bulan merasa sesak.


Tatapan Angkasa sangat menyeramkan, Ia tidak melepaskan Bulan walaupun gadis itu kesulitan bernafas. Parahnya lagi, Angkasa merems buah kenyal nya secara brutal dan itu cukup membuat Bulan terkejut dan takut.


"Angkasa, apa yang kamu lakukan?" Rintihan Bulan meninggi bersamaan dengan kedua tangannya yang mendorong dada Angkasa menjauh. Rasanya Ia tidak mau lagi Angkasa menyentuh tubuhnya sesuka hati.


Angkasa menunduk kearah dadanya yang di sentuh Bulan tadi dengan tidak sopan, kemudian Ia tertawa miring.


"Hah, sekarang aku semakin yakin," ucap Angkasa tiba-tiba karena penolakan tersebut menambah keyakinannya tentang sosok Bulan.


Bug!


Tinjuan Angkasa melayang membentur dinding didekat wajahnya hingga Bulan memejamkan matanya karena mengira Angkasa hendak memukulnya.


Lengan Angkasa sampai berdarah bahkan menetes kelantai. Tatapannya tajam tertuju pada Bola mata sayu gadis didepannya. Rahangnya menegang, dan giginya saling mengerat.


Tentu saja Bulan sangat ketakuran, Ia tidak menduga Angkasa nekat menyakiti dirinya sendiri karena sesuatu yang Ia sendiri belum paham.


"A_ Angkasa...!" ucapnya lagi, setelah membuka matanya. Hingga tak terasa air mata yang hampir mengering itu berjatuhan lagi.


Angkasa menggeleng, dengan ekspresi masih sama. Ia sangat ingin membuat Bulan membuka matanya lebar-lebar.

__ADS_1


Tak sanggup berlama-lama di dalam kamar, Angkasa memilih keluar dan menyendiri di ruang tamu dengan membanting tubuhnya di atas sofa.


Hatinya belum menerima suratan takdir, jika Ia melakukan kesalahan dengan menjalani hubungan yang tidak seharusnya. Pantas saja Bulan selalu menolak saat disentuhnya itu pasti karena Bulan bukanlah istrinya.


Angkasa duduk sambil menutupi wajah yang gundah dulana, hatinya susah diajak kompromi. Ia belum sepenuhnya siap untuk mengetahui sebuah kebenaran tentang kebohongan Bulan.


"Ini tidak mungkin? Ini tidak mungkin?" teriaknya berulang-ulang sambil mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Siapa yang sanggup menerima sebuah kenyataan pahit, jika ternyata dengan tidak sengaja Angkasa sudah menduakan Sekar dengan mengakui Bulan sebagai dirinya.


Angkasa menangis sejadi-jadinya, Ia menumpahkan apa yang tak sanggup Ia pikul. Menerima pakta jika Bulan bukanlah istrinya itu sangatlah memberatkan.


"Benarkan ini? Benarkah aku hidup bersama wanita yang bukan dirimu, Sekar? Aku mencintai kamu dan tidak pernah ingin berbagi hati pada wanita lain."


Angkasa mengusap air mata yang tercurah, Ia masih tidak habis pikir jika Bulan benar-benar bukan Sekar.


"Tidak, dia memang istriku? Mana mungkin aku meragukannya? Jika bukan, kenapa wajah mereka sama?" Angkasa terus berusaha berpikir, untuk menyetabilkan kewarasan otaknya.


Namun kembali lagi, Ia diingatkan akan sikap Sekar semasa mereka berpacaran memang berbanding terbalik dengan yang sekarang.


"Tidak, Sekar tidak alergi dengan siput. Sekar tidak menyukai susu, dan Sekar juga suka bersolek ta_ tapi kenapa Sekar yang sekarang alergi siput, suka susu dan apa adanya? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku tidak tahu apa pun?" teriak Angkasa frustasi. Ia menghantamkan lagi tangannya kemeja hingga luka yang tadi cukup parah bertambah.


Bulan sendiri yang masih berdiri didinding melorot kelantai, Ia yang selama ini bahagia dengan perhatian Angkasa malam ini akhirnya berhasil di buat ketakutan. Ia baru tahu, Jika saat Angkasa marah. Pemuda itu akan melakukan tindakan di luar nalar.


"Ya Allah, kenapa Bulan terjebak didekat pria itu. Bulan takut jika dia menyakiti Bulan, Ya Allah!"


Gadis itu menganggap jika dirinya memang sangat menyedihkan, dari kecil dia tidak pernah tahu apa itu artinya cinta.


Jadi saat mengenal Keluarga bahagia dan penyayang


seperti keluarga Pak Dewok, Ia begitu menikmati posisinya sampai lupa kalau dirinya bukan lah siapa-siapa. Namun hari ini, perasaan bahagia itu seketika sirna.

__ADS_1


Kemarahan Angkasa ternyata lebih mengerikan ketimbang kemarahan Ayahnya sendiri yang pemukul.


__ADS_2