
Berulang kali mengucek matanya, penglihatannya masih saja buram hingga Dino yang melihatnya heran.
"Lo, Angkasa. Ngapain kamu kesini? ayo balik lagi!"
Angkasa tidak perduli, Ia menyerobot botol mineral dari pelukan Dino lalu mengguyur kepalanya agar Ia kembali tersadar.
"Sa, Lo kenapa?" Dino mengikuti tatapan tajam Angkasa pada seorang wanita dan pria. Kenyataan itu membuat Dino ikut membulatkan mata.
Angkasa kesal, Ia kembali ke mobil dan masuk dengan membanting pintu cukup keras. Pemandangan itu tak ayal membuat hatinya meradang. Ia tidak menyukai itu, Bisa-bisanya Bulan nampak bahagia setelah terlepas darinya. Dino mengikuti Angkasa dan dapat menangkap signal kekecewaan disana.
"Mobilnya kenapa, Din?" Adi rupanya turun dan turut memeriksa.
"Mesinnya kepanasan, Bro."
"Ya udah, di isi tu. kadar air akinya kurang kayaknya."
Adi dan Dino melakukannya bersama-sama. Mereka akan segera melanjutkan perjalanan.
...๐บ๐บ๐บ...
"Lan, makasih ya udah mau menemani ku. Sepertinya aku harus menerima perjodohan itu." Akhsan berusaha membuka hatinya untuk berlapang dada.
"Iya, Pak. Semoga langgeng ya."
Keduanya berpisah, Bulan harus melanjutkan tugasnya untuk menyelesaikan kesibukan hari itu.
Tapi Angkasa terlihat tak terkendali. Ia mengingat lagi bagaimana Bulan tersenyum lepas di depan Akhsan.
"Dasar cewek murahan, jadi dia memang suka berwajah manis pada siapa pun," oceh nya kesal. Tangan nya mengepal seakan ingin meninju apa saja yang ada didepannya.
Angkasa yang memperhatikannya, merasakan debaran kecemburuan yang sebenarnya tidak Angkasa sadari.
"Sa, apa kamu tidak menyukai gadis itu?" tanya Dino, berterus terang. Ia mau melihat bagaimana Angkasa menanggapi pertanyaan tersebut.
"Gila kamu, ngapain juga aku suka sama cewek penipu dan matre kayak dia? Lihat saja, bagaimana tadi dia tertawa lepas bersama pria lain setelah menghancurkan hidupku," ucapnya marah-marah.
"Jadi seharusnya dia menangis meratapi kesalahannya dan datang meminta maaf padamu, begitu maksudnya?" Dino sengaja menggali perasaan Angkasa lebih jauh lagi.
"Iyalah, seharusnya dia introspeksi diri sudah menjual kehormatannya hanya demi sebuah uang," jawabnya lagi kian dongkol.
__ADS_1
"Apa?" Dino membelalakan bola matanya, dan seketika mengerem mobil tersebut secara mendadak. Ia baru ingat jika Bulan sudah hidup dengan Angkasa selama tiga bulanan. Jadi bukan tidak mungkin Angkasa sudah memangsanya.
Melihat reaksi Dino, Angkasa melanjutkan omelan nya.
"Kenapa? Dia kan memang begitu? Pasti menjual tubuhnya ke semua pria? Benar kata Putra, dia pasti ingin menjadikan anaknya sebagai alat untuk meminta hartaku?"
Dino memiringkan posisinya lalu menatap Angkasa secara seksama. Ia ingin memastikan apa kah Angkasa berbohong atau tidak lewat matanya.
"Angkasa, kamu yakin itu? Apa kalian pernah berhubungan? Lalu jika benar iya, kamu pasti tahu kan kalau dia sudah tidak suci lagi? Benar begitu?" Pertanyaan Dino membungkam bibir Angkasa.
Pemuda itu terdiam seribu bahasa. Karena Ia ingat betul bagaimana sulitnya Ia mendobrak pertahanan Bulan malam itu.
"Angkasa, ayo jawab? Benar kamu memasukkan adik kecilmu dengan muda pada miliknya?"
"A_ aku...." Angkasa malu untuk memberi tahu.
"Angkasa, jika benar begitu kamu harus menjauhinya. Karena itu berdampak buruk padamu. Tapi_."
"Tapi apa Din?"
"Jika sebaliknya, dia masih tersegel, terus kamu menggagahinya, itu artinya gadis itu dalam masalah," ucap Dino menakut--nakuti. Tujuan supaya Angkasa dapat menela'ah ucapannya.
"Emang apa dampaknya bagi gadis itu?" tanya Angkasa. Setelah lama berpikir.
"Tentu saja banyak, Angkasa. Pertama, Itu artinya dia akan kesulitan menikah. Kedua, bagaimana kalau dia sampai hamil?"
"Ha? Hamil?" Angkasa agak syok.
Terus ketiga ni, aku gak bisa bayangin, nanti kalau anaknya sampai lahir terus gak punya Ayah. Malang sekali nasib anak itu." Dino lagi-lagi mengobrak abrik perasaan Angkasa.
Lalu secara mengejutkan Angkasa langsung tertawa meremehkan. "Hahaha... itu mustahil? Sudahlah ayo kita jalan lagi!"
Dino tahu tawa Angkasa tidak tercermin dari hatinya, tapi Dino berharap Angkasa akan memikirkan semuanya setelah itu.
Keduanya melanjutkan perjalanan, hingga tiba di rumah.
"Ayo masuk, Din!" Ajak Angkasa yang turun sendiri dari mobilnya.
"Iya, iya. Kamu sudah kuat jalan sendiri?" Dino berlari mendekati Angkasa masih sedikit sempoyongan.
__ADS_1
"Kuat, kamu tenang saja. Aku bisa kok."
"Udah, biar aku bantuin." Dino membantu Angkasa memasuki rumah mereka. Rupanya keluarga tersebut sedang berkumpul diruang tamu.
"Eh, Kak Lintang ada disini. Gak kerja, Kak?" tanyanya, masih bersikap seperti orang mabuk kebanyakan. Mereka yang ada di sana menutup hidung. Sebab mereka terganggu dengan bau alkohol yang keluar dari mulut Angkasa.
Dokter Lintang menggeleng kan kepalanya beberapa kali. Meski Ia juga suka minum diam-diam. Tindakan tersebut tak membuatnya sampai mabuk berat seperti Angkasa.
"Sa, ngapain sih mabuk terus? Kamu bahkan gak pernah pergi ngantor. Kasihan Bayu ngurus perusahaan sendirian."
"Kenapa gak Kakak aja yang pergi." Angkasa melepas tangan Dino dan membanting tubuhnya di sofa.
"Hadeh, kenapa hari ini panas sekali ya?" Ia bersikap seakan tidak ada lagi sebuah beban disana. Walau pun semua orang tahu, Angkasa sedang kesulitan mengatasi dirinya sendiri.
Pak Dewok bergerak mendekat dan hendak memeluk Angkasa tapi pemuda itu menolaknya.
"Apa sih, Yah. Peluk-peluk? Angkasa sudah dewasa jadi Ayah tidak usah berlebihan begitu."
Pak Dewok menangis, Ia merasa berdosa sudah membuat Angkasa menderita lagi setelah hampir mampu membuatnya selalu bahagia ada di dekat Bulan.
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah menyesal. Seharusnya Kamu tidak perlu bertemu dengan Bulan, jadi kamu tidak akan mengalami penderitaan seperti ini , huhuhu...."
Dokter Lintang yang tidak tega mengusap pundak Pak Dewok. Sebagai anak yang baru di temukan. Tentu Ia harus memahami lebih dulu karakter keluarganya.
"Ayah, jangan menyalahkan diri sendiri. Kami tahu Ayah ingin melakukan yang terbaik untuk kami. Tapi sayangnya apa yang kita korbankan tidak selalu sesuai harapan kita, Yah."
"Benar kata Lintang, Pa. Yang lalu biarlah berlalu. Lebih baik kita pikirkan bagaimana caranya membuat Angkasa menata hidupnya kembali," sela Bu Arumi. Perempuan itu harusnya yang paling terpukul. Sebab dialah yang sudah mengandung, melahirkan dan membesarkan Angkasa.
"Aduh pada melo banget sih? Awas, aku mau kekamar." Angkasa menyingkirkan tangan Pak Dewok dan pergi. Sesekali memegangi kepalanya yang terasa sangat berat sampai menghilang di balik pintu.
Angkasa merebahkan tubuh yang seakan sakit semua keatas king z miliknya. Sebelum tertidur, Ia lebih dulu mengamati pernikahannya dengan Sekar.
Sekar sedang berfose tersenyum, tengah berciuman dengannya.
"Sayang, kenapa wajahmu harus mirip dengannya sih? Aku jadi merasa tidak rela melihatnya. Karna dengan begitu aku seperti melihat dirimu tengah berselingkuh dengan pria lain, dan itu menyakitiku."
"Sayang, Dino pasti bohongkan? Mana mungkin cewek penipu itu hamil padahal aku cuma dua kali melakukannya, hahaha...."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian setelah lelah mengoceh Angkasa terlelap. Ia tidak tahu sampai kapan akan terjerat cinta yang tak berujung itu.