
Bu Rina mengamati tubuh Bulan dari atas sampai bawah, karena bau badan yang terendus penciumannya. Mendapati reaksi seperti itu Bulan ikut menunduk melihat keadaannya.
"Hehehe... maaf, Bu. Dari kemaren gak mandi," jawabnya nyengir.
Bu Rina melihat jam ditangannya, untuk memastikan kalau waktu mereka masih senggang.
"Ya sudah buru mandi sana mumpung masih ada waktu lima belas menit lagi. Sebentar lagi banyak para pegawai yang akan singgah sarapan!" titah Bu Rina. Ia meminta satu pelayannya mengantarkan Bulan dan juga memberikan satu set seragam.
Meski Rumah makan itu tak sebesar Kaffe apa lagi restoran tapi pegawainya saja berjumlah sepuluh orang. Bisa di pastikan betapa ramainya pengunjung yang masuk kesana.
Sekitar beberapa menit berlalu, Bulan selesai berganti pakaian. Seorang pelayan perempuan itu, kembali menatap secara menyeluruh.
"Tunggu, Mbak. Kamu boleh pakai sisirku. Masak iya rambutnya berantakan gitu," ujar pelayan yang mengantarnya tadi.
"Makasih ya, Mbak. Sudah mau berbagi."
Pelayan itu mengambil apa yang di butuhkan.
Bulan menerima barang yang pelayan itu ulurkan ke tangannya dengan senang hati.
"Nah gitukan cantik, O ya kenalin aku Rani, Mbak." perempuan itu sangat baik tapi sedikit bawel.
"Panggil aku Bulan," jawabnya singkat.
"Oh, oke. Semoga kita jadi partner yang solid ya, soalnya pegawai disini pada sinis gitu sama aku," ujar gadis itu.
Bulan mengerutkan dahi.
"Emang kenapa begitu?"
"Biasalah, Mbak. Banyak Bos-Bos besar datang sering minta aku nemenin makan," ujarnya dengan bangga. Itu artinya dia merasa dirinyalah paling cantik apa lagi Ia akan mendapat bonus besar jika bisa membuat Bos itu memberinya uang.
"O ya?" Bulan sedikit was-was. Ia tak percaya jika pelayan rumah makan juga melakukan hal tersebut.
"Ya udahlah, Mbak. Ayo kita mulai, kamu harus pinter ngerayu plus berwajah manis agar kamu mendapat seseran. Soalnya gajih kita cuma Rp 800.000 sebulan. Cukup untuk apaan!" Rani menggeret Bulan menuju tempat untuk melayani tamu.
Benar saja beberapa waktu berlalu, banyak mobil mangkal di tempat itu. Jika di lihat dari penampilannya, mereka pasti adalah seorang Bos yang mengerjakan proyek besar.
"Ayo kita sambut, Mbak!" ajak Rani. Ia sudah bergerak lebih dulu dari Bulan.
"Selamat datang kembali, Om. Mari silakan duduk!" Rani menunjukkan bakatnya di sana.
"Makin cantik aja kamu, Ran?" puji pria kira-kira berkepala empat puluhan.
__ADS_1
"Ahk, Om bisa aja. Rani kan dari dulu emang cantik. Om-Om ini mau pesan apa?" tanya nya ramah.
"Mau pesen kamu, bisa?" celoteh seseorang diantara mereka di sertai gelak tawa.
"Haha... masak pesen saya sih? gak pesen makanan aja Om, banyak varian lo?" ucapnya sambil menjebikkan bibir sebentar lalu kembali tersenyum.
"Sediakan menu andalan di tempat ini!" titah lainnya sedikit dingin.
Pemandangan itu tak ayal membuat Bulan merasa aneh. Ia menjadi ilfil karena semua pelayan bersikap sama.
Haruskah aku berbasa-basi seperti mereka?...
Bu Rina yang baru saja masuk dibuat heran dan geram, sebab Bulan masih saja mematung di tempatnya tidak melakukan apa-apa.
"Bulan, kok diem aja? Ayo kerja, kamu tiru saja Cara mereka melayani tamu!" ucapnya sinis. "Tu, lihat ada Bos besar tu baru datang. Cepat kamu sambut dia, yang lain pada sibuk!" ucap Bu Rina lagi memberi tahu.
Bulan menoleh dan mendapati pria masih muda duduk sendirian di tempatnya. Ia disibukkan dengan sebuah laptop diatas meja.
"I_ iya, Bu." Bulan merasa kurang nyaman disana, tapi dia gk boleh menyerah demi bayi dalam kandungannya. Gadis itu menghela nafas panjang lalu menghembuskan nya agar Ia tidak gugup.
"Pagi, Pak. Mau pesan apa?" tanya nya, menyapa.
"Disini menu nya apa saja?" tanya pria itu dingin tanpa menoleh sedikit pun.
Belum juga selesai memberi tahu, pria muda itu menengadahkan tangannya untuk menyetop ucapan Bulan.
"Duduk!" titahnya tiba-tiba.
"Ha?" Bulan ternganga.
"Kenapa? Lakukan saja!" tunjuknya pada bangku kosong didepannya. Tapi menjengkelkannya lagi pria itu tidak mau menatapnya sama sekali.
"Ba_ baik, Pak." Dengan terpaksa Bulan menurut.
Beberapa menit berlalu pria itu mulai mengangkat kepalanya, dia masih sangat muda dan tampan. Memiliki sorot mata tajam dan juga rahang yang tegas. Bisa di pastikan umurnya masih di bawah tiga puluh tahun.
Lama menatap Bulan, pria itu menyerahkan selembar kertas padanya.
"U_ untuk apa, Pak?" tanya Bulan, meragu.
"Aku mau kamu mendektek kan itu, untukku. Aku sangat terburu-buru!" katanya, lagi.
Bulan yang menganggap itu bukan pekerjaannya memutuskan untuk protes.
__ADS_1
"Lo, tapi kan tugas saya cuma melayani?"
Pria itu menatapnya lagi.
"Aku tahu betul akhlak pelayan rumah makan ini, bukankan kalian juga melayani orang yang memesan kalian sebagai teman mengobrol. Atau_ kalian bahkan melayani semua pria di atas ranjang," ucap pria itu mengejek.
"Maaf ya, Pak. Jangan asal bicara, kami disini bekerja dengan terhormat." Bulan menyangkal, sebab setau nya pelayan sebuah rumah makan tidak mungkin punya waktu melakukan hal serendah itu.
"Kamu yakin?" tanyanya.
"Iya, aku sangat yakin."
"Heh, itu karena kamu masih baru, Cantik."
"Tau dari mana kamu?" tanya Bulan.
"Karena setiap hari aku datang kesini," jawab pemuda itu. Ia lalu menunjukkan kegiatan Rani yang pergi berpelukan bersama pria lain masuk kedalam sebuah tempat.
"Lihat itu, apa dia punya harga diri?" tanya pemuda itu.
Bulan mematung, rupanya Ia terjebak dalam rumah makan yang melayani berbagai hal.
"Biasanya Bu Rina, akan membebaskan pekerja baru. Tapi seminggu atau dua Minggu kemudian mana ada yang tahu. Satu hal lagi, jika kamu sudah masuk kemari, sudah dipastikan kamu tidak akan bisa keluar lagi, " ucapnya menakut- nakuti sembari menggidikkan kedua bahu.
Apa? Ya Allah, kalau tahu begitu, mana mau aku menawarkan diri masuk kemari...
"Apa kah kamu masih mau bertahan?" tanya pria itu, menyeringai.
Bulan menyentuh tangan pria itu dan memohon agar diselamatkan dari tempat itu.
"Pak, tolong bantu saya. Jika saya mengetahuinya dari awal mana mungkin saya mau masuk disini." Bulan menatap dengan memelas.
"Kenapa meminta pertolongan saya, kamu kan tidak tahu, seperti apa saya ini?" seloroh pria itu lagi, sembari tersenyum.
"Saya yakin anda baik, makannya mau memberi tahukan soal ini," ucap Bulan lagi.
"Hem...?" pemuda itu nampak berpikir. Ia melihat Bulan diam-diam. Ter gambar jelas wajah takut di sana.
Dasar polos...
Pemuda itu membatin. Dia cukup tertarik menggoda Bulan pagi itu untuk mengembalikan mute nya yang berantakan.
"Ya sudah cepat bacakan, pelan-pelan saja!"
__ADS_1
Pria itu kembali fokus kearah laptop didepannya.