Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 67 Dipertemukan


__ADS_3

"Hey, kenapa aku yang bawa!" protes Dokter Lintang.


"Sebentar saja," sahut Pelangi dari kejauhan. Tidak perduli jika Dokter itu bisa saja mengurungkan niat baiknya.


"Dasar tidak tahu terima kasih," oceh Dokter Lintang seorang diri. Ia yang baru saja hendak berbalik dari posisinya tidak sengaja menabrak seseorang.


"Aw, aduh pakaianku jatuh semua ni!" Perempuan itu kelihatan marah dan menunduk memunguti barang miliknya.


"Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja." Dokter Lintang meletakan miliknya dan membantu wanita itu. Tak sengaja Ia menyambar satu paper bag milik Dokter Lintang hingga tertukar dengannya.


"Maaf ya, Mbak. Sungguh saya tidak tahu jika kamu berdiri dibelakang saya," ujar Dokter Lintang untuk kedua kalinya.


Perempuan itu enggan menjawab hingga mereka sama-sama berdiri dan terkejut satu sama lainnya. Tidak disangka lima tahun berlalu setelah karamnya pernikahan mereka Dokter Lintang dipertemukan kembali dengan Dinda.


"Lintang...!"


Dokter Lintang menatap sinis, Ia tidak akan mau sebaik itu jika tau itu adalah Dinda mantan istrinya. Pemuda itu hendak menghindar tapi Dinda mencegah langkahnya.


"Lintang, alu mohon maafkan aku!" ucapnya penuh penyesalan. "Aku tahu aku salah sudah meninggalkan kamu dengan Kiara tapi aku mohon izinkan aku memperbaiki semuanya...."


Dokter Lintang mengeratkan gigi dengan amarah yang sudah membatu didadanya, Ia ingin kesempatan itu Ia pergunakan untuk membalaskan rasa sakit hatinya.


Dokter Lintang kembali memandang Dinda, tapi tatapan itu tentu adalah tatapan kebencian.


"Untuk apa kamu menyesali semuanya sekarang, Dinda. Bukankah kamu sudah bahagia dengan suamimu?" tanya Dokter Lintang, geram.


"Aku menyesal mempercayainya, Lintang. Ternyata dia menipuku makannya kami memutuskan bercerai. Aku mohon Lintang pertemukan aku dengan Kiara anak kita!" Dinda sampai bersimpuh di kaki Dokter Lintang dengan harapan segera mendapat maaf.


"Pencuma," jawab Dokter Lintang, lantang. "Aku dan Kiara sudah tidak membutuhkan kamu. Kami bahagia dengan kehidupan kami sekarang."


"Tapi, aku merindukan Kiara, anak kita. Biarkan dia hidup bersama ku," ucap Dinda memohon.


"Gila kamu, itu tidak mungkin!" sentak pria itu. Mana bisa Ia menyerahkan Kiara semudah itu pada wanita yang telah menelantarkan anaknya ketika masih ingin di timang dan disayang oleh seorang Ibu.

__ADS_1


"Lintang, aku mohon. Aku menderita mengingatnya!" Dinda terus menangis dan berharap mantan suaminya berbaik hati. Hingga kemunculan Pelangi membuat semua bertambah mencabik-cabik perasaan Dinda.


"Dok, bagaimana dengan ini?" Pelangi memperlihatkan dress cantik yang tengah Ia coba.


Dokter Lintang terpantik, Ia tidak menduga jika Pelangi terlihat sangat anggun walau agak sedikit tomboi.


Dinda menatap tidak suka. Ia langsung berdiri dari kaki Lintang dan menanyai soal perempuan di depan mereka.


"Dia siapa?" tanya Dinda, mau tahu.


Dokter Lintang benar-benar sangat beruntung, dengan cara yang mendadak timbul diotak nya Ia punya kesempatan untuk menyakiti mantan istrinya itu. Pembalasan yang sangat amat setimpal untuk wanita sepertinya.


Dokter Lintang melangkah mendekati Pelangi dan memeluknya dengan sengaja untuk membuktikan kalau dia sudah bangkit dari keterpurukan dan bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari Dinda.


"Kenalkan, dia istriku," tukas Dokter Lintang, dan tentu saja pernyataannya mengagetkan Pelangi yang tidak tahu apa-apa akan maksud dari ucapannya. Wajahnya langsung mengkerut diperlakukan seperti itu.


Dinda menggeleng, Ia hanya bisa tersenyum getir dengan apa yang dilihatnya. Rupanya hayalan nya tidak sesuai dengan kenyataan. Ia berharap Dokter Lintang belum menikah lagi dan bisa rujuk dengannya. Namun paktanya Ia malah sakit hati melihat itu.


"Istrimu cantik!" Terpaksa Dinda memujinya meski Ia tidak suka.


"Oke, saya permisi!" Dinda tidak tahan berlama-lama melihat kemesraan mantan suaminya.


"Ya, silakan!" Dokter Lintang tidak perduli jika Ia pergi lebih cepat dari yang seharusnya. Karena baginya Dinda adalah noda yang harus Ia hapus dari hidupnya.


Keduanya mengamati Dinda sampai tidak terlihat lagi, lekas Pelangi menyingkirkan tangan Dokter Lintang yang bertengger di pundaknya.


"Dokter, kenapa kamu bicara begitu tadi. Saya itu bukan istri Dokter!" omel Pelangi tidak terima.


"Maaf, saya hanya ingin perempuan itu tidak mengganggu saya lagi."


"Emang dia siapa?" Pelangi penasaran juga soal wanita yang sempat bersimpuh di kaki Dokter Lintang.


Dokter Lintang tak menjawab, Ia masih melihat arah dimana Dinda pergi tadi. Ada rasa kasihan tapi juga kesal. Walau bagaimana pun juga Dinda tetap Ibu kandung Kiara yang berhak dipertemukan pada saatnya nanti.

__ADS_1


Namun untuk melakukan itu, tentu Dokter Lintang harus punya keberanian yang besar. Ia tidak akan mau jika sampai Kiara memilih untuk bersama Dinda.


"Dok, halo, Dokter!" Pelangi melambaikan tanganya di depan pria dewasa itu.


"Oh, iya. Mana pakaian yang kamu beli?" Dokter Lintang tidak mau membahas lagi masalahnya dengan Dinda.


"Ini saja, biar aku ganti sebentar!"


"Tidak usah, kamu pakai saja itu. Kita harus menjemput Kiara secepatnya." Dokter Lintang segera membayar dan segera membawa Pelangi pergi meninggalkan tempat itu.


Diperjalanan, Dokter Lintang belum juga mau bercerita. Tentu ada pikiran besar yang membebani otaknya. Bahkan Ia mengabaikan ponselnya yang sejak tadi berdering nyaring.


"Dok, ponselnya bunyi. Siapa tau penting!" tukas Pelangi pelan. Ia takut Dokter Lintang tiba-tiba memarahinya.


"Aku lebih takut kehilangan anakku ketimbang pekerjaan , Pelangi," tandas Dokter Lintang. Ia mempercepat laju mobilnya agar sampai tepat waktu.


"Dokter, pelan-pelan dong. Saya belum mau mati!" Teriak Pelangi, histeris.


"Jika mati, bukankah kita akan mati bersama."


"Kamu gila ya, Dok. Aku itu belum mau mati. Aku masih ingin menikmati indahnya hidup bahkan cita-citaku belum tercapai untuk pergi berbulan madu bersama suamiku ke Bali nanti!" pekik Pelangi lagi.


"Hah, emang ada yang mau menikahi mu.?" Dokter Lintang terus menaik turunkan kecepatannya seperti seorang pembalap.


"Tentu saja ada, hanya saja belum ketemu."


Pelangi yakin jodohnya akan mengabulkan harapannya kelak. Tidak perduli dari kalangan miskin ataupun saudagar kaya.


"Jadi kau tidak akan menikah, jika calon mu tidak menyanggupinya?" seringai Dokter Lintang, masih terlihat pokus dengan kemudinya.


"Ya, ya_ kalau begitu aku akan melajang seumur hidup," timbal Pelangi asal. Serta merta membuat Dokter Lintang menghentikan mobilnya.


"Heh, kamu yakin. Bagaimana jika ucapan mu didengar malaikat dan dia mengaminkannya!" Dokter Lintang tertawa terpingkal-pingkal sambil memukul setir mobilnya berulang-ulang saking gemasnya akan ucapan Pelangi.

__ADS_1


"Is, dia pasti sudah tidak waras," ucap Pelangi seorang diri. Siapa yang suka di ejek seperti itu, padahal Ia memang berharap mempunyai suami yang bisa mengajak dia bulan madu ke pulau dewata tersebut.


__ADS_2