Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 39 Nambah Kerjaan


__ADS_3

Jujur saja ku tak mampu...


Hilangkan cintamu dari hidupku...


Dering ponsel Angkasa membuyarkan suasana yang begitu membahagiakan.


"Tunggu, Sayang. Biar aku angkat dulu."


Angkasa langsung menghubungkan panggilan dari Pak Dewok yang kini sudah ada di singa pura.


"Halo, Ayah. Bagaimana kabar Arfian?" tanya Angkasa.


"Alhamdulilah, sudah baikan, Nak. Kalian baik-baik saja kan?"


"Iya, Ayah. Kami sedang ada di taman kota, selama dua hari ini. Aku ingin memanjakan istriku," jawab Angkasa sumringah.


Pak Dewok meratap dadanya.


"Berbahagialah, Nak. Ayah akan selalu mendoakan kamu," ujar Pak Dewok, dibalik itu air matanya berderai. Sebenarnya tidak ingin Bulan mengorbankan kan hidupnya untuk Angkasa tapi demi kebahagiaan putra tunggal nya itu, Pak Dewok siap menerima apa pun resikonya.


"Ayah dan Ibu, juga sehatkan?"


"Iya, Nak. Ibumu sedang mengobrol dengan Bibi mu."


"Syukurlah, berapa lama Ayah dan Ibu disana?" tanya Angkasa lagi.


"Ayah tidak tahu, Nak. Pekerjaan menumpuk disini, jangan pikirkan kami. Bahagiakan istrimu supaya dia cepat hamil dan memberimu anak." Air mata Pak Dewok meleleh lagi. Rasanya Ia sangat berdosa melakukan itu.


"Tentu Ayah, aku akan menjadi lelaki yang paling beruntung di dunia ini. Yang siap menjadi Ayah untuk anak-anakku," jawab Angkasa lagi, dimana perkataan itu tidak mungkin Pak Dewok lukai begitu saja dengan mengatakan kebenarannya.


"Ya sudah, jangan pulang malam-malam Kasihan istrimu."


"Baik, Ayah. Kami akan segera pulang."


Setelah sambungan berakhir, Angkasa memutuskan mengajak Bulan makan malam terlebih dahulu. Tidak peduli jika tubuh mereka sudah lengket karena belum membersihkan diri.


"Ayo makan yang banyak, kamu tidak boleh makan siput lagi." Angkasa akan selalu memperlakukan Bulan layaknya seorang ratu. Dengan tangannya sendiri, Ia menyuapi Bulan sampai nasinya tidak bersisa.


Dengan perut terisi, keduanya merasa tenang. Mereka memutuskan kembali kerumah tepat jam 09.00 malam.


"Apa semalam ini kamu mau mandi?" tanya Angkasa, setelah mereka ada didalam kamar.


"Tentu saja, mana mungkin aku bisa tidur dalam keadaan lengket," jawab Bulan.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama. Aku harus memeriksa email dari kantor dulu."


Angkasa mulai membuka laptop dan segera menyelesaikan pekerjaannya. Sebab, dia tidak akan kekantor lagi besok dimana hari itu adalah hari yang dinantikannya.


Bulan yang sudah wangi, hanya mengamati kegiatan Angkasa. Cukup lama duduk ditepi rajang. Bulan menguam. Ia sudah sangat ngantuk dan kelelahan.


Menidurkan diri asal, bahkan kakinya menggantung kelantai. Angkasa yang hanya pokus berkutat di depan layar tersebut tidak sengaja menjatuhkan bolpoin, hingga Ia harus menunduk mengambilnya dan melihat kaki Bulan ada dibawah.

__ADS_1


Karena sudah jam satu malam, Angkasa yang mengira salah lihat mengucek matanya berulang-ulang.


"Itu kaki Sekar bukan ya?" Angkasa langsung meletakkan bolpoin itu kemeja dan beranjak mendekati Bulan.


"Astaga, istriku. Kenapa kau tidur ngawur begini sih ?" Angkasa menopang dagu mengamati pah_a Bulan yang terlihat bebas di depannya. bahkan pemisah gundukan itu seolah menarik perhatiannya. Bulan tidak menyadari jika pakaian tidurnya hanya lah pakaian tipis dan se*si.


Angkasa mengusap wajahnya, mengalihkan pemandangan yang mulai lia_ar di benaknya. "Sabar Angkasa, besok dia akan menjadi milikmu seutuhnya." Angkasa membenarkan posisi tidur Bulan. Dua gundukan itu tepat berada di wajahnya


Ah, kenapa aku tidak sabar. Bolehkan aku mencicilnya?"


Angkasa berusaha mendekatkan bibirnya ke pasyhudharha Bulan lalu mengecupnya sebentar.


"Oh, manis sekali. Seandainya aku tidak berjanji, malam ini juga akan aku lahap tubuh ini."


Angkasa berbicara sendiri menertawai kekonyolannya. Ia sangat sabar untuk itu, karena ingin pada waktu nya nanti semua terasa indah dan tidak akan bisa dilupakan seumur hidupnya.


Angkasa menyelimuti tubuh Bulan dan membiarkan istrinya tidur nyenyak. Berpindah lagi ke depan laptop agar pekerjaannya segera terselesaikan.


...🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️🏵️...


Pagi hari, Bulan sudah bangun lebih awal. Ia akan membersihkan seluruh rumah besar itu seorang diri. Dimulai dari menyiapkan sarapan sambil memasukkan pakaian yang teronggok dikamar mandi kedalam mesin cuci.


Cukup lama di dapur, Bulan mulai mengepel lantai. Keringatnya mulai bermunculan. Angkasa yang baru bangun dan melihat aktivitasnya merasa kasihan dan berinisiatif membantu meringankan.


"Biar aku, Sayang!" Angkasa merebut alat pel tersebut, dan memasukkan nya kedalam ember sabun mengangkatnya asal langsung mengepelkannya kelantai.


Bulan yang beralih mengepel kaca menoleh kegiatan Angkasa dan terkejut mendapati lantai itu menjadi banjir.


"Sayang...!"


"Itu, banjir. Kamu tidak memerasnya ya?"


"Ha? emang harus diperas."


"Tentu saja, kalau tidak kamu akan kesulitan mengeringkannya."


"Hehehe... maaf."


"Sini aku contohin."


Bulan menunjukkan apa yang harus dilakukannya.


"Oh, gitu?"


"Iya lah."


"Oke, Sayang. Coba dulu..." Takut-takut Angkasa melakukanya. "Gini ya?"


"Lebih kuat lagi memerasnya!" ujar Bulan.


"Oke, baiklah. Aku bisa sekarang."

__ADS_1


"Makasih, sayang." Bulan melanjutkan pekerjaannya. Ia akhirnya dapat juga merasakan kebahagian yang langka itu didalam hidupnya.


Tidak nanti malam, Bulan harus siap menangis darah karena dia akan merelakan sesuatu yang selama ini dijaganya untuk pria disana.


Mengingat janjinya, Bulan mengamati Angkasa diam-diam.


Ia menyukai pemuda itu, baik itu rasa cinta atau bukan, Bulan merasa sangat nyaman.


Seandainya aku adalah Sekar, pasti aku tidak akan se gelisah ini...


Angkasa mulai lagi, dia malah mengepel lantai yang sudah di bersihkan dan menginjak-nginjaknya hingga lebih kotor dari sebelumnya.


"Sayang...!" Teriak Bulan lagi. Ia segera mendekat dan mengecek kondisi lantai itu.


"Aduh, ini mah kerja dua kali kalau begitu," sungut Bulan kesal.


"Emangnya harus gimana, Sayang?" Angkasa yang berniat membahagiakannya jadi serba salah.


"Haruskan kau mundur kesini tadi, malah kesana. Kan kotor lagi, biar aku saja." Bulan nampak marah dan harus mengulangi pekerjaan serupa.


"Maaf, Sayang. Aku kan tidak tahu." Angkasa melakukan kesalahan yang membuat mute Bulan rusak.


Aduh, aku kan hanya ingin membantunya. Kenapa jadi begini sih?


"Sudah sana pergi saja," ketus Bulan lagi.


"Iya, Maaf. Aku bisa kok sekarang. Aku janji, suwer" Angkasa menunjukkan kedua jari sebagai tandanya.


"Yakin bisa?" Bulan tidak percaya.


"Iya, ayo sini."


"Jangan, kamu bohong!"


"Enggak, Sayang. Aku serius."


"Gak boleh."


"Ayolah, sini. Aku bisa kok, beneran."


tarik menarik pun terjadi hingga Bulan hampir terpeleset, untung Angkasa segera melingkarkan tangannya di pinggang Bulan.


Keduanya membalas tatapan, seperti layaknya orang yang kasmaran karena baru bertemu pertama kali.


"I love you," desis Angkasa ditelinga Bulan.


"Gombal..."


"Kok gombal sih."


"Bagaimana tidak, kau terus merayuku dengan kata-kata manis mu." Bulan melepas pelukan Angkasa dan segera menjauh. Ia takut jantung nya tiba-tiba terlepas tidak kuat memandang wajah pemuda tampan itu setiap saat.

__ADS_1


Mati aku...


__ADS_2