
Angkasa mengendarai mobilnya seorang diri, dia menepikan roda empat tersebut di sebuah pemakaman dimana istri tercintanya di kubur di bawah tumpukkan tanah.
Air mata duka dan rasa rindu mengiringi setiap langkahnya, sampai Ia berhenti dititik terberat di tempat itu. Keranjang bunga yang di bawanya diletakkan di bawah selaras dengan tubuhnya yang terhempas disamping makam tersebut.
Air mata bagai kristal tak kunjung mengering, saat di tatapnya lagi nisan yang bertuliskan nama Sekar Cahaya di sana.
Kehancuran itu, sudah membuatnya lupa diri. Apa lagi Ia sangat menyesal telah berhasil di bohongi wanita lain yang sama sekali tidak berhak menggantikan posisi Sekar.
"Sekar, maafkan aku. Aku telah melakukan melakukan kesalahan besar dengan menganggap dia sebagai dirimu."
Angkasa meremas tanah itu sambil memeluknya erat-erat. Tak mampu mengendalikan rasa yang tidak menentu dihatinya.
"Sayang, apakah kamu marah? Kenapa tidak menjawab? Ku mohon temui aku sekali saja? Aku janji tidak akan menangis lagi?"
Angkasa terus terisak-isak, Ia juga menciumi nisan itu berulang-ulang.
...๐บ๐บ๐บ๐บ...
Di sebuh taman yang begitu Indah, Angkasa menikmati sebuah panorama hujan gerimis. Ada pelangi mempesona membentang membentuk cekung di langit.
Saat asyik, memanjakan bola matanya. Seorang gadis bak bidadari berbaju putih datang menghampirinya. Ia menebarkan senyum bahagia yang menghiasi sudut bibirnya.
Melihat itu, Angkasa sangat bahagia. Sebab dia telah dipertemukan dengan sang pujaan hatinya.
"Sayang, kamu dari mana saja? Aku sangat merindukanmu?"
Gadis itu tersipu, Ia mencubit gemas perut Angkasa. Tubuhnya sangat wangi dan wajahnya bening bagai salju.
"Aw, sakit." Angkasa meringis dan gadis malah menertawakannya.
Angkasa semakin berbunga-bunga, lekas Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang gadis cantik yang di kelilingi cahaya tersebut.
"Dari dulu, kamu selalu mampu membuat aku tertawa, Sayang."
"Kamu juga Sweety, berjanjilah. Kamu harus bisa bahagia tanpa ada aku."
Angkasa mengernyit, Ia tidak suka perkataan Sekar. Dari dulu, Ia tidak pernah berpaling dari gadis didepannya.
"Maksudmu?"
"Karena kita tidak bisa selalu bersama, Sweety. Takdir sudah menentukan jodohmu. Aku tidak menderita, bahkan aku sangat senang disini, jika aku bisa melihat mu bahagia disana."
"Tidak, Sekar. Aku hanya akan bahagia jika itu bersamamu."
Angkasa berkaca-kaca, tidak rela rasanya kalau sampai Sekar menjauhinya.
Gadis itu tersenyum. "Kamu belum dewasa?" celotehnya, seakan mengejek.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena kamu tidak bisa membiarkan aku bahagia disini. Kamu sengaja ya, mengungkung aku agar aku tidak tenang ditempatku"
Sekar mengurai pelukan dan menangis. Angkasa memeluknya dari belakang.
"Mana mungkin aku tega membiarkanmu sengsara, Sayang?"
"Benarkah?" Gadis itu menoleh kearah Angkasa, dan pemuda itu mendaratkan ciumannya.
"Tentu saja, kebahagiaan mu adalah kebahagiaanku."
Sekar kembali memutar tubuhnya masuk dalam pelukan Angkasa.
"Kalau begitu berjanjilah." Gadis itu menatap dengan penuh permohonan. Dia menatap binar bening di depannya tanpa pernah melepas senyum.
"Aku akan melakukan apa pun keinginan mu." Angkasa tidak sadar dengan apa yang diucapkannya.
Sekar tersenyum lagi, kali ini lebih bebas lepas
sebelumnya.
"Ada kehidupan lain, yang akan segera menantikan dirimu, Sweety, dan disana lah kamu akan menemukan kebahagiaanmu yang sebenarnya."
Angkasa belum paham, Ia menggelengkan kepalanya bersamaan dengan tubuh Sekar yang seolah tertarik mundur.
"Di tempat yang abadi, Sweety. Aku akan menagih janjimu jika dirimu masih saja meratapi kepergianku."
"Tidak, itu tidak mungkin. Aku mohon jangan tinggalkan aku Sekar!" Angkasa berlutut berharap gadis itu kembali.
"Ku mohon lepaskan aku, mereka membutuhkanmu," tukas Gadis itu lagi.
Angkasa mendongak memperhatikan tubuh yang tiba-tiba memudar didepannya.
"Mereka? Mereka siapa? Apa yang kamu maksud?" tanya nya, butuh kejelasan.
"Kau akan mengetahuinya nanti." Jawaban itu terdengar sayup sampai akhirnya tubuh gadis cantik tersebut benar-benar menghilang.
"Tidak, Sekar. Jangan pergi, ku mohon kembali lah!" Angkasa berdiri dan terus berlari meneriaki gadis itu tapi sayangnya tidak ada jawaban lagi.
...๐บ๐บ๐บ๐บ...
Hujan gerimis jatuh menetes tepat di pipi Angkasa, yang entah sejak kapan terlelap di tempat itu.
"Sekar...!" teriaknya saat tersadar. Pemuda itu kembali mengamati makam tersebut lalu segera menaburi bunga dan membacakan sepenggal doa.
Setelah itu dengan berat hati, Angkasa melangkah meninggalkan tempat itu. Ia sendiri tidak tahu mimpi barusan membuat perasaannya menjadi tenang.
__ADS_1
Tepat diambang pintu mobil Angkasa menoleh lagi, dan tersenyum. Ia berharap Sekar benar-benar sudah bahagia seperti yang dikatakannya. Dengan begitu Ia juga akan memulai hidup yang baru.
Sesampainya dirumah, Ia disambut oleh Lintang yang sudah sejak pagi datang dirumah itu.
"Pagi, Angkasa!" Sapanya, dari depan pintu.
"Tumben pagi-pagi sudah ada disini? Kau terlalu rajin jika mau mengurus pengajian Dinda. Bukankah dia juga tidak penting untukmu." Angkasa berbicara sesukanya, ya dasarnya saja, Ia tidak terlalu menyukai Dokter tersebut.
Dokter Lintang menanggapinya dengan santai. Ia mendekat dan memeluk pundak Angkasa.
"Kamu ketinggalan info," ujarnya, menoleh kearah Pak Dewok dan Bu Arumi dibelakang mereka. Keduanya tersenyum.
"Info apa?" Angkasa rupanya sangat penasaran.
Pak Dewok melangkah mendekat dan memeluk Angkasa.
"Kamu harus tahu, Nak. Kalau Dokter Lintang ini adalah Kakak Kandungmu."
"Apa?" Angkasa terkejut dan menoleh kearah Dokter Lintang. "Kok bisa, Pa?"
"Mungkin reaksi mu sama denganku, Angkasa, aku tidak percaya jika kalian adalah keluarga yang aku cari."
"Jadi kamu pernah terikat hubungan bersama sepupu sendiri?" Angkasa menertawainya.
"Dasar kau? Sudah pandai mengejek rupanya?"
"Benar kata pepatah, Dunia ini tak selebar daun talas."
Ungkapan yang agak mustahil tapi begitulah bunyinya.
"Yah, tidak masalah lah. Dari pada menikah dengan orang gila," kata Dokter Lintang, membela diri.
"Baiklah, Kak. Aku rasa hari ini aku harus belajar memanggilmu dengan itu."
"Tidak masalah, yang penting jangan monyet aja ya."
Keluarga itu tertawa lepas, Pelangi dan kedua bocah kecil yang baru saja bermain, keluar. Ia ikut bahagia melihat keluarga tersebut telah menjadi keluarga seutuhnya.
Selesai mengobrol, Angkasa masuk kedalam kamar untuk merebahkan diri. Otaknya masih terngiang-ngiang soal ucapan Sekar dalam mimpinya tadi.
"Mereka? Siapa yang Sekar maksud?" Angkasa terlihat gelisah, Ia berjalan kearah meja untuk mengambil sesuatu. Disanalah muncul bayangan akan sosok Bulan waktu gadis itu panik mencari sebuah bolpoin motif batik yang di tanyain nya.
Angkasa berusaha mengabaikan, karena rasanya itu tidak lah penting. Ia beralih ke sofa dan membuka laptopnya. Baru saja memegang bolpoin benda itu terjatuh.
Angkasa menunduk mengambilnya, Ia teringat lagi pernah melihat kaki Bulan menggantung di bawah ranjang.
"Astaga, ada apa denganku?" Angkasa membenarkan posisinya. Namun rasa tidak nyaman kembali membuatnya menatap kearah ranjang. Sama seperti tadi, Ia melihat Bulan sedang terlelap disana.
__ADS_1
Angkasa tidak bisa bekerja, bayangan gadis tersebut menjelma di dalam otaknya dan itu benar-benar merusak konsentrasinya.