
Mendengar itu Bu Widya tidak terima, sudah Ia duga sebelumnya kalau Surya dan Nami punya maksud terselubung saat Ia mengintip dari balik pintu tadi.
"Makasih sudah jujur, Mas. Aku tidak butuh penjelasan panjang lebar dari mulutmu, karena intinya kamu punya niat menjual anak-anak kita. Tapi sayangnya sampai sekarang rencana itu gagal karena Allah tidak menyetujuinya. Jadi sebagai imbalan atas kebaikan kalian, aku punya hadiah menarik."
Bu Widya meminta beberapa polisi untuk datang dan melakukan penangkapan. Ia sengaja menelpon karena sudah mempunyai bukti yang sengaja diperlihatkannya pada para polisi yang sudah bersembunyi lebih dulu.
"Apa ini, Wid? Tolong jangan penjara kan aku, tolong Wid! Aku menyesal."
"Iya, Mbak. Saya mohon maafkan saya sudah merebut Mas Surya dari Mbak Widya."
Sayang permohonan mereka tidak ada gunanya, sebab kedua pasangan tersebut sudah di borgol dan digiring keluar dari tempat itu.
Akhirnya setelah sekian lama, menyimpan luka. Bu Widya mampu membalas kekejaman dan pengkhianatan Surya terhadapnya. Ia juga berhasil menemukan putri yang sama sekali tidak pernah dikenalnya.
"Bulan, maaf kan Ibu. Tidak tahu jika kamu adalah putri kandung Ibu."
Gadis itu tersenyum, Ia juga bahagia telah bersama Bu Widya yang dulunya dinyatakan meninggal oleh Pak Surya.
"Bulan, juga Bu. Aku tidak menyangka jika sebenarnya aku begitu dekat dengan Ibuku?"
Keduanya hanyut dalam linangan air mata.
"Sudah dong melo nya, bagaimana dengan pernikahan?" Sahut Pak Dewok. Dia rupanya juga penasaran dengan apa yang terjadi di rumah itu hingga nekat menyusul bersama Bu Arumi dan dua bocil mereka.
"Oh... jadi itu cuma_?" Pak penghulu agak ragu melanjutkan.
"Cuma semprotan kecil untuk ngusir hama , Pak," jawab Angkasa.
"Oh, gitu. Tapi katanya anak ini tadi nak Bulan sedang hamil?" seloroh Pak penghulu, sedikit mengernyit bingung.
"Saya tahu, Pak. Tapi setidaknya ikatan itu menghalalkan kami untuk berdekatan meskipun_." Angkasa agak bersedih. Ia tahu apa yang harus di alaminya setelah itu. Ya, menunggu momen tertentu.
"Oh, jadi kamu tahu hukum-hukumnya, benar sanggup tidak bersentuhan sampai Bulan melahirkan?" tanya Pak Penghulu seraya tertawa seolah meremehkan kesanggupan Angkasa.
"Insya Allah, Pak," jawab Angkasa yakin. Sebab bisa bersama Bulan rasanya itu sudah sangat cukup. Yang terpenting sekarang adalah Ia dapat melihat Bulan dan bayi yang ada di kandungan Bulan dalam pantauannya.
"Baiklah, ayo kita lanjutkan. Hari sudah semakin siang," ujar Pak Penghulu.
Beberapa waktu berlalu, setelah mengucapkan janji sakral yang menyentuh hati. Keduanya telah resmi dinikahkan dengan syarat tidak akan berhubungan sampai Bulan melahirkan bayi mereka. Tidak masalah sang Ayah tidak menikahkan langsung karena mereka memutuskan memakai orang lain sebagai wali nikah.
__ADS_1
Angkasa ingin menggapai wajah Bulan dan berniat memberikan satu kecupan. Namun sangat disayangkan, Pak Penghulu menghentikan tindakan tersebut.
"Sabar dulu, nanti kebablasan kan bahaya?" ucapnya menyindir.
Angkasa dan Bulan hanya bisa senyum-senyum sendiri, diledek akibat tidak sabaran.
"Alhamdulilah, akhirnya mereka menikah juga," ucap Dokter Lintang, dihelanya nafas panjang sebagai bentuk rasa syukurnya.
"Iya, Mas. Aku sangat senang. Bulan bisa mendapatkan kebahagiaannya bersama orang yang tepat," sahut Pelangi yang duduk dibelakangnya.
"Oya? Em_ bagaimana dengan kita?" tanya Dokter Lintang iseng. Tapi sesungguhnya dari dalam hatinya.
Pelangi mengerutkan dahi. Ia sedikit tersipu tapi masih mengelak. Tidak mungkin dong, dia tiba-tiba mengiyakan pertanyaan Dokter Muda tersebut. "Maksud Mas Dokter apa ya?"
"Em... Aku ingin_."
"Tante cantik mau jadi mama muda, Kiara. Begitu kan pa?" Sela bocah kecil tersebut yang ternyata menguping pembicaraan mereka.
Sontak mereka yang ada di sana, menoleh kearah keduanya.
"Oh... ya ampun Kiara, kok ponakan Om pinter banget sih? Gimana kalau mereka sekalian dinikahkan saja, Yah?" saran Angkasa. Ia tidak ingin menunggu waktu lebih lama lagi melihat Lintang menduda.
"Ayo Kak, Jawab. Masak sih Kak Pelangi gak suka sama Dokter muda ganteng kayak Kak Lintang." Angkasa sengaja membuat Pelangi mau juga mengeluarkan jawabannya.
"Em... saya tidak keberatan jika Kiara mau mengakui saya sebagai Ibu sambungnya," ucap Pelangi lirih dan sedikit agak pesimis.
"Apa? Benarkah kamu mau?" Dokter Lintang nampak sangat antusias.
Pelangi mengangguk.
"Alhamdulilah, ayo Pak Penghulu nikahkan mereka sekalian!" pinta Pak Dewok.
Hari itu benar-benar menjadi sejarah panjang cerita keluarga Pak Dewok. Jika kedua putra Pak Dewok akhirnya menikah secara bersamaan.
Meski keduanya duda yang ditinggal meninggal, namun nasib mereka begitu luar biasa bisa di pertemukan dengan wanita yang masih gadis.
Malam pertama tepatnya, Angkasa dan Bulan sedang duduk di ranjang berdua. Tapi kali ini keduanya tidak seperti dulu, mereka menjaga jarak lumayan jauh untuk menghindari keinginan mereka.
"Bulan...!" ucap Angkasa dengan suara sedikit sumbang. Ia sendiri merasa sangat kikuk menatap wajah wanita yang kini telah resmi dinikahinya itu.
__ADS_1
"Aku minta maaf, jika aku sudah membuatmu merasa hina. Tapi_."
"Sa, aku yang seharusnya minta maaf karena sudah memanfaatkan keadaanmu," sahut Bulan. Tak mau lagi membuka luka lama yang sudah menjadi masa lalu.
Angkasa tersenyum, Ia tahu kesalahan terbesarnya adalah sudah membuat seorang anak diperut datar yang belum terlihat itu karena keegoisannya.
Angkasa mendekat lalu menempelkan tangannya di perut itu secara perlahan-lahan sesekali mendongak menatap Bulan yang hanya tersenyum memperhatikannya.
"Apa dia menyulitkan mu?" tanya Angkasa, setelah tangannya berhasil menempel disana.
Bulan menggeleng.
"Kamu yakin?"
Sibuk ditanyai, Bulan malah membayangkan jika Ia pasti akan sangat puas jika makan bakso malam-malam dengan porsi besar seperti gumpalan kepala.
Oek...
Sudah beberapa hari ini Ia tidak pernah mual lagi, tapi malam itu mengapa rasa tersebut tiba-tiba menyerang.
"Kamu kenapa, Sayang?"
Angkasa tak sampai hati melihatnya. Ia segera mengambil air putih dan memberikannya pada Bulan.
"Aku gak mau itu?" tolak nya, sambil memasang wajah cemberut.
"Terus apa, dong?"
"Aku mau makan bakso yang besarnya seperti kepala kamu," jawab Bulan, jujur. Tapi Ia tidak yakin Angkasa akan mengabulkan permintaan itu di malam pertama pernikahan mereka.
"Apa kamu keberatan?" tanya Bulan kemudian. Karena sejak tadi Angkasa tidak mengatakan apa pun dan hanya tertegun menatapnya saja.
"Tidak, bukan itu. Aku hanya sedang berpikir apakah ada penjual bakso di malam hari? Tapi kamu tenang saja, kita akan membuatnya sendiri. Ayo ikut!"
Angkasa mengambil panci dan mangkok yang terbuat dari seng di dapur.
"Itu untuk apa?" Bulan terheran-heran di buatnya.
"Ada lah, ayo kedepan!" Angkasa menarik lengannya ke ruang tengah lalu dengan sengaja menabuh kan kedua barang tersebut hingga menimbulkan kebisingan.
__ADS_1
"Bangun! Bangun! Bangun!" Angkasa terus berteriak diiringi bunyi-bunyian sampai semua terbangun.