
Angkasa begitu senang mendengarnya, Ia sangat ingin pergi hari itu juga sebab Ia tidak mungkin mengabaikan kehadiran seorang bayi yang sudah hadir di perut Bulan.
"Kak, kasih tahu aku dimana alamatnya?"
"Tidak, jangan sekarang, Sa." Pelangi takut Bulan akan di bawa pergi oleh orang tua kejamnya jika sampai kehadiran mereka diketahui dan itu akan membuat Bulan sulit untuk dibebaskan.
"Emang kenapa, Kak? Justru akan lebih cepat menyelamatkannya bukankah akan lebih baik?"
"Kamu tidak tahu Ayahku tu seperti apa Angkasa? Dia itu sudah gila. Mana mungkin aku membiarkan Bulan mendapat masalah semakin besar setelah Ia mengorbankan kehidupannya untuk Fatan," sangkal Pelangi. Pemikiran matang harus mereka siapkan untuk bisa melepaskan Bulan.
"Benar kata Pelangi, Adikku. Kita bisa datang pada saat Hari_H kan? Dengan begitu, lebih mudah menjatuhkan mereka didepan orang," timpal Dokter Lintang.
Angkasa terdiam, Ia sedikit menundukkan kepalanya untuk menimang saran dari keduanya.
"Kapan pernikahan itu?" tanya Angkasa lagi, tapi masih terpancar kekhawatiran disana.
"Kalau tidak salah denger sih, besok. Kita akan intai dari pagi, Angkasa," tukas Pelangi. Perasaannya juga tak kalah kacau, meski Ia harus mengorbankan kedua orang tua agar jera bersikap seenaknya, tak masalah baginya, karena itu memang harus dilakukann agar keduanya menyesali tindakan mereka.
...๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ...
Keesokan harinya, dengan tubuh yang lemas tanpa makan sedikit pun. Bulan sudah dilepaskan dari ikatan untuk dihias. Tapi semua itu tak serta merta membuatnya bebas dari pengawasan.
Air mata terus mengalir tiada henti-hentinya. Bulan tidak menyangka nasibnya akan berakhir dengan sebuah pernikahan yang tidak Ia inginkan. Ia juga tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kehamilannya yang masih sangatlah rentan itu.
Bagaimana jika nanti suaminya kasar, pemukul dan suka menganiaya dirinya lebih kejam dari Ayah dan Ibu yang seharusnya mengayomi nya.
Haruskan aku menjalani ini? Mengapa semua begitu menyakitkan? Nak, apakah kita akan baik-baik saja setelah ini?...
"Mbak, tolong jangan menangis? Make_up nya berantakan!" pinta seorang perias. Ia mungkin lelah berulang kali menghapus air mata nya yang terjun dengan bebas. Bahkan berpikir soal keadaan Bulan yang teraniaya pun tidak.
Bulan berusaha tegar, akan tetapi itu tidak mudah. Sebab hatinya menolak untuk itu. Ia terlanjur rapuh, dan hancur. Tidak berselera melakukan apa pun.
Sekitar pukul 09.00 pagi rombongan pengantin pria sudah datang. Mereka sangat antusias, dan terlihat sangat bahagia dengan acara dadakan tersebut.
"Halo, Pak Galah. Terima kasih sudah datang." Mereka menyambut keluarga pria layaknya besan bertemu besan. Padahal wajah Pak Galah tidak tersenyum sama sekali. Mukanya selalu garang dan menyeramkan.
__ADS_1
"O iya, besan perempuan. Selamat datang ya, Bu!" sapa Bu Nami.
"Sama-sama, Bu."
"Terus pengantin prianya mana? Kok gak ada?" Perempuan itu menerawang mobil di belakang keduanya.
"Ada, dia masih dibelakang dengan mobil yang lain."
"Wah, saya lupa. Mobil kaliankan banyak ya, ayo masuk. Kita tunggu pengantinnya di dalem!" Pak Surya dan Bu Nami menghantar ketempat yang disiapkan untuk tempat berlangsungnya ijab Qobul.
"Anak gadismu mana, Surya?" seloroh Pak Galah. Ia tidak mau jika gadis yang akan menjadi menantu nya itu cacat atau berwajah dibawah standar.
"Tenang saja, Pak. Saya pastikan anak saya sangat cantik dan tidak akan mengecewakan Bapak," ucapnya penuh percaya diri.
"Oke, kita buktikan saja semuanya."
Dari sudut lain, Angkasa, Pelangi dan Dokter Lintang sudah bersiap untuk berangkat. Mereka akan menyelamatkan Bulan sebelum semua terlambat.
"Nak, dari tadi kalian begitu sibuk? Emangnya mau kemana?" tanya Bu Arumi.
"Kami akan menyelamatkan Bulan, Bu," jawab Lintang.
"Ha...?" Pak Dewok dan Bu Arumi membelalakan bola matanya.
"A- apa yang terjadi dengan Bulan, Nak?" tanya Pak Dewok, ingin tahu.
"Orang tuaku hendak menjodohkan Bulan dengan anak seorang yang di kenal suka main gila, Om. Hari ini pesta itu akan terjadi. Seharusnya sayalah yang akan menikah, dengan beliau karena kedua orang tua kami sangat ingin saya menjadi menantu orang kaya. Tapi, yang membuat saya menolak adalah kami dijadikan alat untuk menebus hutang kedua orang tua kami yang sangat besar pada Pak Galah. Sehingga, Ia meminta saya sebagai jaminan," ucap Pelangi panjang lebar.
"Ja_ jadi kamu mau dijodohkan?" tanya Dokter Lintang. Ia jadi kesal dan cemburu dengan pernyataan Pelangi.
Gadis itu mengangguk. "Tapi ya itu, karena saya menolak, Makannya saya ada disini sekarang?"
Dari kejauhan, rupanya Bu Widya mendengar semuanya. Diam-diam dia akan ikut ambil andil bagian menyelamatkan Bulan. Tidak rela rasanya gadis mirip putrinya itu menjadi korban kelicikan orang tua yang tidak punya peri kemanusiaan.
Ketiganya bersiap untuk berangkat, mereka segera masuk mobil dan melanjutkan misi mereka. Bu Widya juga sama. Ia kembali masuk ke dalam taksi yang dipesannya.
__ADS_1
"Ikuti mobil itu, Pak!" pinta Bu Widya pada sang sopir.
"Baik, Bu."
Wajah Angkasa sangat tegang, Ia tidak tahu mengapa itu seakan membuatnya seperti takut kehilangan sesuatu yang paling berharga.
"Kak, bisakah kita lebih cepat jalannya?"
"Tenang, Dek. Kita juga harus memikirkan keselamatan kita. Bukankah itu sama pentingnya."
Dalam hati Dokter Lintang tersenyum, Ia yakin Angkasa mulai terlepas dari depresinya, sebab yang Dokter Lintang hanya ada sebuah kecemasan untuk menjemput bahagianya. Fakta lain nya lagi adalah Ia akhirnya bisa membuka hati untuk wanita lain meski Ia sudah tahu jika gadis yang akan di jemput nya itu adalah wanita berbeda dari sang istri.
Beranjak siang, acara semakin ramai. Pemuda yang akan di nikahkan dengan Bulan sudah datang. Ia telah diarahkan untuk duduk di depan penghulu. Harap-harap dalam hati jika gadis yang akan dinikahinya adalah sosok seorang bidadari.
"Cepat panggil Bulan, Bu. Ini sudah siang!" titah Pak Surya.
"Iya, Pak."
Bu Arumi menuju kamar dan melihat Bulan sudah selesai di dandani.
"Sudah semua ini, Mbak?" tanya Bu Nami pada perias.
"Sudah, Bu."
"Wah, cantik ya anak Ibu. Kamu akan membawa berkah buat orang tua mu, Nak. Ayo, keluar, pengantin prianya sudah datang!"
Dengan langkah lemas dan pipi yang masih basah, Bulan menerima saja jika Bu Nami menuntunnya keluar. Ia sudah pasrah dengan takdir. Jika pada akhirnya, hidupnya berakhir dengan sebuah pernikahan menyebalkan dan menyakitkan.
Saat kedua pengantin duduk bersanding dan saling menoleh. Bulan dan pria itu sama-sama terkejut.
"Bulan? Jadi kamu yang akan menikah denganku?" Siapa lagi kalau bukan Akhsan, yang sempat mengenalnya beberapa waktu yang lalu.
"Pak Akhsan...." Walaupun Bulan tahu Akhsan baik, tetap saja Ia tidak bahagia. Karena sebenarnya hatinya sudah menyimpan nama pria lain yang diharapkannya menjadi lelaki yang akan datang menikahinya. Karena bayi dalam kandungannya itu tentu ingin mendapatkan cinta dari Ayah biologisnya sendiri.
"Jika tahu itu kamu, aku tidak akan pernah menolak Bulan," ucap Akhsan bahagia.
__ADS_1