Aku Bukan Istrimu

Aku Bukan Istrimu
Part 86 Di Peralat


__ADS_3

Malam itu tidak seperti malam-malam sebelumnya. Bulan bisa pulang ditemani Bu Rina. Hari ini dengan sangat terpaksa Ia harus memberanikan pulang seorang diri.


Baru berjalan beberapa jam saja, Bulan merasakan ada hal yang aneh. Ia mendengar suara langkah kaki misterius yang mengikuti nya.


Bulan mencoba menoleh kebelakang untuk memastikan, tapi Ia tidak melihat siapa pun ada disana. Ia mengusap jenjang belakang lehernya. Malam itu benar-bener terasa mengerikan.


"Kenapa aku merasa takut takut ya? Apa itu cuma perasaanku?" Bulan mempercepatnya langkahnya, Ia tidak mau ada hal buruk yang tiba-tiba menyerangnya.


Benar saja, saat Ia hendak berlari. Seseorang membekap mulutnya dari belakang dan membuatnya kesulitan berteriak sampai akhirnya Ia pingsan.


...🌺🌺🌺...


Angkasa yang masih tidur sangat terkejut, Foto pernikahannya dengan Sekar terjatuh dari gantungan dan pecah.


"Astaga? apa itu?" Angkasa terduduk dan melihat sekitaran. Benar saja, Ia melihat foto tersebut hancur menyisakan foto yang tertimpa pecahan beling.


"Sekar? apa ini?" Angkasa bangun dan memungut foto tersebut. "Kenapa perasaanku tidak enak? apa angin diluar begitu kencang?" Angkasa membuka jendela. Ia tidak melihat ada angin besar sama sekali. Dahan pohon bergoyang sewajarnya saja.


Angkasa memeluk foto tersebut. Ia sangat takut jika sesuatu yang buruk akan terjadi.


"Ada apa ini? kenapa aku begitu gelisah?" Angkasa berjalan kearah meja dan menggapai ponselnya. Tidak sengaja pemuda itu melihat ada sebuah kertas terselip di bawah kaki meja di tempatnya berdiri.


Karena penasaran yang begitu besar, pemuda tersebut mengambilnya. Rupanya itu foto Bulan dan Fatan yang sedang memegang seekor kupu-kupu cantik.


Angkasa terenyuh, ada perasaan lain yang seakan timbul. Ya, tentang nasib gadis itu. Ia tidak tahu mengapa Ia menjadi orang yang sangat jahat telah membiarkan Bulan pergi dari rumahnya tanpa uang sepeser pun.


"Aku harus menemuinya."


...πŸ’₯πŸ’₯πŸ’₯πŸ’₯...


Keesokan harinya, Angkasa datang lagi ke rumah makan Bu Rina. Ia yakin bisa menemukan Bulan di tempat itu untuk menanyai semua yang menggumpal dihatinya tentang kehidupan gadis tersebut.


"Pagi, Bu!" sapa Angkasa pada Bu Rina. Perempuan 35 tahun itu terlihat sedang panik.


"Iya, Nak. Ada apa ya? maaf kami belum selesai beberes."

__ADS_1


"Gak papa, Bu. Tujuan saya kesini mau menanyakan soal seseorang yang kemaren sempat saya lihat disini."


Angkasa menunjukkan foto Bulan dan Fatan pada Bu Rina.


"Lo, ini kan Bulan. Kami ini sedang risau, Nak. Semalem dia tidak pulang kerumah Ibu," ucap Bu Rina sedih.


"Apa, Bu? Emang dia kemana?"


"Kemaren ada, Nak. Dia sudah bekerja sekitar 4 hari disini. Sampek semalem malah. Dia pulang belakangan, jadi Ibu gak tahu nyampek rumah apa enggak. Soalnya Ibu udah cek ke rumah Ibu yang dia tinggali, tapi rumahnya terkunci," jelas Bu Rina lagi.


Angkasa bertambah panik, kemungkinan terbesarnya adalah ada sesuatu yang buruk telah menimpa Bulan.


Angkasa segera menelpon Bayu, Ia meminta agar asistennya itu pergi mencari keberadaan Bulan. Setelah selesai, Angkasa kembali kerumah.


Ia sendiri tidak tahu harus kemana, sebab Ia tidak tahu keberadaan gadis itu.


Disebuah rumah sederhana di daerah Y, Bulan tengah tertidur di ranjang dalam keadaan terikat. Beberapa menit berlalu, gadis itu mengerjap-ngerjapkan bola matanya dan sangat terkejut ketika tidak bisa bergerak sama sekali.


"Ya Allah, ada apa ini? Siapa yang sudah tega melakukan ini padaku?"


"Ayah, Ibu," ucapnya tak percaya. Jika kedua orang tersebut menjadi biang keladinya. "Apa yang kalian inginkan? Tolong lepaskan aku dari sini, Yah! Aku ini anakmu tapi mengapa kau perlakukan aku seperti binat*ng?"


Bulan terus meronta-ronta, air matanya memaksa menerobos hingga membanjiri bantal di bawah kepalanya.


"Diam lah anak manis, kami tidak akan melakukan apa-apa. Hanya saja, Aku dan Ayahmu yang gagah ini mau menjadikan mu sebagai alat penebus hutang dengan anak Pak Galah," ujar Ibu tirinya sambil tersenyum sinis.


"Tapi kenapa harus aku, Bu? Sepuluh tahun kalian menelantarkan aku dan sekarang, kenapa aku yang harus di jadikan korban kepuasan kalian!" Kebencian yang sudah tertanam pada sosok orang tua tak berhati menambah beribu-ribu kali lipat dari sebelumnya.


"Seharusnya kami mengorbankan Pelangi, tapi beruntung dia berhasil melarikan diri. Jadi terpaksa kami menukarnya dengan kamu. Apa lagi setelah Ayah perhatikan kami lebih menggoda ketimbang anak tomboi itu. Lumayan kan kalau Pak Galah memberikan bonus tambahan." Sang Ayah dari dulu memang berhati iblis. Ia tidak pernah memikirkan keadaan anak-anaknya. Yang ada diotak mereka hanyalah kesenangan dan Uang.


"Ayah keterlaluan, Bulan tidak mungkin menikah, Ayah. Bulan punya kehidupan sendiri."


"Sttt... ." Ibu tirinya meletakan jari telunjuk di bibir Bulan. "Kamu diam saja, dia anak orang kaya kok. Jadi saya pastikan kamu hidup enak disana."


Beberapa waktu berlalu, ponsel Pak Surya berdering.

__ADS_1


"Ini sudah jatuh tempo, Sur. Apa kau sudah mempersiapkan putri mu? Kalau belum, kamu harus menukarnya dengan nyawamu," ancam Pak Galah.


"Oh... tenang, Pak. Semua sudah beres, kalian boleh datang hari minggu untuk menikahinya," ujar Pak Surya.


"Apa?" Bulan tidak percaya itu. Jika hari minggu itu artinya Ia harus siap dinikahkan besok lusa.


"Baiklah, kami tunggu. Hari itu, awas saja kalau kamu mangkir lagi."


Sambungan terputus.


"Asyik, kita pasti mendapat uang lagi kan, Yah?"


"Iya kamu tenang saja, Ayah akan nego dengan Pak Galah."


"Baiklah besok, Ibu mau ke pasar untuk menyiapkan sedikit camilan."


Keduanya meninggalkan Bulan yang menggeleng meratapi nasibnya. Ia sangat ingin menjerit, tapi Ia ingat jika perutnya ada kehidupan yang harus Ia jaga.


"Ayah benar-benar keterlaluan, dia itu manusia atau bukan sih? Dari dulu tidak pernah berubah. Ibu, jika tahu nasibku begini, lebih aku mati saja bareng Ibu. Aku lelah, Bu. Lelah karena tidak ada lagi yang bisa buat aku kuat menghadapi semua ini."


Bulan mulai merasa lapar, seharian ada disana kedua orang tua itu tidak memberinya makanan apa pun.


"Ibu, Ibu!" panggilnya dari dalam kamar.


Gubrak! pintu terhentak kuat.


"ada apa?" Perempuan kejam itu melotot tajam.


"Bulan lapar, Bu. Bulan mau makan."


"Ya elah, nyusahin aja lo."


Ibu tirinya keluar sebentar dan kembali dengan satu bungkus roti yang Ia lempar kewajah Bulan.


"Tu makan, nasi nya habis Ibu gak masak. Kami saja beli di warteg depan."

__ADS_1


Perempuan bengis tersebut kembali menutup pintu. Bulan yang ingin anak dikandungnya selalu sehat berupaya menggapai roti tersebut dengan mulutnya. Sebisa mungkin bisa merobek hingga Ia makan dengan menjadikan lengan sebagai pendorongnya. Air mata tercurah bagai hujan yang tidak ada henti-hentinya.


__ADS_2