
Angkasa segera menuju keruangan dimana ada Dokter Lintang, Baru sampai ambang pintu, Dokter Lintang sudah keluar dari kamar pasiennya.
"Dok...!" panggilnya buru-buru.
"Angkasa, ada apa?"
"Hari ini istriku meminta pulang, apa kah dia boleh keluar hari ini?" tanya Angkasa tak sabar.
"Oh.. haruskah sekarang?" Dokter Lintang menimang terlebih dahulu.b"Em, begini saja Angkasa. Aku cek dulu kondisinya jika memang sudah tidak ada masalah, kamu boleh membawanya."
"Oke, Dok. Ayo...!"
Keduanya berjalan keruangan Bulan yang tengah duduk menyandarkan tubuh di ranjang yang ditinggikan separuhnya.
"Mau pulang sekarang ya?" tanya Dokter Lintang ramah. Sembari mengecek selang infus yang hampir habis.
"Iya, Dok. Saya mau praktek," jawab Bulan membalas senyuman sang Dokter membuat Ia mengerutkan dahi.
"Abaikan, Dok. Dia hanya menggoda Dokter." Angkasa tidak ingin Dokter Lintang mengetahui maksud ucapan Bulan yang menurut nya adalah sebuah privasi dalam rumah tangga.
"Oh... begitu ya." Dokter Lintang mencuri tatapan kearah Bulan. Ada rasa aneh yang muncul dihati nya setiap kali melihat wajah gadis itu. Sesuatu yang berbeda yang bisa memberi kebahagian tersendiri.
Bulan senyum-senyum sendiri mengamati Angkasa yang mendekat dan mengusap pucuk kepalanya penuh kelembutan. Sebagai suami Angkasa akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk istrinya.
Ada rasa enggan menyaksikan keromantisan mereka, tapi Dokter Lintang menyingkirkan perasaan nya jauh-jauh.
Astaga, Lintang. Kamu sadar dong, perempuan yang kamu lihat ini sudah jadi milik orang lain...
Rutuk Dokter Lintang dalam hati. Jujur saja sejak pertama kali melihat Bulan, Ia mengagumi kepribadian yang ada pada dirinya. Sesuatu yang unik yang tidak dimiliki oleh wanita lain.
Angkasa dan Bulan saling tatap, mereka merasa Dokter Lintang tengah melamunkan sesuatu.
"Ada apa dengannya?" tanya Bulan, Ia tak nyaman sebab bola mata Dokter Lintang terus memandangnya.
Angkasa mulai berpikir negatif, tatapan Dokter Lintang yang sangat dalam, pantang di tujukan pada Bulan yang sudah syah jadi istrinyam
Plok!
Angkasa menyadarkan lamunannya hingga Dokter Lintang terperanjat.
"Mikirin apa, Dok?"
__ADS_1
"Eh, oh itu. Maaf Angkasa, saya memikirkan sesuatu. Tapi tidak apa-apa kok."
Usai membereskan semua peralatan yang di gunakan Bulan tadi, Dokter Lintang menuliskan beberapa resep obat.
"Angkasa, kamu tebus obat ini ya dan jangan lupa bawa dia cek tiga kali sehari untuk mengganti perbannya!" pesan Dokter Lintang.
"Oke, Dok. Saya akan menebusnya nanti."
"Baguslah, aku yakin kamu mampu mengurus istrimu dirumah," ucap Dokter Lintang lagi, sebelum akhirnya meninggalkan mereka berdua.
Angkasa merapikan barang-barang mereka lalu menuntun Bulan keluar. Tak jauh dari kamar yang dihuni Pelangi. Gadis itu berencana hendak melarikan diri dari sana secara diam-diam. Ia sadar, jika sekarang sepeser pun tak punya uang untuk membayar.
Pelan-pelan menapakkan kaki dilantai, sambil berpegangan pada ranjang. Pelangi berhasil turun, Ia berjalan dengan bantuan setiap dinding yang dilewatinya.
Sampai di ambang pintu, Ia menoleh kesana kemari memastikan kondisi disana aman. Jika ada yang tahu, mereka pasti melarang dia pergi sebelum membayar tagihannya.
Setibanya di lorong sebelah kiri, tak sengaja Pelangi menabrak Bulan yang hampir terjatuh untungnya Angkasa menahan tubuh Bulan.
"Maaf, Mbak. Maaf..!" mohon Pelangi. Bulan mendongak menatap wajah didepannya dan itu mengejutkan Pelangi.
"Bulan?" sentaknya, tak percaya.
"Eh, Mbak. Kalau jalan hati-hati dong, istriku ini baru pulih dari kecelakaan," gerutu Angkasa kesal.
"Bulan, aku sudah lama mencarimu. Dimana Fatan, kata
Ibu dia bersama mu. Ayo Bulan katakan dimana Fatan?"
Bulan terlihat bingung, Ia merasa tidaklah mengenal Pelangi ataupun Fatan yang disebutkan tadi.
Angkasa tidak suka dengan kelakuan Pelangi langsung menepis tangganya menjauh dari Bulan. "Sudah salah, nyolot lagi. Dia Sekar bukan Bulan, kau buta ya?"
"Eh, Mas dia ini Bulan saudara tiriku. Mungkin situ yang katarak," balas Pelangi tidak terima.
"Oh iya, siapa tadi nama adikmu?" tanya Angkasa ingin diperjelas.
"Ngapain aku kasih tau kamu, aku sebut juga kamu gak akan kenal," sinis Pelangi.
Melihat perdebatan keduanya Bulan ikut emosi.
"Sudah cukup, diam!" bentaknya geram, meninggikan volume suaranya pada mereka. "Maaf ya Mbak, aku gak kenal situ, jadi jangan ganggu kita," kata Bulan.
__ADS_1
"Tapi aku gak mungkin salah, kamu Bulan saudara tiriku," desak Pelangi. Ia sangat yakin akan pendapatnya tentang orang yang Ia lihat.
"Bulan, tolong jujur. Jangan pisahkan aku dengan Fatan. Aku tahu kamu dendam kan gara-gara Ibuku, Ayahmu meninggalkan Ibu mu dan juga membuangmu."
Pelangi berlutut dan memohon agar Bulan memberi tahukan keberadaan Fatan adiknya.
"Maaf, Mbak. Anda salah orang. Saya tidak tahu apa-apa!" Bulan menarik lengang Angkasa menjauh dari Pelangi yang terus saja memanggil namanya.
"Bulan, aku Pelangi. Kita pernah bertemu beberapa kali, dulu, dan aku yakin wajahmu tidak banyak berubah!" teriak Pelangi hingga mengundang tatapan orang-orang disana termasuk Dokter Lintang.
"Hey, tunggu!" panggil Dokter Lintang. Pelangi yang mengetahui Dokter Lintang mengejarnya segera panik dan langsung berlari menjauh.
"Tahan dia!" titah Dokter Lintang pada beberapa orang didepannya.
Karena rasa hormat mereka pada nya, beberapa pria menahan Pelangi.
"Ayo balik kekamar, jangan mencoba melarikan diri ya!" tukas Seorang diantaranya.
"Kamu mau kemana, ha? ayo kembali!" Dokter Lintang menggeret tangannya menuju kamar.
"Tidak, Dok. Lepaskan saya. Disini tidak enak,makanan pun hanya bubur. Saya suka steak, spaghetti , Fizza dan makanan berkelas lainnya," ujar Pelangi meronta-ronta.
"Lupakan makanan itu, tidak baik di makan setiap hari." Dokter Lintang terus menarik paksa tangannya hingga memerah.
"Dok, saya itu sudah bilang. Rumah sakit itu tidak enak. Saya bukan orang yang sakit Dok. Tubuh saya hanya lemas saja gara-gara tenggelam kemaren," mohon Pelangi lagi.
"Tidak usah menerangkan saya pun tahu." Dokter Lintang mendudukkan dirinya di ranjang. "Ayo istirahat!"
"Tapi, Dok_!"
"Jangan membantah, saya paling tidak suka di lawan," ujar Dokter Lintang dingin.
"Astaga, kenapa rumah sakit ini harus merekrut Dokter galak sepertimu sih," omel Pelangi tak kunjung surut.
Dokter Lintang hanya menatapnya tajam lalu memasang kan lagi selang infus di tangannya.
"Aw, pelan-pelan dong, Dok. Sakit tauk!" marahnya lagi.
"Kalau gak mau sakit dua kali ngapain nekat," sela Dokter Lintang yang akhirnya membungkam mulut Pelangi.
"Ingat ya, saya tidak akan mengijinkan kamu keluar sebelum saya bilang boleh," ujar Dokter Lintang menambahi.
__ADS_1
"Is, aku paling benci Dokter. Orang sakit di suntik jarum yang banyak. Bukankan itu memperparah yang sakit," cela Pelangi, melotot pada Dokter Lintang.
"Oya? kalau tidak mau bertambah sakit karena saya suntik sebaiknya kamu diam disini. Pastikan buang keinginan mu untuk melarikan diri," tandas Dokter Lintang.