
" Tadi sore diberitakan bahwa para petugas masih mencoba mencocokkan dan mengidentifikasi bagian-bagian tubuh para korban yang sudah hangus." Kata Daffa.
Dion telah membaca berita itu di surat kabar. Menurut laporan, pemandangan di situ seperti layaknya di neraka saja.
Setiap kali dia ingat bahwa Bianca dan Syila mungkin berada di tengah-tengah para korban itu, perutnya jadi mual. Malam hari Dion tak bisa tidur memikirkannya. Setiap korban ada cerita khususnya, alasan mengapa mereka berada di penerbangan itu. Setiap jenazah, memilukan. Kenyataan di lapangan memang lebih menyeramkan.
Dalam khayalannya, Dion menambahkan nama Bianca dan Syila pada daftar korban: Istri dan putri calon gubernur, Dion Sinaga, berada di antara para korban penerbangan 398.
Tetapi, takdir mengatakan lain. Mereka tidak meninggal. Disebabkan keberanian Bianca yang mengherankan, mereka selamat dari kecelakaan itu dan masih hidup.
" Astaga, lebat benar hujannya," terdengar suara Nelson yang keras, memecah kesepian, waktu dia masuk. Dia menyandang sebuah kotak besar berisi pizza di pundaknya. Dan dengan tangannya yang sebelah lagi dia mengguncang-guncang payungnya yang basah.
" Kebetulan, kami sedang kelaparan," kata Daffa.
" Enak sekali baunya. Mau minum apa?" tanya Dion, sambil pergi ke lemari es kecil, yang telah dilengkapi isinya oleh ibunya pada malam pertama dia menginap di situ. "Mineral biasa atau minuman ringan?"
" Yang biasa saja."
" Kau Bang?"
" Yang bersoda untukku."
" Bagaimana keadaan di rumah sakit?" tanya ayahnya.
" Dion sudah menceritakan pada Bianca tentang luka-lukanya," kata Daffa sebelum Dion berkesempatan menjawab.
" Begitukah?" Nelson mengangkat sepotong pizza yang masih panas ke mulutnya dan menggigitnya. Sambil mengunyah dia bergumam, "Yakinkah kau bahwa itu bijak?"
" Tidak. Tapi kalau saya berada di tempatnya, Saya pasti ingin tahu apa yang telah terjadi. Apakah Deddy tak begitu?"
" Kurasa begitu." Nelson meminum mineral yang dibawakan Dion. "Bagaimana ibumu waktu kau tinggalkan?"
" Keletihan. Aku minta Mom untuk pulang kemari, biar aku saja yang menunggui Syila malam ini, tapi kata Mom mereka sudah terbiasa berdua sekarang. Dan demi kebaikan Syila dia tak mau mengubahnya."
" Itu yang dikatakannya padamu," kata Nelson." Padahal mungkin dia melihat keadaanmu, dan dia memutuskan bahwa kau sendiri lebih memerlukan tidur daripada dia sendiri. Kaulah yang keletihan."
" Begitu kataku tadi," kata Daffa.
__ADS_1
" Yah, mungkin pizza ini bisa membantu mengembalikan tenaga." Dion mencoba memperdengarkan nada lucu ke dalam suaranya.
" Jangan meremehkan nasihat kami, Dion." Nelson memperingatkan dengan tegas. "Kau tak boleh merusak kesehatanmu sendiri."
" Aku tak berniat begitu." Dia mengangkat kaleng minuman ke arah mereka, "Karena Bianca sekarang sudah sadar dan tahu apa yang dihadapinya, aku bisa beristirahat lebih baik."
" Ini akan merupakan cobaan yang lama, bagi semua orang," kata Daffa.
" Aku senang kau mengingatkan hal itu." Dion menyeka mulutnya dengan tisu. Dia lalu memberanikan dirinya mengetes semangat mereka.
" Barangkali sebaiknya aku menunggu beberapa tahun lagi untuk mencalonkan diri."
Selama beberapa detik, terasa ketegangan di seputar meja. Lalu Nelson dan Daffa berbicara serempak, masing-masing mencoba supaya suaranya bisa mengatasi yang lain.
" Kau tak bisa mengambil keputusan seperti itu sebelum kau tahu bagaimana hasil pembedahan Bianca."
" Ingat berapa banyak yang sudah kita lakukan."
" Terlalu banyak orang mengharapkanmu."
" Jangan sekali-kali berpikiran untuk berhenti, Dik. Ingat, pemilihan yang akan datang inilah yang paling penting."
" Bianca tak pantas mendapatkan pertimbangan semacam itu darimu."
Mata coklat Dion tertuju pada abangnya dengan tajam. "Dia istriku," katanya bertekanan.
Suatu keheningan yang tegang menyusul pernyataan itu. Sambil menelan ludah, Nelson berkata, "Kau tentu harus berada di samping Bianca sebanyak mungkin, selama cobaan yang dialaminya. Tindakanmu mengagumkan sekali. Memikirkan dia dulu, dan menomor duakan karir politikmu. Kebijakan semacam itu memang kuharapkan darimu."
Nelson menyandarkan tubuhnya pada meja kecil bulat. Untuk menekankan kata-katanya, Nelson menambahkan, "Tapi ingat, Bianca sendiri mendorongmu untuk mencapai tujuanmu. Kurasa dia akan sedih sekali kalau kau sampai menarik diri dari pertarungan itu demi dia. Sedih sekali," katanya, sambil mengacungkan jari telunjuknya.
" Lagi pula, pandangan orang mengenai ini akan tak baik," lanjutnya, "Sebetulnya kecelakaan itu bisa berbalik menguntungkan kita. Itu merupakan publikasi cuma-cuma."
Dion merasa jijik mendengar percakapan itu, lalu dilemparkannya tisunya yang sudah lusuh dan bangkit dari kursinya. Beberapa lamanya dia berjalan hilir mudik mengelilingi ruangan itu." Apakah Deddy sudah merundingkan soal itu dengan Edi? Tadi dia berkata begitu pula waktu aku menelponnya untuk merundingkan hal itu."
" Dia manajer kampanyemu." Wajah Daffa berubah kesal, membayangkan adiknya akan menyerah sebelum kampanye dimulai. "Dia dibayar untuk memberikan nasehat yang baik bagimu."
" Maksudmu untuk merongrongku tak sudah-sudahnya."
__ADS_1
" Edi ingin melihat Dion Sinaga menjadi gubernur, seperti juga kami semua. Dan hasratnya itu tak ada hubungannya dengan gaji yang diterimanya."
Sambil tersenyum lebar, Nelson bangkit, lalu menepuk punggung Dion. "Kau akan mengikuti pemilihan pada bulan November. Bianca akan berada di garis depan untuk mendukung."
" Baiklah kalau begitu," Kata Dion datar. "Aku harus yakin bahwa aku bisa mendapatkan dukungan kalian yang tanpa pamrih. Aku harus bisa memikul tuntutan-tuntutan yang muncul selama bulan-bulan yang akan datang, dan yang lain-lain juga."
" Kami selalu mendukungmu, Dion," kata Nelson meyakinkan.
" Apakah kalian akan bersabar dan mengerti bila aku tak bisa berada di dua tempat sekaligus?" Dion memandang ayah dan abangnya bergantian." Aku akan berusaha keras untuk tidak mengorbankan tanggung jawabku terhadap pemilihan itu, namun demikian, aku tetap saja hanya seorang diri."
" Kami akan menutupi kekuranganmu," Nelson meyakinkannya.
" Apalagi kata Edi?" tanya Daffa yang merasa lega sekali karena krisis itu telah berlalu.
" Dia memperkerjakan para sukarelawan untuk memasukkan daftar pertanyaan ke dalam amplop-amplop yang akan dikirimkan minggu ini juga."
" Bagaimana dengan penampilan di depan umum? sudahkah diatur nya?"
" Sudah kukatan padanya untuk menolak pidato percobaan di hadapan para siswa sekolah menengah."
" Mengapa?" tanya Daffa.
" Para siswa sekolah menengah tak memberikan suara," kata Dion masuk akal.
" Tapi orang tua mereka ikut. Dan kita memerlukan orang-orang itu untuk memihak pada kita."
" Mereka berada di pihak kita."
" Jangan meremehkan sesuatu."
" Tidak," sahut Dion. "Tapi inilah salah satu saat di mana aku harus mempertimbangkan kepentinganku. Bianca dan Syila akan memerlukan banyak sekali waktuku. Aku harus lebih teliti memilih kemana aku harus pergi dan kapan. Setiap pidato harus berarti sekali, dan kurasa para pendengar yang terdiri atas para siswa sekolah menengah tidak akan terlalu berarti."
" Mungkin kau benar," sela Nelson diplomatis.
Dion menyadari bahwa ayahnya hanya menghiburnya, tapi dia tak peduli. Dia letih, dan ingin tidur.. sekurang-kurangnya mencoba tidur. Dengan sehalus mungkin dicobanya untuk menyampaikan hal itu kepada abang dan ayahnya.
Waktu dia mengantar mereka keluar, Daffa berbalik lagi dan merangkulnya dengan serba salah. "Maaf aku mendorongmu malam ini, Aku tahu banyak sekali yang harus kau pikirkan."
__ADS_1
" Kalau begitu, jika aku berubah menjadi malas kuharap kau mau merongrong ku terus." Dion memberinya senyuman yang sangat menawan yang seharusnya tampak pada poster-poster kampanye.