
Ia merangkak naik menembus kabut yang kelabu.
Pasti ada celah yang lapang disana, katanya meyakinkan diri, meskipun ia belum bisa melihatnya. Sejenak ia berpikir bahwa tak ada gunanya berjuang untuk mencapainya, tetapi sesuatu dibelakangnya demikian mengerikan hingga ia terdorong untuk terus maju.
Ia merasakan sakit yang amat sangat, membuat kesadarannya hilang timbul. Rasa sakit itu ada di mana-mana, di dalam tubuh maupun di permukaannya. Sakitnya hebat sekali. Lalu, ketika dirasanya ia tak dapat menahannya lagi, ia pun merasa diselubungi kehangatan mati rasa, suatu obat mujarab yang mengaliri pembuluh darahnya. Segera setelah itu, keadaan tak sadar yang memang diharapkannya menyelubunginya lagi.
Tetapi, saat-saat sadarnya menjadi lebih lama.
✈️
Dalam keadaan setengah sadar, didengarnya suara-suara tak jelas. Dengan berkonsentrasi sekuat tenaga, ia mulai mengenalinya, suara desis alat pernapasan yang tak ada hentinya, bunyi mesin yang teratur, sol-sol sepatu yang berdenyit di lantai, dan dering telepon.
Suatu saat, waktu dia mulai siuman, terdengar olehnya suatu percakapan dengan suara halus dan samar-samar yang terjadi di dekatnya.
".... beruntung sekali.... padahal begitu banyak bahan bakar di seluruh tubuhnya.... begitu banyak luka bakarnya, tapi kebanyakan hanya di permukaan luar saja."
" Berapa lama hasilnya?"
" butuh kesabaran.... traumanya lebih menyakitkan daripada cedera... tubuhnya."
" Bagaimana kelihatannya nanti... setelah itu?"
"... ahli bedah besok. Ia akan.... prosedurnya dengan anda."
" Kapan?"
".... tak ada bahaya lagi... Infeksi."
" Akan... mempengaruhi janinnya?"
" Janin? Istri Anda tak hamil."
__ADS_1
Ia tak mengerti arti kata-kata itu. Kata-kata itu dilemparkan ke arahnya seperti meteor meteor. Ia ingin menghindarinya, karena kata-kata itu mengganggu kehampaan yang menenangkan. Ia mendambakan keadaan tak tahu dan tak menyadari apa-apa. Maka, dihilangkannya suara-suara itu dan sekali lagi tenggelam ke dalam bantal tak sadarkan diri.
" Nyonya Sinaga? Bisakah Anda mendengar saya?"
Tanpa disadarinya ia memberikan tanggapan, dan keluarlah erangan halus dari dadanya yang sakit. Ia mencoba membuka kelopak matanya, tetapi tak bisa. Salah satu diantaranya dipaksa membuka dan satu berkas cahaya menembusi tengkorak kepalanya, menimbulkan rasa sakit. Akhirnya cahaya itu dipadamkan.
" Ia sudah sadar, segera beritahu suaminya." Kata suara yang tak tampak pemiliknya itu. Ia mencoba memalingkan kepalanya ke arah suara itu, tetapi ternyata kepalanya tak bisa digerakkan. "Apakah kau menyimpan nomor telepon hotel mereka?"
" Ada dokter. Tuan Sinaga telah memberikannya pada kami, bila sewaktu-waktu istrinya sadar dan ia tak berada di sini."
Sedikit demi sedikit kabut kelabu yang masih tertinggal, menguap. Kata-kata yang semula tak dipahaminya, kini berkaitan dan membentuk pengertian dalam benaknya. Dia mengerti kata-kata itu, namun tak tahu maksudnya.
" Saya tahu anda telah mengalami sakit yang hebat, Nyonya Sinaga. Kami sedang melakukan segala-galanya untuk menghilangkan rasa sakit itu. Anda tidak akan bisa berbicara, jadi tak usah mencoba. Tenang sajalah. Keluarga anda akan datang sebentar lagi."
Denyut nadinya yang cepat, merambat ke kepalanya. Ia ingin bernafas, tapi tak bisa. Sebuah mesin yang bernafas untuknya. Lewat sebuah selang di dalam mulutnya, yang memaparkan udara langsung ke dalam paru-parunya.
Ia mencoba membuka matanya lagi. Satu matanya bisa terbuka sebagian. Lewat celahnya, Ia melihat cahaya yang membingungkan. Matanya terasa sakit kalau harus memandang ke satu benda, tapi ia berusaha melakukannya hingga bentuk-bentuk yang tak jelas mulai tampak.
Ya, ia berada di rumah sakit. Itu sudah diketahuinya.
Jantungnya mulai berdebar kuat. Sesuatu langsung mendatangi sisinya. "Nyonya Sinaga, Anda tak perlu takut. Anda akan sembuh." Orang itu berkata.
" Denyut jantungnya terlalu tinggi," kata sosok kedua dari sisi lain tempat tidurnya.
" Kurasa Ia hanya ketakutan saja." ia mengenalinya sebagai suara yang pertama. "Kepanikannya terjadi karena Ia tak tahu di mana ia berada... tak mengerti mengapa begini."
Satu sosok yang berpakaian putih membungkuk di atasnya. "Semuanya akan baik-baik saja nyonya. Kami sudah menelepon Tuan Sinaga, dan ia sedang dalam perjalanan. Anda akan senang bertemu dengannya bukan? Ia senang sekali anda sudah sadar kembali."
" Kasihan. Bayangkan terbangun dan harus menghadapi ini semua."
" Aku tak bisa membayangkan diriku hidup setelah mengalami pesawatku yang meledak."
__ADS_1
Suatu jeritan tanpa suara bergema dan nyaring dalam kepalanya.
Ia ingat.
Logam yang berbenturan. Orang-orang yang menjerit. Asap, kabut, dan kegelapan. Lalu, nyala api dan rasa takut yang hebat.
Secara otomatis ia menjalankan instruksi-instruksi keadaan darurat yang telah dilatihkan oleh beratus petugas penerbangan pada beratus-ratus penerbangan yang telah dijalaninya.
Begitu berhasil keluar dari badan pesawat yang sedang terbakar itu, ia mulai berlari dengan membabi buta melalui suatu dunia yang bermandikan darah dan asap. Meskipun merasa tersiksa, ia terus saja berlari, sambil mencengkram.....
Mencengkeram apa? Ia ingat bahwa itu adalah sesuatu yang berharga.. sesuatu yang harus dibawanya keluar dengan selamat.
Ia ingat bahwa ia jatuh. Saat itu diresapinya apa yang diduganya akan merupakan pandangannya yang terakhir tentang dunia. Ia bahkan tak merasakan sakit saat tubuhnya terbentur ke tanah. Waktu itu ia sudah diselubungi keadaan tak sadar, yang hingga saat ini telah melindunginya dari rasa tersiksa bila teringat.
" Dokter!"
" Ada apa?"
" Denyut jantungnya meningkat hebat."
" Baiklah kita tenangkan dia sedikit. Nyonya Sinaga," kata dokter dengan tekanan, "Tenanglah semuanya akan beres. Tak ada yang perlu di risaukan."
" Dokter Luis, tuan Sinaga sudah tiba."
" Tahan dia di luar, sampai kita bisa menenangkan istrinya."
" Ada apa?" Suara yang baru itu agaknya datang dari jauh sekali, namun mengandung wibawa.
" Tuan Sinaga, beri kami waktu..."
" Bianca?"
__ADS_1
Tiba-tiba ia menyadari kehadirannya. Orang itu merunduk dekat sekali pada dirinya, berbicara padanya dengan suara halus yang meyakinkan. "Kau akan sembuh. Aku tahu kau ketakutan dan risau, tapi kau akan sembuh. Demikian pula Syila, syukur lah. Ada beberapa tulang yang patah, dan beberapa bagian lengannya terbakar. Mama tinggal di rumah sakit menungguinya. Dia akan sembuh juga. Kau dengar aku Bian? Kau dan Syila selamat, itulah yang terpenting sekarang."
Di belakang kepala orang itu ada cahaya pijar yang menyilaukan, jadi raut mukanya tak jelas. Namun ia bisa mendapatkan gambaran kuat yang membentuk kesan samar mengenai rupa orang itu. Ia berpegang kuat-kuat pada setiap kata menenangkan yang diucapkannya. Dan kerena orang itu mengucapkannya dengan penuh keyakinan, maka ia mempercayainya.