
Angkasa tidak membuang waktu, Ia meluncurkan aksinya hingga Bulan tak kuasa menolak setiap gerakan bibir dan lidah nya. Sentuhan tersebut selalu saja mematikan dan degup jantungnya yang tadinya tenang berganti menjadi ritme cepat.
Dirasa sudah cukup musik romantis itu menjadi mode dansa. Mereka yang sudah mendapat pasangan masing-masing langsung melingkarkan tangan mereka ke tubuh pasangannya
Bulan lagi-lagi kaku, dia tidak tahu harus apa. Menoleh kesana-kesini juga bingung.
Angkasa yang melihat ekspresinya sangat heran. Tidak biasanya Sekar yang lihai dalam apa pun bersikap seolah tidak paham.
"Hey, sayang, kenapa? Sini mendekat!" Angkasa menarik pinggang Bulan merapat ke tubuhnya.
Tatapan keduanya bertemu dan Bulan bisa membaca apa yang kini menari-nari di dalam sana. Tentu saja sebuah malam pertama yang akan terjadi beberapa waktu lagi.
(Siapkah aku menjalani itu, nanti. Mengapa hatiku tidak bisa tenang. Aku takut melakukannya. Jalan apa yang harus aku tempuh. Pilihan ini sangat memberatkan ku) Batin Bulan bergejolak. Suhu tubuhnya seakan panas dingin karenanya.
Dansa itu berakhir singkat. Mereka diminta untuk duduk terlebih dahulu ditempat yang sudah disediakan.
"Baiklah, karena seru-seruannya udah selesai. Sekarang waktu spesialnya buat yang ULTAH. Pak Angkasa dan Bu Sekar, aku tahu kalian bisa nyanyi. Silakan naik keatas pentas untuk berduet!"
Bulan membelalakan mata dan melirik kearah Angkasa. Ia yang tidak pandai bernyanyi langsung kembali gugup.
Aduh, yang benar saja. Aku kan tidak bisa menyanyi...
Angkasa yang selalu siap siaga segera mengulurkan tangan didepan Bulan. Tidak ada yang tahu kalau dirinya benar-benar adalah orang yang bodoh yang tidak mengerti soal yang satu itu.
Namun terpaksa nya Bulan menyambut tangan suami pura-pura nya melangkah keatas pentas.
"Sayang, kamu gerogi ya?" bisik Angkasa ditelinganya. Angkasa memandangnya sejenak lalu menerima dua buah microfon pemberian Pembawa acara.
Angkasa lagi-lagi mengulurkan salah satunya. Tak lama lagu request dari Angkasa yang sudah dipersiapkan berdenting. Lagu itu memanglah lagu kesukaan Sekar. Ia pasti akan menyanyikannya ketika sedang berulang tahun.
Hadirmu begitu berarti....
Mengisi setiap hari-hariku...
Baru saja sepenggal kalimat, Bulan tiba-tiba batuk. Ia sengaja melakukan itu agar tidak berlama-lama terjebak situasi yang sulit. Melihat itu Angkasa panik dan menghentikan lagunya.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Gak tau tenggorokan gatal," jawab Bulan yang terus terbatuk-batuk.
"Tolong ambilkan minum!" perintah Angkasa pada mereka. Bayu langsung berlari kearah meja prasmanan meraih satu gelas air putih dan memberikannya pada Angkasa.
Tamu yang menyaksikan itu hanya bisa menonton dari bawah. Tak jarang juga ada cicit buruk diantara mereka.
"Kamu sudah baik kan?" tanya Angkasa lagi setelah Bulan meminumnya.
Bulan mengangguk pelan. Angkasa jadi tidak enak hati pada para tamu undangan yang pasti kurang nyaman memutuskan meminta maaf.
"Untuk para tamu undangan mohon maaf atas kejadian ini ya, kami tidak merencanakannya sama sekali."
Bulan benar-benar merasa bersalah, Ia melakukannya sebenarnya sengaja.
Maaf, Angkasa. Aku merusak momen kebahagian mu...
"Em...." Angkasa menoleh lagi kearah Bulan yang belum baik-baik saja. "Karena Sekar sedang tidak enak badan, biar aku saja yang menyanyi," imbuhnya lagi. Keputusan itu adalah yang terbaik.
Namun untuk menebus kesalahannya yang tidak bisa menyanyi Bulan menawarkan kepiawaiannya yang lain.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku main piano untukmu," ujar Bulan. Angkasa tersentak. "Kamu yakin, kamu bisa main piano?"
Setau nya Sekar tidak pernah bercerita atau menunjukkan keahliannya yang satu itu. Dulu Bulan pernah belajar pada seseorang yang sampai saat ini menjadi dereten teratas orang yang telah berjasa dalam hidupnya.
Bulan menuju sebuah piano dan mendudukkan diri disana. Tangannya mulai menekan satu demi satu tombol musik didepannya dan itu sangat menakjubkan.
Angkasa beralih mengambil gitar, dia juga punya kepiawaian yang akan ditunjukkannya.
Suara alunan lagu mulai terdengar dan lagu romantis milik penyanyi Rezky Febian berjudul Kesempurnaan Cinta menjadi pilihannya.
🥀Kau dan aku tercipta oleh waktu
🥀Hanya untuk saling mencintai
🥀Mungkin kita ditakdirkan bersama
🥀Merajut kasih, menjalin cinta
🏵️Berada di pelukanmu, mengajarkanku
🏵️Apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta
🏵️Berdua bersamamu, mengajarkanku
🏵️Apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta
🌺Kau dan aku (kau dan aku) tercipta oleh waktu
🌺Hanya untuk saling mencintai
🌺Mungkin kita ditakdirkan bersama
🌻Berada di pelukanmu, mengajarkanku
🌻Apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta
🌻Berdua bersamamu, mengajarkanku
🌻Apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta
🌼Tak pernah terbayangkan olehku (tak terbayangkan olehku)
🌼Bila kau tinggalkan aku
🌼Hancurlah hatiku
🌼Musnah harapanku, Sayang, ha-ah-ah
🌿Berada di pelukanmu, mengajarkanku
🌿Apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta
💐Berada di pelukanmu, mengajarkanku
💐Apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta
💐Berdua bersamamu, mengajarkanku
__ADS_1
💐Apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta
🍃Hu-hu-uh
🍃Ho-ho-oh
🍃Ho-ho-ho-oh
"Waw... keren sekali!" seru seseorang. Dokter Lintang yang tak jauh dari sana. Seakan terhipnotis dengan permainan piano Bulan.
Tidak kusangka, wanita itu sungguh luar biasa...
Dokter Lintang tersenyum sendiri mengamatinya dan itu kembali mengundang perhatian Dino.
"Kenapa lo? baper sama lagunya?"
Dokter Lintang hanya mengangkat kedua alisnya sebentar dan setelah itu Ia mengabaikan pertanyaan Dino.
"Dasar aneh," gerutu Dino, tak juga mau berbaik hati padanya.
Usai menyelesaikan lagu tersebut, keduanya di sambut tepukan yang sangat meriah dari para tamu undangan.
"Kolaborasi yang luar biasa!" seru koleganya. Bu Widya juga menyukai itu, Ia sangat terharu melihat kebahagiaan tergambar di wajah keduanya
Meski gadis itu bukan Sekar, entah mengapa aku sangat menyukainya. Rindu pada Sekar juga rasanya sudah terbayarkan. Bulan, buatlah pemuda itu selalu tertawa disamping mu. Aku yakin kau adalah gadis yang baik...
Bu Widya, yang melihat mereka turun memutuskan mendekat dan memeluk keduanya.
"Angkasa, Sekar!" Panggilnya.
"Ibu, kukira Ibu tidak datang?" Bulan nampak sangat senang melihat kedatangannya.
"Selamat berbahagia ya, Nak. Selamat ulang tahun juga ya, Sayang!" Bu Widya mengusap-usap punggung Bulan.
"Makasih, Bu. Makasih juga udah mau dateng," sahut Angkasa.
"Sama-sama, Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua."
Mereka semua terhanyut dalam suasana kebahagiaan. Hingga sampailah pada penghujung acara dimana mereka berkumpul mengelilingi kue tart besar didepan mereka.
Lagu selamat ulang tahun menghiasai suasana bertambah syahdu.
🍁tiup lilinnya, tiup lilinnya ...
🍁sekarang juga, sekarang juga...
"Ayo tiup, Sayang!" Angkasa mengikat rambutnya yang tergerai dengan tangannya saat Bulan mulai akan meniupnya.
"Jangan lupa berdoa!" Angkasa mengingatkan. .
Bulan mengangguk. Ia hanya minta semoga semua segera usai. Angkasa dan Fatan bisa secepatnya sembuh dan Ia bisa hidup tenang sebelum semuanya terlambat.
Hufs...
Satu kali tiupan semua lilin itu padam. Bulan memotong kue sedikit dan memberikannya terlebih dahulu pada Angkasa dan yang kedua adalah Bu Widya sebagai orang tua Sekar.
Bulan sangat tahu perasaan Bu Widya yang juga sangat merindukan putrinya dan karena Ia sekarang ada diposisi itu. Ia ingin berusaha melakukan yang terbaik.
__ADS_1
Sekar, maafkan aku sudah menikmati posisimu. Bahagia lah disana ya...
Bulan tak bisa memungkiri jika hatinya merasakan kebahagiaan itu sebagai Sekar.