Aku Dicintai Oleh Guruku

Aku Dicintai Oleh Guruku
awal pertengkaran


__ADS_3

Sudah 2 bulan lebih aku membina hubungan rahasia dengan guruku sendiri. Hari-hari yang aku lalui terasa sedikit berbeda. Kalau dulu, biasanya aku selalu sekolah-rumah-sekolah-rumah. Tidak pernah main ataupun mampir ke tempat lain. Tapi sekarang berbeda. Hampir setiap pulang sekolah aku pasti diajaknya jalan-jalan dulu. Kecuali hari libur sih. Karena bingung cari alasan untuk pergi.


Aku pun kadang-kadang mengikuti kelas tambahannya...ya walaupun nilaiku tidak mengharuskan ikut sih. Hanya saja guru satu itu yang mengharuskannya. Katanya sih biar aku tambah pintar. Bagiku sih tidak pengaruh karena aku tidak pernah serius belajar.


“Ai, bagaimana sekarang pelajaran kamu?” tanya pak Candra waktu kita sedang makan.


“Biasa saja pak.” Sambil aku melahap makanan yang aku pesan tadi.


Pak Candra hanya bisa mengerutkan dahinya seperti biasa. Dia tidak tahu lagi bagaimana caranya supaya aku bisa serius tanpa adanya rasa stres.


“O ya, aku ada ide. Mudah-mudahan berhasil.” Gumamnya dalam hati.


“Eh Ai, kita buat taruhan yuk. Sebentar lagi kan bakal ada ujian mid semester. Kalau kamu bisa mendapatkan nilai di atas 80 dari masing-masing pelajaran, berarti kamu menang. Kamu boleh melakukan apa saja ke saya. Tapi sebaliknya, jika nilai kamu rata-rata di bawah 80, maka saya boleh membuka status kita berdua ke semuanya. Bagaimana?” ucapnya.


“Hmm.., jadi mas ingin mengancam saya supaya mau belajar serius!?” jawabku sinis.


“Mm.. bisa dikatakan begitu. Tapi saya serius. Kamu sendiri yang putuskan kamu mau bagaimana dan yang mana. Gampangkan ?!” ucapnya dengan senyum licik.


“Pikirkanlah baik-baik. Masih ada waktu kok.” Lanjutnya sambil meneruskan makannya. Aku yang dari tadi sedang melahap makanan, tiba-tiba berhenti sejenak.


“Dasar guru killer dan dingin. Bisanya Cuma mengancam saja. Kenapa kemarin aku terima lamarannya ya kalau ujung-ujungnya kaya begini. Baiklah jika itu maumu. Jangan menyesal dan jangan salahkan aku.” Ancamku dalam hati. Kemudian melanjutkan makan kembali.


Aku yang menjadi super BT hanya bisa diam. Aku memang dari dulu paling tidak suka dipaksa apalagi di ancam dan diatur.


“Kamu kenapa dari tadi diam saja?” tanyanya menoleh ke arahku sesekali karena masih menyetir.


“Tidak apa-apa.” Jawabku dingin.


“Malas aku meladeni omonganmu apalagi mengobrol.” Gerutuku dalam hati.


“Biar tahu rasa kamu.” Gerutuku lagi. Pak Candra yang dari tadi mengemudi, akhirnya menepi.


“Kamu kenapa?” tanyanya lagi.


“Tadi kan sudah saya bilang kalau saya tidak ada apa-apa ya...tidak ada apa-apa. Kenapa masih tanya lagi sih ?!” jawabku ketus.

__ADS_1


“Hei.. Hei.. Hei..kok begitu ngomongnya?!” tanyanya dengan suara agak tinggi.


“Kenapa memang ?! keberatan ?!” Kataku menahan emosi.


“Kamu...!!!” ucapnya dengan emosi.


“O.. Tidak suka aku begini?! Ya sudah, aku turun. Jangan ikuti aku.” Jawabku tak kalah emosi.


Kemudian aku pun langsung turun dari mobilnya dan kebetulan ada angkot jadi aku bisa langsung naik. Aku sudah tidak peduli lagi dia mau bagaimana. Dasar guru killer.


# Pak Candra


“Sial...!!! Aku ke bawa emosi.” Gerutuku sambil memukul stir.


“Kenapa aku bisa seperti ini sih?!” gumamnya menyesal.


Setelah emosinya mereda, pak Chandra akhirnya meneruskan perjalanan.


Sesampainya di rumah, pak Chandra segera meneleponku. Sekedar hanya ingin memastikan bahwa aku sudah sampai dengan selamat di rumah. Tapi...


”Sial... Hp nya di matikan. Ai, apakah seperti ini cara kamu kalau sedang marah?! Tapi aku tidak tahu kamu marah karena apa. Beritahu aku sayang. Jangan seperti ini.” Gumamku pak Chandra


#Keesokan harinya


“Ai, kamu kenapa? Muka kamu kok ditekuk begitu. Kamu lagi ada masalah?” tanya Nara khawatir.


“Aku tidak apa-apa.” Jawabku singkat.


“Ai, kamu dipanggil tuh sama wali kelas.” Tiba-tiba saja ada yang teriak begitu.


“Masa bodo...” jawabku cuek.


“Kamu kenapa Ai? Kok segitunya?! Kamu tidak takut apa dengan wali kelas ?! Dia kan killer. Nanti mata pelajaran dia, kamu dipersulit loh.” Kata Nara mencoba mengingatkanku.


“Bodo banget.” Jawabku jutek.

__ADS_1


“Coba saja kalau berani. Sudah ah tidak usah membicarakan guru itu lagi dari sekarang. Mengerti tidak kamu?!” ucapku sewot.


“Ish... Kenapa ni bocah satu?! Salah minum obat kali ya. Segitu sensinya sama tuh guru.” Gumam Nara dalam hati.


# Pak Candra


“Kenapa ni anak belum ke sini?! Apa dia masih marah ya?!” gumam pak Chandra lirih.


“Ai, janganlah kamu seperti ini sayang. Aku benar-benar takut.” Ucapnya putus asa.


# saat pelajaran Wali kelas


Ai yang tahu akan ada pelajaran wali kelasnya, meminta izin untuk pulang terlebih dahulu dengan berbagai alasan. Dia masih kesal dengan gurunya itu. Hatinya masih belum ingin ketemu.


“Nara, temanmu mana?” tanya pak Candra yang tiba-tiba mendekat.


“Tadi dia ijin, pak. Katanya sedang kurang sehat. Mungkin pusingnya kambuh lagi pak. Masalahnya tadi dia terlihat pucat” jawab Nara menjelaskan.


“Ada apa pak? Kalau ada pesan, nanti saya akan sampaikan. Kebetulan saya akan ke rumahnya nanti pulang sekolah untuk memberikan catatan ini.” Kata Nara.


“O begitu, ya sudah, nanti pulang sekolah kamu mampir ke ruangan saya ya. Saya ingin menitipkan sesuatu untuk dia.” Kata pak Candra.


“Baik pak.” Jawab Nara setuju.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


lanjut...👇


__ADS_2