
“Ai, sampai sebegitunya kamu menaruh harapan besar padaku. Sampai-sampai kau menulis ini semua.” Gumam pak Chandra ketika membaca tulisan yang semalam aku tulis
Lalu pak Chandra pun membuat tulisan balasan di bukuku...
Ai...
Terimakasih...
Kau adalah segalanya...
Kau adalah satu-satunya...
Kehadiranmu...
Berarti dalam hidupku..
Hanya kau yang aku mau
Hanya kau yang aku inginkan
Tak ada yang bisa merubah itu
Aku kan menjagamu
Aku kan membimbingmu
Aku kan tetap ada di sisimu
Ai...
Saat ini, detik ini...
Kan kubuat kau tersenyum
Kan kubuat kau bahagia
Janganlah kau bersedih
Jangan kau pikirkan kepedihanmu
Karena laramu adalah laraku
__ADS_1
Pedihmu adalah pedihku
Tersenyumlah selalu...
Kau adalah pelita dalam hari-hariku
Ai..
Terimakasih...
Seperti itulah tulisan yang pak Chandra buat dalam bukuku, sebelum akhirnya dia pergi ke kantornya.
***
Di saat yang bersamaan, aku dan Nara sedang sarapan di kantin.
“Eh.. Bagaimana? Ceritakan donk.” Ucap Nara memohon
“Iya-iya aku ceritakan.” Ucapku
“Jadi begini, sebenarnya gosip yang bilang kalau pak Chandra dan juga Riri itu ada hubungan tidak benar. Masalahnya kemarin pak Chandra bilang sendiri ke aku kalau mereka berdua tidak ada hubungan apa-apa.” Jelasku
“Jadi itu tidak benar ya?” tanya Nara memastikan
“Terus, cuma itu saja?!” ucap Nara yang tidak percaya kalau hanya hal itu saja sampai bisa buat aku senyum-senyum sendirian
“Ya tidak juga sih, Nar. Yang buat aku senyum-senyum sendiri itu gara-gara ucapannya.” Ucapku
“Ucapan? Ucapan yang bagaimana maksud kamu?” tanya Nara
“Hmm... Dia bilang kalau aku adalah satu-satunya yang dia mau. Dia tidak akan pernah lihat orang lain lagi.” Ucapku malu-malu
“Oh.. Co cweet..” goda Nara
“Ah.. Jangan begitu donk. Nar. Aku kan jadi malu..😳” ucapku
“Halah... Segitu saja malu. Kaya lagi cerita sama siapa saja.” Ucap nara
“Ya walaupun aku lagi cerita sama kamu, tapi kan tetap saja aku malu, Nar.” Ucapku
“Bwahahaha...” spontan Nara pun tertawa mendengar ucapanku
__ADS_1
“Nar, kamu kok ketawa sih?” protesku.
“Ai.. Ai.. Bagaimana aku tidak tertawa. Kamu tu ya. Kalau sikap kamu seperti ini, buat orang jadi gemas tahu tidak sih?!” ucap Nara
“Au ah.” Sahutku dan itu membuat Nara semakin tertawa lepas
“Ya sudahlah, Nar. Aku ke kelas dulu. Sudah kenyang. Thanks ya.” Ucapku dan langsung pergi meninggalkan Nara sendirian
“Buju buset dah ni anak. Habis manis sepah dibuang. Kok tinggalin aku begitu saja sih.” Gerutu Nara
“Woi Ai, tunggu...!!” panggil Nara sambil berteriak
Sesampainya di kelas, aku pun langsung menyiapkan buku pelajaran karena sebentar lagi kelas dimulai
Setelah seharian belajar di kelas, akhirnya tiba saatnya untuk pulang. Seperti biasa, aku menunggu pak Chandra di tempat biasa.
Disela-sela aku menunggu, aku pun mencoba buka lagi buku kecil yang aku bawa. Setelah aku membukanya, aku mendapati ada tulisan tangan pak Chandra di sana.
“Pak, terimakasih banyak atas semuanya. Aku pastikan, aku tidak akan pernah menyesal menerima bapak.” Gumamku lirih setelah membaca tulisan tangan pak Chandra itu
Di saat yang bersamaan, pak Chandra datang
“Masuklah, Ai.” Perintah pak Chandra dan aku pun masuk
Saat di dalam mobil, aku pun diam saja dan ini membuat pak Chandra bingung
“Ni anak kenapa lagi? Apa aku sudah buat salah lagi?” gumamnya dalam hati
“Ai, kamu ada apa? Kok diam saja.” Tanya pak Chandra memberanikan diri
“Oh mas, tidak ada apa-apa.” Sahutku
“Biarlah yang tadi itu menjadi rahasia kita berdua. Tidak perlu dibahas dan kita masing-masing cukup tahu saja.” Fikirku dalam hati
.
.
.
.
__ADS_1
.
Lanjut yuk teman-teman..👇