Aku Dicintai Oleh Guruku

Aku Dicintai Oleh Guruku
tak terduga


__ADS_3

Hari ini tak terasa sudah 2 bulan sudah berlalu semenjak kejadian itu. Pak Chandra yang sudah pulih dari kejadian itu pun sudah mulai mengajar lagi. Dan pak Vino pun sudah berangsur-angsur pulih. Hubunganku dengan pak Chandra pun tak terasa sudah hampir satu tahun.


Setelah melewati ujian yang sangat panjang, akhirnya kami pun akan mengadakan perpisahan dengan wali kelas kami ini. Secara kan memang setiap tahun pasti ada pergantian anggota kelas dan juga wali kelas.


(ya kira-kira begitulah...red, author)


Kalian tahu?! Kami sekelas diundang untuk datang ke rumahnya. Namun sebelum itu, ada kejadian tak terduga sepanjang hidupku.


‘tok.. tok.. tok..” bunyi pintu diketuk


“Ya.. Mau cari siapa ya?” tanya ibuku


“Permisi bu, apakah ibu adalah ibu dari Aina putri?” tanya orang yang datang


“Iya itu saya. Ada apa ya?” tanya ibuku bingung


“Ada yang ingin saya katakan bu mengenai Ai?” Ucap seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Pak Chandra


Setelah mendengar jawaban itu, ibuku langsung mempersilahkan pak Chandra untuk masuk ke dalam dan duduk


“Ada apa ya dengan Ai? Lalu anda ini siapa ya?” tanya ibu karena masih bingung


“Begini bu, sebelumnya saya mau minta maaf karena tiba-tiba sudah datang kesini. Nama saya adalah Chandra Sofyan. Saya adalah wali kelas Ai di sekolah sekaligus orang yang ingin sekali menikahi putri ibu.” Jelasku


“Apa? Menikahi Ai? Apa ibu tidak salah dengar?” tanya ibu terkejut


“Iya bu. Saya ingin sekali menikahi Ai. Saya akan bertanggung jawab atas semua hal tentang Ai, jika ibu mau merestui niat baik saya ini.” Jelas Pak Chandra


“Tapi anda sendirikan tahu kalau Ai itu masih sekolah?!” Ucap ibuku

__ADS_1


“Iya bu, saya tahu. Tapi perasaan saya ini sudah tidak mampu saya kendalikan lagi. Saya terlalu mencintainya bu. Tolong restuilah hubungan kami ini.” Pinta pak Chandra lirih


“Baiklah kalau itu harapanmu. Tunggu sebentar...” ucap ibuku


“Ai... Ai... Kesini sebentar.” Teriak ibuku memanggilku


“Ada apa bu?” tanyaku saat aku sampai di ruang tamu


“Pak Chandra?” ucapku terkejut setelah mendapati pak Chandra sedang duduk juga di sana


“Ai, pak Chandra ini datang ke sini untuk melamarmu. Kamu bagaimana?” tanya ibu


“Melamar?” tanyaku terkejut lagi.


“Iya Ai, saya ke sini ingin melamar kamu.” Ucap pak Chandra


Aku yang mendadak mendengar hal ini menjadi terkejut. Aku tidak tahu harus bilang apa. Mengapa ini harus terjadi sekarang.


“Tapi bu, apakah tidak apa-apa kalau aku menerima lamarannya pak Chandra?” tanyaku ragu dan sekaligus memastikannya


“Kalau kamu setuju, ibu tidak punya hak untuk melarang. Karena kamu sudah dewasa. Bisa putuskan apa yang menurutmu baik.” Jelas Ai


“Ibu, sebelum aku menjawab pertanyaan ini, aku mau tanya dulu sama ibu. Tapi tolong ibu jawab jujur.” Pintaku karena tahu mau ada masalah nantinya


“Iya, ibu akan menjawabnya jujur.” Jawab ibu


“Ibu, sebenarnya... Ibu ingin jawaban apa dariku?” selidik ku


“Kok kamu malah balik tanya?” ucap ibu

__ADS_1


“Sudah bu, jawab saja jujur.” Pintaku lagi


“Jujur, ibu sedih jika harus berpisah denganmu sekarang. Tapi ibu juga sudah tua. Ibu rasanya takut tidak bisa membuat kamu bahagia.” Jawab ibu yang secara tidak langsung menyetujui aku menikah dengan pak Chandra


“Tapi bagaimana dengan ayah? Apa ayah juga sependapat dengan ibu?” tanyaku


“Urusan ayahmu tidak usah khawatir. Ibu yang akan bicara dengan ayahmu.” Jawab ibu


Mendengar jawaban ibu, tiba-tiba hatiku menjadi pedih. Bukan aku tidak senang bisa menikah dengan pak Chandra, tapi aku sedih karena ibuku yang ingin aku cepat-cepat pergi untuk menikah.


“Baiklah bu, jika itu yang ibu mau. Aku akan menerima lamaran pak Chandra.” Jawabku


“Banarkah itu, Ai?” tanya pak Chandra yang masih sulit percaya dengan apa yang dia dengar


“Benar pak.” jawabku


“Nah setelah mendengar jawaban dari Ai, kira-kira kapan acara pernikahannya pak?” tanya ibuku yang ingin aku cepat-cepat menikah dan meninggalkan rumah.


“Jadi begini.. Untuk masalah itu...” (pak Chandra)


“Cut..!!” (author)


“Nanti dulu. Jangan dikasih tahu sekarang. Ok!!” (Author)


“Author...!!!” (jawabku dan pak Chandra berbarengan di barengi oleh senyuman ibu)


“Author kebiasaan nih. Hadeuh..di tahan lagi deh” (pak Chandra)


“Hehehe...” (author)

__ADS_1


Lanjut👇


__ADS_2