Aku Dicintai Oleh Guruku

Aku Dicintai Oleh Guruku
ngidam


__ADS_3

Keesokan harinya, aku ingin sekali berangkat sekolah.


“Ai, kamu mau berangkat?” tanya pak Chandra lembut


“Iya mas.” Jawabku


“Kamu tidak apa-apa, Ai?” tanya pak Chandra


“Iya tidak apa-apa mas. Hmm.. O ya mas, aku kok ingin sekali mas berangkat bareng aku tapi pakai baju tidur.” Ucapku


“Apa? Yang benar saja sayang. Masa’ aku ke sekolah pakai baju tidur?!” tanyanya heran


“Hayolah mas. Kalau tidak di turuti, aku mau pergi sajalah ke rumah pak Rudi.” Ancamku


“Ah jangan.. Jangan.. Ya sudah.. Ya sudah.. Tapi setelah sampai di sana, aku ganti ya bajunya.” Ucap pak Chandra


“Ya sudah.” Jawabku sambil senyum


Bi ina yang ada ada di situ pun hanya bisa geleng-geleng melihat kami.


***


Sesampainya di sekolah, pak Chandra langsung mengganti bajunya di dalam mobil. Dan aku pun keluar dengan cepat. Rasanya sangat mual sekali melihat pak Chandra.


“Hai Ai, tunggu. Jangan keluar dulu.” Cegah pak Chandra


“Mas, aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku sangat mual melihat mas. Uwek..” ucapku sambil menutup mulutku


“Ya sudah.. Ya sudah.. Sana duluan.” Ucap pak Chandra yang melihatku seperti itu.


****


“Hai Chan, kamu kenapa? Kusut sekali.” Tanya pak Rudi


“Rud, istriku hamil.” Ucap pak Chandra.


“Wah.. Selamat ya.. Akhirnya aku akan punya keponakan.” Sahut pak Rudi sambil senyum senyum

__ADS_1


“Iya, terimakasih.” Ucap pak Chandra


“Tapi kamu kok seperti tidak senang begitu istrimu hamil?” tanya pak Rudi heran


“Bagaimana aku mau senang, lha dia tadi suruh aku pakai baju tidur ke sekolah. Terus dia juga mual kalo lihat aku.” Jelas pak Chandra


“Bwahahahaha... Kasihan banget hidupmu, Chan. Hahaha..” ledek pak Rudi


“Ah kamu kok begitu, Rud. Mentertawakanku yang lagi kesusahan seperti ini.” Protes pak Chandra


“Sudah nikmati saja.” Ucap pak Rudi sambil menepuk pundak pak Chandra


Eh beberapa saat kemudian, aku datang.


“Eh Chan, panjang umur tuh istrimu. Lagi diomong, dianya datang.” Ucap pak Rudi sambil menyenggol pundaknya pak Chandra


“Pak Rudi, pak Rudi ternyata ada di sini?! Tadi aku cari bapak ke ruangannya bapak.” Ucapku


“Kamu mencari saya? Aku sangka kamu cari si Chandra.” Ucap pak Rudi


“Eh iya, ada apa Ai?” tanya pak Rudi bingung


“Pak, setelah ini, bapak ada jam lagi tidak?” tanyaku


“Tidak ada. Memang kenapa?” tanya pak Rudi penasaran


“Bapak bisa tolongi aku, tidak?” tanyaku


“Mau minta tolong apa?” tanya pak Rudi lagi


“Tolong ambilkan mangga. Tapi yang di petik sendiri oleh Bapak langsung dari pohonnya dan petiknya, bapak harus pakai daster.” Jelasku


“Gubrak...” seketika pak Rudi jatuh lemas


“Chan.. Istrimu, Chan. Benar-benar..” ucap pak Rudi


“Ya begitu itu. Nanti kalau tidak di turuti jatuhnya bakalan mengancam. Lihat saja.” Ucap Pak Chandra

__ADS_1


“Eh kalian berdua lagi mendiskusikan apa? Btw Mau tidak nih menolong aku? Kalau tidak mau menolong, sekarang aku mau pulang saja. Tapi jangan cari aku kalau kalian tidak bisa menemukanku.” Ancamku


“Eits.. eits.. eits.. Tunggu dulu Ai. Bapak akan bantu kamu. Kamu jangan pergi ya.” Pinta pak Rudi


“Nah gitu donk. Ingat... Harus di petik sendiri sama Bapak sambil pakai daster. Ok. Kalau bapak sampai bohong, awas !!” ancamku lagi


“Iya.. Iya Ai. Bapak ambilkan sekarang.” Ucap pak Rudi


“Kamu tunggu di sini ya.” Pinta pak Rudi dan aku menangguk


“Hayo Chan. Kamu juga harus ikut tanggung jawab.” Ucap pak Rudi sambil menarik tangan pak Chandra


“Kok aku juga ikutan sih. Kan kamu yang disuruh?” protes pak Chandra


“Woi.. Halo... Yang jadi suaminya Ai kan kamu. Ya kamu harus ikutan susah donk. Jangan aku sendiri.” Ucap pak Rudi heboh sambil menarik tangan pak Chandra


Skip..


“Ai, kok cuma suruh begitu saja sih. Tidak seru tahu. Kenapa tidak menyuruh mereka pakai daster dan lari-lari keliling lapangan sekolah.” (Author)


“Hmm... Benar juga ya. Ide yang bagus tuh.” (Ai)


“Author.....!!!” (pak Chandra dan pak Rudi)


“Hehehehe....” (author)


.


.


.


.


.


Lanjut..👇

__ADS_1


__ADS_2