
“Woi Chan, kamu tidak bilang-bilang ya kalau lantai ruanganmu itu habis di pel?” teriak pak Rudi
“Oh ya... Sori.. Sori... Aku lupa.” Sahut pak Chandra
“Sial kamu, Chan.” Ucap pak Rudi sewot
“Iya.. Iya... Kan aku sudah bilang maaf.” Ucap pak Chandra
“Terus bagaimana?” ucap Pak rudi sambil mengelus-ngelus pantatnya yang sakit karena terpeleset.
“Bagaimana apanya, Rud?” ucap pak Chandra yang balik ke mode serius
“Itu.. Sih Ai.” Ucap pak Rudi
“Ya tidak bagaimana- gimana kali, Rud. Kamu belikan saja buku pelajaran. Mungkin dia bakalan senang.” Ucap pak Chandra santai
“Oh ya sudah deh. Nanti pulang aku mampir ke toko buku dulu.” Ucap pak Rudi kemudian berjalan keluar sambil tetap mengelus-ngelus pantatnya.
****
Sementara aku di rumah sibuk mencari-cari buku yang bisa aku baca di kamarnya pak Chandra
“Wow.. Banyak sekali bukunya. Dia ini kutu buku apa ya? Banyak sekali.” Gumamku yang terkesima melihat isi kamarnya penuh dengan buku.
Aku pun mencari-cari buku yang kiranya menarik. Dan akhirnya aku pun menemukannya satu yang menurutku menarik.
Aku kemudian membawanya ke kamarku dan membacanya. Namun saat aku sedang asyik-asyiknya membaca, tiba-tiba terjatuh selembar kertas yang dilipat dua dan juga fotoku. Kemudian aku membukanya karena penasaran dan membacanya. Isi tulisan di kertas itu adalah..
Aina...
__ADS_1
Andaikan kau tahu betapa menyesalnya diriku ini karena sudah membuatmu seperti ini. Kau melupakanku dan anak kita pun meninggalkanku. Ini semua karena kesalahanku. Andaikan waktu itu aku tidak mengatakan menyesal sudah menikahimu, mungkin sekarang kamu masih mengingatku dan anak kita pun tetap ada di dalam kandunganmu. Aina, mungkin ini adalah hukuman buat aku karena sudah menyia-nyiakan kamu. Maafkan aku sayang. Maafkan aku. Ingin rasanya aku memelukmu dan menangis sepuasnya di pelukanmu. Aina.. Maafkan aku sayang.. Maaf...
Ketika aku membacanya, kepalaku tiba-tiba saja menjadi sakit sekali. Aku tidak tahu kenapa.
Lalu aku putuskan untuk berhenti membaca dan tidur sejenak
Saat siang, Nara dan Gilang pun datang
“Ai, kamu masih ingat aku tidak?” tanya Nara
“Tidak.” Jawabku
“Kalau aku, Ai? Kamu ingat aku tidak?” tanya gilang
“Tidak juga.” Jawabku
“Oh ya Ai, pak Chandra tadi bilang kalau kamu lusa sudah boleh sekolah. Tapi apa tidak apa-apa tuh mengingat kondisi kamu seperti ini.” Tanya Gilang
“Mudah-mudahan tidak apa-apa gilang. Aku baik-baik saja. O ya, selama aku tidak masuk, aku boleh pinjam buku catatannya, tidak?” ucapku
“Kamu mau apa, Ai?” tanya Nara
“Ya aku mau belajar lah. Masa’ aku mau nyanyi?!” sahutku
“Lha buju buset, kenapa nih anak seperti tidak lagi hilang ingatan ya?!” gumam Nara yang dengar ucapanku
“Oh buku catatan ya. Nih tenang saja. Sudah aku tuliskan semuanya buat kamu.” Ucap gilang
“Oh thanks ya, Lang.” Ucapku sambil mengambil buku yang disodorkan gilang
__ADS_1
“Eh ya Nar, Lang, kamu bisa ceritakan ke aku tidak tentang apa yang sebenarnya terjadi sama aku. Kenapa aku sampai seperti ini?” pintaku
“Ini semua gara-gara suamimu itu, Ai. Dia yang menyebabkan kamu kecelakaan dan juga keguguran.” Ucap Nara
“Maksudmu apa, Nar?” tanyaku yang sedikit-sedikit mulai ingat sesuatu
“Iya, pak Chandra waktu itu bilang Kalau dia cape’ menghadapi sikapmu yang labil dan juga kadang merasa menyesal sudah menikahimu dan pada saat itu, kamu dengar itu semua lalu lari dan kemudian kecelakaan.” Jelas Nara dan membuatku merasakan pusing lagi
“Kamu kenapa, Ai?” tanya Gilang yang sadar bahwa aku sedang sakit kepala
“Oh aku tidak apa-apa, Lang.” Ucapku
“Beneran kamu tidak apa-apa, Ai?” tanya gilang memastikan
“Iya Lang. Aku tidak apa-apa.” Ucapku
Setelah beberapa saat mengobrol, Nara dan Gilang pun pulang.
.
.
.
.
.
Lanjut...👇
__ADS_1