
Saat malam harinya, aku tidak bisa tidur memikirkan ucapan pak Chandra padaku.
Ku bolak-balikan badan, kucoba untuk membaca, namun masih tetap saja aku tidak bisa tidur
Lalu aku pun terpikirkan suatu hal.
“Apa lebih baik aku menulis sesuatu saja ya buku kecilku.” Gumamku dalam hati
Setelah terpikirkan hal itu, aku pun langsung mengambil buku dan juga pulpen
Tak sampai menunggu lama, aku pun langsung menulis..
Saat hati tak dapat berpijak
Saat kesedihan terus terasa
Kau datang membawa harapan
Cinta tulus dapat kurasakan
Wahai kasih...
Malam ini ku titipkan harapanku
Ku titipkan semua kepedihanku
Ku titipkan semua kesedihanku
Padamu...
Wahai kekasih...
Dapatkah kau menerima aku
Dapatkah kau mengerti aku
Dapatkah kau memahamiku
Wahai kasih...
Besar harapanku padamu
Aku percaya kau dapat menjagaku
Aku percaya kau mampu membimbingku
Wahai kasih...
Terimakasih...
Saat aku melihat dan membaca lagi tulisan yang aku buat sendiri, sekejap wajahku terasa panas. Aku merasa malu sendiri.
__ADS_1
Tapi, aku tidak berhenti sampai di situ. Aku pun menulis lagi..
Bahagianya diriku...
Kau peluk aku, kau usap keningku
Kau katakan padaku
Kau selalu menjagaku
Indah nian kata-kata itu
Disela hatiku yang penat
Kau bawa sebuah dekapan hangat
Membuat damai hati ini
Kupejamkan mata...
Wahai kasih...
Tetaplah kau di sisiku
Tetaplah bersamaku
Ku teteskan air mata
Saatku ingat rasa pedihku
Menangis ku dipelukanmu
Namun...
Tahukah dirimu...
Sekarang sudah petang...
Tak mungkin bagiku ke rumahmu..
“Eit.. Eit.. Tunggu dulu. Kenapa aku menulisnya jadi seperti ini sih?! Ya sudahlah, tidak usah di teruskan. Lebih baik aku tidur saja. Daripada jadi ngaco.” Ucapku sambil mengacak-ngacak rambut dan membereskan alat tulis
***
Keesokan harinya aku senyum-senyum sendiri karena masih memikirkan masalah kemarin.
“Woi Ai, hadeuh.. Pagi-pagi masih saja senyum-senyum sendiri. Tidak takut kesambet kamu ya.” Ucap Nara
“Ah kamu, Nar. Kok begitu sih ngomongnya?” ucapku
“Lagian kamu tuh ya, pagi-pagi, di kelas kosong begini senyum-senyum sendiri. Bagaimana aku tidak berpikir kalau kamu kesambet?” celetuk Nara
__ADS_1
“Au ah.” Sahutku singkat
“Eh, memang ada apa Ai?” tanya Nara kepo
“Tidak.. Tidak ada apa-apa kok.” Sahutku
“Benaran tidak ada apa-apa?” tanya Nara
“Iya.. Eh sebenarnya ada deh. Tapi jangan ngomong di sini. Takut tahu-tahu ada yang datang dan dengar.” Ucapku
“Terus mau ngomongnya dimana?” tanya Nara
“Hmm... Di kuburan saja yuk. Sepi.” Sahutku
“Ayo.. Eh tunggu.. Kuburan?! Kamu tidak salah ngomongkan, Ai?” tanya Nara dan aku pun tersenyum
“Tidak. Aku tidak mau di kuburan. Kamu mah ada-ada saja.” Ucap Nara sewot
“Bwahahaha...” aku pun tertawa lepas
“Tidak lucu tahu.” Ucap Nara sewot
“Ya sudah.. Ya sudah... Ayo kita ke kantin saja. Aku lapar. Tadi ibuku masak cuma buat sarapan adikku saja.” Ucapku
“Hadeuh Ai, kasihannya dirimu.” Celetuk Nara
“Huhuhu...😢 oleh karena itu, kamu traktir aku ya. Nanti aku ceritakan deh alasanku senyum-senyum sendiri.” Ucapku merayu
“Haiz.. Ujung-ujungnya tidak enak benar ya?!” gerutu Nara tapi aku bisa dengar
“Hehehe.. Ayolah Naraku yang cantik.” Ucapku sambil cengengesan
“Hadeuh... Ayolah kalo begitu.” Ucap Nara
****
Sesaat setelah aku dan Nara pergi, tiba-tiba saja pak Chandra datang dan duduk di bangkuku
Lalu dia iseng merogoh laci mejaku. Ternyata dia menemukan buku kecilku. Tanpa berpikir lama, pak Chandra pun membuka dan membacanya..
Saat pak Chandra membaca satu persatu tulisanku, dia tiba-tiba terhenti disalah satu halaman
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kira-kira pak Chandra berhenti di halaman yang mana ya?
Lanjut yuk teman-teman..👇