
Sudah satu minggu dari kabar kaburnya bu Mila. Pak Chandra pun masih terus waspada. Sementara aku santai karena memang tidak ada yang memberi tahu kan apa-apa sama aku.
“Ai, kamu kenapa?” tanya pak Chandra lembut
“Aku suntuk mas. Masa’ libur begini kita di rumah saja sih?!” gerutuku
“Ai, bukannya aku tidak mau mengajakmu main. Tapi kamu lihat sendiri nih. Tumpukan kertas sebanyak ini. Dan ini harus selesai hari ini.” Jelas pak Chandra
“Kalau begitu aku main saja ya dengan Nara dan Gilang.” Ucapku
“Haiz.. Ai.. Ai.. Kamu ini bagaimana. Masa’ kamu mau mengganggu mereka sih. Kamu mau jadi obat nyamuk?” ucap pak Chandra
“Ya tidak sih. Ya sudah, aku boleh telepon pak Rudi tidak buat suruh bawakan komik lagi.” Ucapku memohon
“lha memang komik yang seabrek-abrek itu sudah selesai kamu baca semua, Ai?” tanya pak Chandra bingung plus heran
“Sudah mas. Sudah aku baca semuanya.” Jawabku
“Mas.. Plis.. Boleh ya.” Ucapku memohon
“Ya sudah.. ya sudah..” ucap pak Chandra menyerah
“Ish ni anak.. Giliran suruh serius belajar, dia malah stres. Tapi giliran suruh baca komik seabrek-abrek saja tidak stres.” Gumam pak Chandra dalam hati sambil geleng-geleng.
****
“tok.. tok.. tok..” bunyi pintu di ketuk
“Itu pasti pak Rudi.” Ucapku kegirangan sambil membuka pintu dan pak Chandra lagi-lagi hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkahku
“Pak Rudi..” ucap ku
__ADS_1
“Haizz.. Kalau di luar sekolah, jangan panggil pak kenapa?” ucap pak rudi
“Terus mau dipanggil apa?” tanyaku sambil mengulurkan tangan meminta komik yang aku pesan
“Panggil mas juga donk. Kaya Chandra.” Pinta pak Rudi
“O ya sudah. Terimakasih ya mas komiknya.” Ucapku
“Iya. Ya sudah sana baca.” Ucap pak Rudi lembut dan aku pun langsung mengangguk
***
“Eh kamu, Rud. Sudah dari tadi sampainya?” tanya pak Chandra
“Tidak kok. Barusan.” Jawab pak Rudi
“Eh Chan, apa kamu tidak keterlaluan mengurung Ai seperti ini?” protes pak Rudi
“Ya mau bagaimana lagi, Rud, aku tidak mau terjadi apa-apa sama dia.” Ucap pak Chandra
Belum juga pak Chandra menjawab pertanyaan pak Rudi, tiba-tiba...
‘tok.. tok.. tok..’ pintu diketuk lagi
“Kamu lagi menunggu tamu, Chan?” tanya pak Rudi
“Tidak tuh.” Jawab pak Chandra singkat
“Apa Ai?” tanya pak Rudi lagi
“Sepertinya juga tidak. Masalahnya yang dari tadi dia tunggu kan sudah ada di sini.” Jawab pak Chandra
__ADS_1
“Terus siapa donk?” tanya pak Rudi bikin orang jadi parno.
“Tuan.. Tuan.. Ada yang taruh bungkusan ini di depan.” Kata bi Ina yang tadi membuka pintu
“Bungkusan? Orangnya ada tidak?” tanya pak Chandra
“Tidak ada tuan. Cuma ada ini saja di depan rumah.” Jelas bi Ina
“Oh ya sudah, bi. Terimakasih.” Ucap pak Chandra dan bi Ina pun langsung balik lagi ke dapur
“Chan, coba kamu buka bungkusannya.” Ucap pak Rudi
Pak Chandra pun akhirnya membuka bungkusan itu. Betapa terkejutnya pak Chandra dan Pak Rudi melihat isi bungkusan itu.
Isi bungkusan itu adalah sebuah boneka yang hancur dan ada cairan berwarna merah seperti darah. Disertai dengan tulisan yang berisi..
‘Ceraikan Chandra..! Jika tidak, maka nasibmu ini akan menjadi seperti boneka ini.’
Setelah membaca surat itu, pak Chandra dan Pak Rudi pun menjadi panik sekali. Dan kemudian dengan cepat mereka membakar semua itu agar aku tidak melihatnya.
“Sekarang, apa yang harus kita lakukan Chan?” ucap pak rudi yang tak kalah syok menghadapi kejadian itu.
Pak Chandra pun diam sejenak. Lalu dia pun memutuskan...
“Rud.. Maaf.. Aku tidak bisa bilang apa-apa di episode ini. Tunggu di episode selanjutnya ya..” ucap pak Chandra
.
.
.
__ADS_1
.
Lanjut👇