
“Yes. Akhirnya ketemu juga nih tukang somaynya.” gumam Nara.
“Kenapa kamu, Nar?” tanyaku bingung.
“Cape’ tahu! Memang kamu tidak cape?! Jalan dari tadi tidak jelas arahnya cuma buat cari tukang somay. Kaya orang nyidam saja sih kamu.” Ucap Nara sewot.
“Hehehe.. Tidak cape’ tuh. Enak jalan-jalan. Kapan lagi aku bisa jalan-jalan sama kamu, Nar.” Godaku.
“Kamu itu ya, Ai. Senang sekali buat orang susah. Cape’ tahu. Pokoknya aku tidak mau tahu, aku mau kamu pijati aku sampai hilang capeknya.” Ucap Nara yang sedang jengkel banget denganku.
“Ok..Nanti aku pijati kamu sampai hilang capeknya. Tapi kamu harus ikhlas kalau aku pijitnya pakai sepatu ya. Biar berasa gitu. Hehehe...” godaku.
“Ai.....” teriak Nara geram.
Tak jauh dari sana, ternyata ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka. Sesosok orang dalam mobil yang terus menerus menyaksikan kekonyolan kami dengan tersenyum.
“Bang, somay dua ya. Campur tapi jangan terlalu pedas. Yang sedang saja bang.” Pesan Nara.
“Yang sedang-sedang saja...jadinya kaya lagu non.” Ucap tukang somay.
“Ya ampun bang. Malah nyanyi..” ucap Nara.
“Ya tidak apa-apa kali non. Menghibur diri. Ya tidak?!” sahut tukang somay.
“Ya betul.. Betul... betul...!” ucapku.
“lha dia jadi Upin Ipin..., stres kamu, Ai.” gerutu Nara.
“Bwahahaha....” tawaku dan tukang somay berbarengan.
“Ya sudah. Ini non, sudah jadi pesanannya.” ucap tukang somay menyodorkan dua piring somay dan dua gelas minuman.
“Terimakasih bang” jawab kami berbarengan.
“O ya Nar, aku mau telepon dulu ya.” Ucapku.
“Hmm..” jawabnya singkat karena lagi makan somay.
‘tut..tut..tut..” dering telepon terhubung.
“Halo..” ucap pak Chandra.
“Mas, saya lagi makan somay dengan Nara di pinggir jalan dekat halte bis.” Kataku.
__ADS_1
“Ya iyalah makan dipinggir jalan, masa’ di tengah jalan. Ke tabrak donk...” ucap Nara menyela omonganku dan hal ini juga terdengar tentunya sama pak Chandra.
“Diam kamu, Nara” bisikku lirih sambil menengok ke arah Nara.
“Iya, aku tahu kok. Ya sudah kamu teruskan makannya ya. Pelan-pelan. Jangan sampai tersedak.” Ucap pak Candra.
“Ok.” Jawabku singkat.
Setelah selesai telepon, aku pun melanjutkan makanku.
Tapi...secara tidak disadari ternyata Pak candra sudah ada di hadapanku. Aku pun tersedak.
“Mas, bikin kaget saja. Kok ada di sini?” tanyaku.
“Hiz Ai, kamu kenapa? Biarkan saja kali pak Candra ke sini. Inikan tempat umum, bukan milik kamu pribadi. Ya kan pak!?” sahut Nara.
“Bukan begitu. Yang saya maksud itu, kenapa Bapak ada di sini? Bukannya ada kelas tambahan ya?” jawabku menjelaskan.
“Dasar kamu itu ya. Cueknya tidak ketolongan. Kelas tambahannya tuh dimulai besok. Bukan hari ini. Begitu, oneng.” Ucap Nara jengkel.
“lha kenapa juga aku harus ingat kapan itu hari kelas tambahannya. Secara aku kan tidak ada urusannya” jawabku yang tidak kalah sewot.
“Tuh kan pak. Dengar sendiri. Penyakit cueknya ini nih yang tidak ketolongan. Jangan harap bapak dapat perhatian deh dari ini anak. Dengan hal kaya begini saja dia tidak respek.” Sambung Nara.
“Sudah-sudah...jangan ribut. Tidak enak di lihat orang tuh.” Ucap pak Candra melerai.
“e’.. kenyang...” ucapku.
“Ai, tidak sopan tahu. Ada pak Candra juga.” Sahut Nara.
“Hehehe....” itulah yang keluar dari mulutku. Pak Candra yang dari tadi melihatku hanya geleng-geleng dan tersenyum.
“Sudah selesai makannya?!” tanya pak Candra kepadaku.
“Sudah mas. Mas tidak makan juga?” tanyaku.
“Tidak usah. Saya belum lapar.” Jawab pak Candra.
“Oo..., eh Nar, kamu sudah selesai belum makannya?” tanyaku ke Nara.
“Sudah kok. Ya sudah, kalu begitu aku bayar dulu.” Sahut Nara.
“Ehm, Nar. Tidak usah bayar. Tadi sudah Bapak bayar kok.” Ucap pak Candra.
__ADS_1
“Serius pak? sudah bapak bayar? kapan?” tanya Nara heran.
“Serius. Malah 2 rius. Tadi pas waktu ke sini. Sebelum ketahuan kalian.” Jelas pak Candra.
“Terimakasih, pak. Uh selamat...selamat ni duit....” gumam Nara sambil mengelus-ngelus dada.
“Uh dasar, Nara..”gumamku dalam hati.
“Eh ya, Nar. Kamu bareng kita saja ya pulangnya. Nanti bapak antar kamu sampai depan rumah.” Ucap pak Candra.
Nara pun tersenyum dan mengangguk setuju.
*************
“Pak, sekali lagi terimakasih sudah membayarkan makanannya dan juga mengantar saya pulang.” ucap Nara sebelum keluar dari mobil.
“Iya sama-sama. Bapak juga berterimakasih sama kamu karena sudah membuat Ai tersenyum.” Ucap pak Candra.
“Tidak apa-apa pak. Kan sudah seharusnya seperti itu. Kami berdua kan teman. Betulkan, Ai?!” sahut Nara.
Aku hanya menangguk dan tersenyum malu. Setelah itu, Nara pun keluar dan kami pun meneruskan perjalanan.
“Ai, saya benar-benar minta maaf sama kamu. Karena saya sudah egois terlalu memaksakan kehendak saya ke kamu dan mengakibatkan kamu pingsan tempo hari.” Ucap pak candra yang sesekali menengok ke arahku.
“Tidak apa-apa mas. Saya mengerti. Mas bisa seperti itu karena mas masih belum mengerti saya seutuhnya.” Ucapku mencoba memahami maksud dari tindakannya waktu itu.
“Ai, terimakasih. Saya tidak akan memaksakanmu untuk mendapat nilai tinggi. Asal kamu mengerti dengan materi yang di ajarkan, itu sudah cukup. Saya tidak mau lihat kamu kesakitan kaya waktu itu dan akhirnya pingsan” jelas pak Candra.
“Karena kamu itu segalanya buat saya.” Lanjutnya lagi.
Seketika wajahku memerah mendengar ucapannya itu. Baru kali ini ada orang yang sebegitu inginnya mengerti keadaanku.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Lanjut..👇