Aku Dicintai Oleh Guruku

Aku Dicintai Oleh Guruku
kepedihan hati Ai


__ADS_3

Siang harinya saat aku pulang ke rumah, ternyata ibuku sudah menungguku


“Kamu habis dari mana saja, Ai? Sekarang baru pulang. Kamu sudah tidak ingat rumah lagi ya?” ucap ibu ketus


“Bu, kemarin maaf aku tidak pulang. Aku menginap di rumah Nara, bu. Karena ada tugas dadakan yang harus aku selesaikan.” Ucapku memberi alasan


“Bohong kamu. Itu cuma alasan kamu saja kan? Bilang saja kamu tidak mau pulang.” Ucap ibu


“Bukan begitu bu. Aku memang benar-benar ada tugas dan aku mengerjakannya di rumah Nara.” Ucapku meyakinkan ibu


“Kalau kamu memang ada tugas dan kamu harus mengerjakannya di rumah Nara, kamu kan tidak harus menginap. Lagi pula, kamu bisa kan kasih tahu ibu langsung.” Ucap ibu emosi


“Itu karena...” ucapanku tidak bisa aku teruskan


“Kenapa? Kamu tidak bisa kasih ibu penjelasan kan?!” ucap ibu


“Maaf ibu. Aku benar-benar minta maaf.” Ucapku memohon maaf


“Sudahlah, mulai hari ini dan detik ini, ibu tidak mau tahu lagi urusan kamu. Kamu mau bagaimana, kamu mau dimana, kamu sedang apa, ibu pokoknya sudah tidak mau tahu lagi. Sekarang kamu urus urusanmu sendiri. Ibu sudah tidak peduli lagi.” Ucap ibu


“Ibu, jangan begitu. Tolong maafkan aku, bu.” Ucapku


“Tidak. Daripada ibu peduli sama kamu, lebih baik ibu peduli sama adikmu saja. Sudah sana. Jangan ganggu ibu.” Ucap ibu ketus


“Ibu.. Kenapa ibu tega padaku?” ucapku pedih


***


Keesokan harinya, aku ke sekolah dengan tidak semangat dan rupanya ini diketahui oleh pak Chandra yang diam-diam memperhatikanku.


“Ai.. Ikut aku ke kantor.” Pintanya tegas lalu aku pun mengikutinya

__ADS_1


“Sayang, ada apa?” tanya pak Chandra


“Ibu mas, ibu.” Ucapku lirih menahan tangisanku


“Kenapa dengan ibumu?” tanya pak Chandra bingung


“Ibu sudah tidak mau peduli lagi sama aku. Bahkan dia tidak mau percaya dengan penjelasanku.” Ucapku lirih


“Sudah.. Sudah... Kalau memang kamu mau menangis, menangislah.” Ucap pak Chandra sambil memelukku


Aku pun tanpa bisa menahannya lagi, langsung menangis sejadi-jadinya. Aku sudah tidak peduli lagi saat itu aku sedang berada dimana.


Ketika aku sudah puas meluapkan kesedihanku, aku pun langsung melepaskan diri pelukan pak Chandra


“Bagaimana sayang? Apakah kamu sudah jauh lebih baik sekarang?” tanya pak Chandra lembut


“Sudah mas. Terimakasih.” Sahutku


“Iya mas.” Sahutku


“Untuk orangtuamu, kamu harus sabar. Karena sebentar lagi, kamu akan aku minta dari orang tuamu.” Ucap pak Chandra


“Maksudnya?” tanyaku bingung


“Sudah kamu tidak usah banyak berpikir lagi. Aku minta, bertahanlah beberapa saat lagi ya sayang.” Ucap pak Chandra


“Ya sudah deh. Terserah mas saja.” Ucapku pasrah


“Ya sudah mas, aku ke kelas dulu ya. Tidak enak kalau sampai ketahuan anak-anak kalau aku ada di sini.” Ucapku dan dia pun mengangguk


***

__ADS_1


Sesampainya di kelas, aku pun kembali termenung.


“Bu, kenapa ibu sampai sebegitunya padaku. Padahal aku begini itu karena tidak ingin ibu khawatir.” Ucapku lirih.


“Woi.. Pagi Ai...” ucap Nara yang ingin sekali mengejutkanku tapi sayangnya gagal


“Pagi...” sahutku tak bersemangat


“Lha ini anak kenapa lagi sih?” Gumam Nara


“Woi, Ai, kamu kenapa?” tanya Nara


“Ibuku, Nar. Ibuku sudah tidak peduli lagi sama aku. Dia lebih baik pilih peduli sama adikku daripada aku.” Ucapku yang lagi-lagi menangis


“Sabar, Ai. Sudah kamu sabar saja dan jangan sedih. Kan masih ada aku, Gilang, pak Rudi dan yang lebih penting lagi, masih ada pak Chandra.” Ucap Nara menenangkanku


“Terimakasih, Nar.” Ucapku sambil menyeka air mataku


“Sama-sama.” Sahut Nara


.


.


.


.


.


Lanjut...

__ADS_1


👇


__ADS_2