
Di hari-hari selanjutnya, aku seperti biasa berangkat pagi-pagi sekali tanpa ditemani pak Chandra dan pulang pun larut malam karena masih bekerja sambilan.
Pak Chandra membiarkanku melakukan semua itu karena dia berharap bahwa aku bisa sedikit demi sedikit melupakan kejadian waktu itu.
Beberapa waktu telah terlewati. Kini tiba saatnya bagi kami untuk ujian kelulusan. Sesuai permintaanku, pak Chandra tidak menggangguku sama sekali
“Hai Ai, akhirnya.. Hari ini hari terakhir kita ujian. Kira-kira kita bisa lulus tidak ya?” ucap Nara
“Entahlah. Santai sajalah. Tidak usah dipikirkan. Pikirkan saja yang sekarang. Apa kita bisa jawab soalnya atau tidak.” Ucapku
“Ish kamu ini. Ya sudahlah. Kenapa juga aku harus ngomong sama orang santai kaya’ kamu. Bikin kesal saja.” Gumam Nara dan aku pun cuma tersenyum
***
Akhirnya ujian pun berakhir. Betapa leganya hatiku. Lalu aku pun langsung pulang dan beristirahat sebentar sebelum akhirnya berangkat bekerja. Sedangkan pak Chandra pulang akan sedikit terlambat karena harus merapikan berkas-berkas ujian.
****
Sudah selang berapa lama dari ujian hari terakhir. Kini saatnya melihat hasil ujian.
“Nara, bagaimana hasil ujianmu? Kamu sudah liat belum?” tanyaku
“Aku belum lihat, Ai. Kamu sendiri sudah lihat belum?” tanya Nara
“Belum juga.” Jawabku
“Kalau begitu, kita lihat bareng yuk.” Ajak Nara
“Ayo..” sahutku
Lalu kami pun melihat ke papan pengumuman dan mencari nama kami.
__ADS_1
“Hai Ai, itu namaku. Aku lulus, Ai.” Teriak Nara kegirangan
Sementara aku tidak juga menemukan namaku di papan pengumuman
“Hai Nar, namaku kok tidak ada di papan pengumuman ya?” tanyaku bingung
“Ah masa’ sih, Ai?! Coba aku lihat dulu.” Ucap Nara
Setelah beberapa saat mencari...
“Iya benar. Namamu tidak ada Ai. Bagaimana, nih? Masa’ kamu tidak lulus sih?” ucap Nara hampir tidak percaya dan saat itu Gilang lewat
“Lang, kamu sudah lihat belum hasil ujiannya?” tanya Nara yang tiba-tiba menarik tangan Gilang
“Sudah.” Jawab gilang singkat
“Kamu lulus?” tanya Nara lagi
“Ya lulus lha. Tuh coba lihat. Itu namaku, kan?” ucap gilang sambil menunjuk sebuah nama di papan pengumuman
“Eh Nar, tuh Ai kenapa?” tanya Gilang sambil melihat ke arahku
“Namanya tidak ada, Lang, di papan pengumuman.” Jelas Nara
“Masa’ sih? Coba aku cari.” ucap gilang yang kemudian mencari namaku
“Dih iya benar. Namanya tidak ada.” Ucap gilang
“Bagaimana donk ini, Lang? Lihat tuh wajah Ai. Pucat kaya’ mayat hidup.” Ucap Nara yang khawatir sama aku
“Ya kita mau bagaimana lagi, Nar?! Itu sudah jadi hasil yang harus diterima.” Ucap Gilang lemas
__ADS_1
Tak selang berapa lama, pak Rudi memanggil Gilang
“Gilang, bisa kesini sebentar?” panggil pak Rudi dan Gilang pun mengangguk
“Sebentar ya, Nar, Ai. Aku di panggil noh sama pak Rudi.” Ucap Gilang sambil menunjuk ke arah pak Rudi
“Ya sudah sana.” Ucap Nara dan aku juga mengangguk
Aku yang masih terduduk lemas. Tiba-tiba terdengar suara pengumuman agar semua siswa berkumpul di aula sekolah. Akan ada pengumuman penting
Aku yang tidak begitu tertarik, langsung ingin pulang saja. Namun langkahku dihentikan oleh Gilang
“Hai Ai, mau kemana?” tanya Gilang
“Aku mau pulang, Lang. Aku tidak tertarik dengan pengumuman apa pun. Aku nanti bisa tanya saja ke kamu atau Nara.” Ucapku lemas
“Kamu jangan pulang dulu. Masalahnya pengumuman ini sangat-sangatlah penting buat seseorang..” jelas Gilang
“Maksud kamu apa, lang?” tanyaku bingung
.
.
.
.
Bersambung...
Sebenarnya apa yang dimaksud gilang, penting bagi seseorang?
__ADS_1
Tunggu jawabannya di next...
Lanjut👇