
Sudah tiga bulan semenjak kejadian berdarah itu. Kini Yuli pun ditahan dan juga dikeluarkan dari sekolah.
Sedangkan bu Mila, Mendapatkan pengurangan hukuman. Yang tadinya masa hukuman 15 tahun kurungan penjara menjadi 8 tahun kurungan penjara.
Sementara Yuli harus menerima hukuman 20 tahun penjara. (masa hukumannya menurut edisi author ya. Bukan yang sebenarnya. Masalahnya authornya bukan orang hukum 😜)
Saat ini aku sedang mempersiapkan ujian akhir sebelum kelulusan. Gilang yang selalu jadi juara umum, setiap hari belajar bersama kami di rumah Nara. Dan aku juga setiap hari ke rumah Nara hingga larut malam.
“Ai, dari mana saja kamu hingga larut malam begini kamu baru pulang? Di sekolah pun kamu selalu menghindariku. Bahkan pak Rudi, wali kelasmu juga sangat susah sekali bicara padamu.” Ucap pak Chandra ketika aku baru pulang dari rumah Nara
“Oh mas. Aku baru pulang dari rumah Nara. Memang kenapa mas?” tanyaku
“Main ke rumah Nara kok sampai larut malam begini. Ngapain saja kamu di sana?” tanya pak Chandra
“Aku belajar mas di sana. Mas tidak percaya?” tanyaku
“Belajar? Belajar apaan sampai malam begini, hah?” ucap pak Chandra meninggi
“Oh.. Jadi mas tidak percaya denganku? Ya sudah kalau mas tidak percaya.” Ucapku yang tidak kalah tinggi suaranya sambil meninggalkan pak Chandra dan masuk kamar lalu menguncinya.
Di dalam kamar aku menangis. Karena baru kali ini dia merasa tidak dipercaya.
Pagi-pagi sekali aku sudah berangkat sebelum pak Chandra bangun. Aku pun sudah menyiapkan sarapan untuknya sebelum aku berangkat.
__ADS_1
Sesampainya di kelas aku membuka buku pelajaran lagi.
“Oh tidak.. Inilah akibatnya kalau tidak pernah serius belajar. Susah banget sih memahami nih pelajaran.” Gerutuku sambil mengacak-ngacak rambut
Tak selang berapa lama, Nara dan Gilang pun datang.
“Kamu sedang apa, Ai?” tanya Nara
“Lha kamu tidak lihat apa aku sedang baca buku.” Ucapku
“Hai Ai, kamu mending jangan belajar deh. Sudah cukup belajarnya di rumahku saja.” Ucap Nara
“Ah kamu, Nar. Aku beginikan cuma ingin supaya tidak menyesal nantinya. Soalnya, ini kan terakhir kalinya aku belajar di sekolah ini.” Ucapku
“Memang, tadinya aku tidak ingin memberitahu dia. Tapi semalam aku coba buat bilang dan dianya tidak percaya. Eh malah marah sama aku.” Ucapku lirih dan hampir menangis
“Sudah-sudah.. Iya maafkan aku. Aku tidak tahu masalah itu.” Ucap Nara menyesal karena sudah menyalahkan aku tadi
“Iya tidak apa-apa, Nar.” Ucapku
Gilang yang dari tadi memperhatikan tingkah kami, akhirnya hanya tersenyum
“Ai, sebenarnya dimananya sih kesulitan kamu? Sampai sebegitunya kamu berusaha.” Tanya Gilang
__ADS_1
“Oh ini lho, Lang. Aku dari tadi baca ini mengulang-ulang tapi kok tidak ada yang hafal satupun.” Ucapku
“Oh masalah itu. Itu karena kamu mengharuskan otakmu untuk menghafal. Oleh sebab itu, kamu gagal terus. Coba deh kamu agak lebih santai lagi. Mungkin kamu akan bisa menghafalnya.” Jelas Gilang
“Oh benar juga yang kamu bilang, Lang. Dengar tuh, Ai. Coba kamu agak santai sedikit biar otakmu tidak beleduk seperti kompor.” Ucap Nara
“Gila kamu, Nara. Menyamakan kepalaku seperti kompor.” Ucapku sewot
“Lha iya. Habisnya setiap kamu lagi serius, kepalamu itu sudah mengeluarkan asap tahu tidak sih. Seperti sebentar lagi mau beleduk kaya kompor.” Ucap Nara
“Sudah.. Sudah.. jangan bercanda terus. Sebentar lagi masuk.” Ucap Gilang yang kembali ke tempat duduknya.
.
.
.
.
.
Lanjut...👇
__ADS_1