Aku Dicintai Oleh Guruku

Aku Dicintai Oleh Guruku
sisi lain Ai


__ADS_3

Tak terasa sekolah pun usai. Aku berjalan santai diiringi oleh Nara, sahabatku. Lalu tiba-tiba hpku berbunyi...


“Hallo...” ucap Ai membuka pembicaraan.


“Aina, ini saya. Kamu sudah mau pulang?” Tanya pak Candra.


“Iya mas, saya mau langsung pulang. Ada apa ya mas?” jawabku sambil terus melangkah keluar sekolah.


“Tunggu saya ya, sayang. Di halte dekat sekolah.” Perintah pak Candra langsung menutup teleponnya tanpa memberikan kesempatan untukku menjawab.


“Haizz....kok langsung diputus sih teleponnya?” gerutu Aina dalam hati dengan menampilkan raut kesal.


“Ada apa Ai, kok kelihatannya jengkel begitu?” tanya Nara heran.


“Bukan apa-apa kok. Yuk ah cepat jalannya. Aku sudah ingin cepat sampai di rumah nih.” Ucapku mencoba mengalihkan pembicaraan.


Kami pun akhirnya berpisah di gerbang sekolah. Karena lokasi rumah kami yang tidak searah.


Aku pun sampai di halte yang dijanjikan. Aku menunggu beberapa saat, akhirnya pak Candrapun datang.


“Masuklah, Aina..!” suruh pak Candra sambil menengok ke arahku dan aku pun langsung naik.


“Aina, kamu mau makan siang apa hari ini?” tanya pak Candra sambil pandangannya tetap menatap ke arah depan.

__ADS_1


“Hmm...terserah mas saja. Saya ikut.” Jawabku singkat dengan wajah datar.


Akhirnya mobil pun diarahkan ke sebuah tempat makan. Di sana semua jenis makanan ada. Kami pun duduk di bangku yang kosong dan memulai melihat menu makanan. Setelah menentukan yang akan dipesan, pelayan pun dipanggil.


“Mbak, saya pesan nasi padang saja 1 dan minumnya air putih saja. Kamu apa sayang?” tanya pak candra melihatku.


“Aku pesan somay saja dengan air putih.” Jawabku singkat.


Pak Candra yang mendengarkan pesananku bingung sekaligus heran. Kenapa dari semua makanan, aku lebih memilih makanan yang paling murah.


“Sayang, kenapa kamu pesan itu? Memang kamu bisa kenyang dengan makan makanan itu?” tanya pak Candra lembut.


“Mas, kalau mas tahu, memang beginilah saya. Soal kenyang atau tidak, saya rasa saya kenyang. Karena saya sudah terbiasa makan makanan sederhana seperti ini. Lagi pula, saya nanti juga diharuskan untuk makan lagi di rumah.” Jelasku jujur.


Pak Candra setelah mendengarkan penjelasanku hanya bisa mengerutkan dahi. Dia tidak habis pikir kenapa aku begini.


“Tidak apa-apa. Ini saja sudah cukup. Terimakasih.” Jawabku singkat.


Dan beberapa saat kemudian, makanan pun datang. Kami pun mulai memakan makanan kami tanpa berbicara sedikit pun.


Setelah itu kami pun pulang. Dan pada saat perjalanan, dia ingin sekali membahas tentang pelajaran.


“Aina, menurutmu pelajaran saya ini bisa kamu mengerti tidak?” tanyanya membuka obrolan.

__ADS_1


“Sama sekali tidak mengerti.” Jawabku seadanya.


“Tadi waktu sebelum ujian, kamu belajar dulu tidak?” tanyanya kemudian.


“Tidak.” Jawabku lagi.


“Lalu kalau kamu tidak belajar dulu, bagaimana caranya kamu bisa menjawab soal?” tanyanya lagi karena belum puas dan masih penasaran.


“Bukankah soal yang mas kasih itu adalah soal kelas 1. Ya kan? dan waktu itu saya pernah baca sekilas. Dan ternyata masih ada yang ingat sampai sekarang. Jadi saya menjawab soalnya sesuai yang saya ingat dan tentunya juga mengandalkan keberuntungan. Hehehe...😜” terangku dengan cengengesan.


“Haizz...ini bocah 1. Kamu itu yang tidak sadar kalau kamu pintar atau itu cuma kebetulan?! Ya sudah kita lihat saja nanti. Apakah benar kamu pintar atau memang kebetulan.” pikir pak Candra sambil fokus dengan stirnya dan dia pun mengantarkanku sampai di depan gang rumahku.


“Ya sudah kamu cepat masuk ya. Jangan lupa, hpnya selalu aktif.” Katanya.


“Hm..” jawabku mantap.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Lanjut..👇


__ADS_2