
Setelah pak Chandra selesai mandi, kami pun ke meja makan untuk sarapan
“Bi, makanlah di sini bersama kami.” Pinta pak Chandra ke bi Ina
“Tapi tuan? Saya tidak enak dengan nyonya.” Jawab bi Ina agak sungkan kepadaku
“Tidak apa-apa, bi. Tidak usah merasa tidak enak begitu. Bibi kan sudah seperti keluarga sendiri buat mas Chandra.” Jelasku sambil tersenyum
“Dan satu lagi. Jangan panggil aku nyonya. Panggil aku Ai saja. Bagaimana?” pintaku
Sesaat setelah mendengar ucapanku, bi ina melihat ke arah pak Chandra seolah-olah meminta persetujuan.
“Iya bi. Turuti saja apa maunya.” Jawab pak Chandra sambil tersenyum
Setelah mendengar persetujuan dari pak Chandra, bibi pun kemudian duduk dan sarapan bersama kami.
Di sela-sela sarapan, aku teringat akan sesuatu hal.
“Mas, aku mau tanya, rencananya mas mengundang teman-teman sekelas kapan?” tanyaku karena aku lupa
“Besok minggu. Memang kenapa?” jawabnya sambil menikmati makanannya
“Uhuk.. uhuk.. uhuk..” aku tiba-tiba tersedak.
“Ada apa Ai? Nih minum dulu.” Ucap pak Chandra menyodorkan segelas air
“Mas, tadi mas bilang besok minggu?” tanyaku dan pak Chandra mengangguk
“Mas, terus aku bagaimana kalau acaranya besok?” tanyaku bingung
“Apanya yang bagaimana sih sayang?” tanyanya heran sambil menghentikan makannya
__ADS_1
“Lha kalau mereka semua datang kesini dan tahu aku tinggal di sini, mereka pasti curiga mas. Iya kan, bi?” jelasku
“Terus kamu maunya bagaimana?” tanyanya bingung denganku.
“Aku tidak tahu mas. Kalau aku tahu, aku tidak akan bingung seperti ini.” Ucapku sewot
“Haizz.. Kamu ini. Kamu kebanyakan berpikir.” Ucapnya datar
“Mas... Aku tuh serius. Mas kok tidak tahu sih. Pokoknya aku tidak mau identitasku sampai ketahuan mereka.” Rajukku sambil menyudahi makanku dan pergi
“Hadeuh...” gumam pak Chandra
“Bi, ini aku harus bagaimana? aku bingung.” Keluh pak Chandra
“Sebelumnya saya minta maaf tuan. Menurut saya, Ai, dia punya kesulitan dan alasannya sendiri kenapa dia begitu. Saya harap tuan sabar menghadapi sikapnya.” Ucap bi Ina menasihati
“Bi, lalu aku harus bagaimana untuk menghadapi situasi besok?” tanya pak Chandra
“O iya ya. Kenapa aku bisa melupakan 2 orang itu ya?” gumam pak Chandra
“Makasih bi, sudah mengingatkan saya.” Ucap pak Chandra dan bibi pun tersenyum
Setelah sarapannya sempat terhenti, mereka pun melanjutkannya kembali, namun tanpa aku.
******************************
‘tok.. tok.. tok..” pak Chandra mengetuk pintu kamar
“Ceklek..” suara pintu terbuka
Pak Chandra berjalan menghampiriku yang sedang tiduran
__ADS_1
“Sayang, kamu marah ya sama aku?” tanya pak Chandra lembut
“Ya sudah kalau kamu marah sama aku, aku minta maaf. Tapi tolong jangan mengambek seperti ini. Aku bingung.” ucapnya lirih memohon
“Aku tidak marah mas, aku hanya kecewa karena mas tidak mau mengerti posisi aku.” Jawabku
“Iya.. Iya... Maaf. Aku salah. Kamu jangan marah lagi ya?” rayunya
“Iya, mas. Aku tidak marah dan tidak mengambek lagi kok.” Ucapku tersenyum dan mencium pipinya.
Dia sangat terkejut karena setelah jadi istrinya, aku jadi lebih sedikit agresif. Tanpa menunggu lama, dia pun tidak mau kalah, dia menciumiku dengan lembut lalu dia menghentikannya.
“Sayang, sekarang aku tidak akan melakukan apa-apa padamu. Karena aku tahu kamu masih merasa sakit.” Ucap pak Chandra, aku pun mengangguk
“Ya sudah, kamu sekarang telepon Nara dan Gilang ya. Bilang ke mereka kalau besok mereka harus datang lebih awal dari teman-temanmu yang lainnya.” Ucap pak Chandra sambil mengelus rambutku
“Iya mas, nanti aku bakalan telepon mereka. Terimakasih mas karena sudah mau pengertian denganku.” ucapku dan dia pun tersenyum.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Lanjut...👇