
Saat ini sekolah pun telah usai. Aku yang dari tadi terpikir dengan gosip tentang kedekatan pak Chandra dan Riri pun akhirnya memutuskan untuk datang ke ruangan Pak Chandra. Namun, sebelum aku sampai di depan ruangan pak Chandra, aku terlebih dahulu melihat Pak Chandra sedang berbicara dengan Riri menuju ruangannya.
Entah apa yang terjadi, tapi yang aku tahu kalau hatiku ini sangatlah sakit...😭. Kalau boleh pilih, aku lebih baik sakit gigi deh daripada sakit hati... Huhuhu...😭
Dengan hati yang sangat galau, aku akhirnya memutuskan untuk tidak jadi menemui pak Chandra. Karena aku pikir, jika aku paksakam untuk bertemu, aku khawatir emosiku bakalan tidak terkendali.
‘drrt..drrt..drrt..’ bunyi teleponku dan aku pun melihat dilayar hpku tertulis ‘Harapanku’ is calling...aku yang dari tadi sedang kacau, tiba-tiba memutuskan panggilan telepon dan langsung menonaktifkannya.
“Ish...hatiku ini rasanya sakit sekali...” gumamku dalam hati sambil melangkahkan kakiku meninggalkan sekolah.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke dalam kamar. Aku bingung, aku galau, aku rasanya ingin sekali menangis. Lalu aku mengambil hpku dan menyalakannya lagi. Ternyata di sana ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari pak Chandra.
“Oh mas, Aku ini kenapa? Kenapa saat aku melihatmu bersama perempuan lain, hatiku jadi sakit seperti ini?” gumamku yang tanpa sadar meneteskan air mata.
******************************
Pagi ini rasanya aku malas sekali datang ke sekolah. Aku sama sekali tidak mau dengar lagi gosip tentang pak Chandra dengan Riri. Hatiku panas...rasanya seperti terbakar.
“Ai, kamu kenapa? Lemas sekali tidak ada semangat.” Ucap Nara yang tiba-tiba datang entah dari mana.
“Eh kamu, Nar. Aku pikir siapa?” jawabku
“Ai, kamu lagi sakit ya? Wajahmu kok pucat kaya begini?" Tanya Nara khawatir
“Aku semalam tidak bisa tidur.” Jawabku lirih
“Kamu kenapa tidak bisa tidur?” tanya Nara lagi
__ADS_1
“Aku kemarin lihat pak Chandra sedang jalan bersama dengan Riri dengan mata kepalaku sendiri.” Jawabku sambil berusaha menahan air mata.
“What...??” ucap Nara terkejut
“Sejak saat itu, hatiku rasanya sakit, Nar. Pedih. Kalau lagi terbayang mereka, aku jadi ingin menangis.” Ucapku
“Bwahaha...” sontak tawa Nara yang lepas membuat aku jadi lebih kesal.
“Eh kamu, Nar. Aku ini lagi sedih, bukannya dihibur malah di tertawakan.” Ucapku sewot.
“Dasar oneng kamu, Ai. Kamu tahu tidak kenapa kamu seperti itu?” tanya Nara
Aku menggeleng-gelengkan kepala tidak tahu.
“Ish.. Ai.. Ai.. maka dari itu jadi orang jangan terlalu cuek. Jadi tidak peka deh dengan perasaan sendiri.” Ucap Nara kemudian.
“Maksud aku itu...kamu sudah benar-benar sayang sama ‘dia’. Lo cemburu Ai. Lo takut banget kalau ‘dia’ bakal ke lain hati.” Jelas Nara
“Masa’ iya begitu?” ucapku lirih
“Sekarang kamu jujur dan tanya sama dirimu sendiri, bagaimana perasaan kamu saat ini. Ok.” Ucap Nara yang mendahuluiku masuk kelas karena aku saat ini sedang termenung.
Namun di saat yang sama, aku tiba-tiba menabrak pak Chandra di depan pintu kelas.
“Bruk..” seketika aku tersadar dari lamunanku
“Ada apa Ai?” tanya pak Chandra lembut.
__ADS_1
“Tidak ada apa-apa, pak.” Jawabku singkat dan langsung masuk ke dalam kelas
Setelah aku duduk di bangkuku, tiba-tiba hpku berbunyi.
'drrt... drrt.. drrrt...'
Pak Chandra
‘sayang, pulang sekolah nanti, tunggu saya di tempat biasa’
Begitulah isi pesan dari pak Chandra sebelum masuk ke dalam kelas dan memulai pelajaran.
.
.
.
.
.
.
Kira-kira apa yang akan pak Chandra ya dan apakah Ai juga akhirnya mau mengakui perasaannya sendiri?
Lanjut👇
__ADS_1