
“Ini sudah bisa diteruskan belum?” (pak Chandra)
“Oh.. Iya.. Iya.. Sudah bisa kok. Tapi buat saat ini, agak panjang dan melelahkan ya..” (author)
“Ok siip...”(pak Chandra)
Siap.. 3..2..1..rolling action..🎬
“Nah setelah mendengar jawaban dari Ai, kira-kira kapan acara pernikahannya pak?” tanya ibuku yang ingin aku cepat-cepat menikah dan meninggalkan rumah.
“Jadi begini.. Untuk masalah itu, saya pribadi sih maunya hari jum’at ini. Setelah solat jum’at. Lagi pula mumpung libur sekolah” jelas pak Chandra
“Apa? Jum’at ini?😲” tanyaku kaget.
“Apa tidak terlalu cepat pak? Kan butuh persiapan dulu.” Kataku heran
***
Catatan Author:
Ai, setiap bicara dengan pak Chandra di depan ibunya, pasti memanggilnya dengan sebutan 'bapak'.
***
“Masalah persiapan, semua biar saya yang urus. Saya hanya meminta data-datanya Ai saja bu. Apa boleh?” Ucap pak Chandra
“Oh, baiklah tunggu sebentar. Akan ibu ambilkan.” Ucap ibu
Di saat ibu mengambilkan berkas–berkas, aku benar–benar kesal.
“Mas, kenapa tidak sesuai kesepakatan awal kita sih? Kenapa harus sekarang?” protesku
“Memangnya kenapa? Sekarang atau nanti kan sama saja. Iya tidak? Lagi pula aku sudah tidak kuat. Hehehe...” jawab pak Chandra santai
“Tidak kuat apa maksud mas?” tanyaku polos
“Ya tidak kuat, ingin cepat jadikan kamu istriku.” Jawab pak Chandra masih dengan logat santainya
“Mas, aku tuh serius. Kenapa harus sekarang? Nanti teman-teman bisa tahu gimana?” tanyaku
“Ya tidak gimana-gimana. Biarkan saja kalau memang ketahuan.” Ucapnya lagi
“Mas...!!😡” teriakku emosi
__ADS_1
Di saat yang bersamaan, ibuku datang dan sudah membawa semua yang dibutuhkan.
“Ehm.. Ehm.. Apa sih kamu teriak-teriak begitu? Tidak sopan tahu.” Ucap ibu memarahiku
“Maaf pak Chandra. Anak ini memang seperti ini.” Ucap ibu
“Tidak apa-apa kok bu.” Jawab pak Chandra sambil tersenyum ke arahku
“O ya ini pak, berkas-berkas yang bapak tadi minta.” Ucap ibu sambil menyodorkan beberapa kertas
“Iya bu. Terimakasih.” Ucap pak Chandra sambil mengambil semua kertas itu.
“O ya bu, apa boleh sekarang saya mengajak Ai keluar untuk mendaftarkan pernikahan?” ucap pak Chandra meminta ijin
“Ya sudah, tidak apa-apa. Pergilah.” Ucap ibu menyetujui
“Pak, tunggu sebentar, aku ganti baju dulu ya.” Ucapku
“Iya..” jawab pak Chandra sambil tersenyum.
******************************
Sesampainya di kamar, aku langsung ganti baju. Namun sebelum aku keluar, aku putuskan menghubungi Nara terlebih dahulu..
“Halo..” ucap Nara membuka percakapan
“Halo, Nar. Ini aku, Ai.” Ucapku
“Ada apa, Ai?” tanya Nara
“Nar, tahu tidak kamu, barusan apa yang sudah terjadi dalam hidupku?!” ucapku memberi tebakan
“Tidak tahu. Memang ada apa Ai? Sepertinya heboh sekali” Ucap Nara heran
“Bagaimana tidak heboh, Nar. Kamu dengarkan aku baik-baik. Aku... Barusan... Dilamar... Oleh... Pak Chandra...” ucapku
“Bukan hal yang aneh kali Ai, kalau kamu dilamar pak Chandra. Bukannya dulu kamu juga pernah di lamar pak Chandra?” ucap Nara santai
“Eh dasar oneng kamu. Maksudku itu, pak Chandra sekarang ada di rumahku buat minta aku ke ibuku. Kamu paham tidak sampai di sini?” tanyaku sewot
“Ke rumah kamu? minta kamu ke ibumu? Itu artinya...” ucap nara terputus karena dia masih tidak yakin
“Iya Nar, aku akan di nikahi oleh pak Chandra.” Jelasku
__ADS_1
“Apa? Buju buset... Serius kamu, Ai? Kamu tidak lagi bercanda kan?” tanya Nara tidak kalah heboh dari aku.
“Aku tuh serius, Nar. Dan kamu tahu tidak itu kapan?” tanyaku
“Kapan memangnya?” Nara tanya balik
“Tapi kamu siapkan dulu hatimu ya buat dengar jawabannya.” Pintaku
“Iya.. Iya... Bawel. Buruan.. Kapan?” tanya Nara penasaran
“Jum’at ini.” Jawabku singkat
“Apa..?” ucap Nara kaget setengah mati.
“Gila tuh guru. Sampai segitunya takut kehilangan kamu.” Ucap Nara lagi
“Jangankan kamu, aku sendiri saja kagetnya minta ampun waktu tahu dia minta aku untuk nikah jum’at ini.” Jelasku
“Terus kamu gimana sekarang?” tanya Nara
“Ya tidak gimana gimana. Ini saja aku dan dia mau ke kantor catatan sipil buat daftar nikah.” Jelasku
“Ai... Kamu sudah selesai belum ganti bajunya. Pak Chandra sudah lama menunggu nih?” Teriak ibu memanggilku.
“Iya sebentar lagi bu.” Jawabku
“Eh Nar, sudah dulu ya. Aku sudah di tunggu nih. Nanti malam, kita lanjut lagi deh.” Ucapku sebelum memutus telepon
“Ya sudah. Hati-hati. Salam buat suamimu ya.” Goda Nara
“Nara...!” teriakku di barengi oleh suara cekikikan dari Nara
Setelah telepon terputus, aku langsung keluar dan menemui ibu dan pak Chandra.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Lanjut...👇