
Tak terasa ujian Mid semester akan mulai diadakan hari ini sampai lima hari ke depan. Aku yang selama ini diam semenjak kejadian itu, masih tetap diam dan menutup diri. Tapi walaupun begitu, Nara masih setia selalu mendampingiku apa pun keadaanku.
“Ai, sudah siap ujian hari ini?” tanya Nara sambil mencari nomor tempat duduk kami.
“Sudah donk. Aku tidak pernah merasa sesiap ini sebelumnya.” Jawabku mantap.
“Hmm, okelah kalau begitu.” Ucap Nara heran karena tidak biasanya aku seperti ini.
“Hai Ai, kita buat kesepakatan yuk. Siapa yang nilainya kecil, harus traktir makan. Gimana?” tantang Nara
“Ok. Siapa takut.” Jawabku dengan senyuman percaya diri.
Hari pertama sudah lewat, hari kedua juga sudah lewat. Begitu pun hari-hari seterusnya. Dan hari ini pun hari terakhir. Setelah itu masa tenang alias libur 2 hari. Sebelum akhirnya hasilnya diumumkan.
“Yes hari terakhir.” Ucap Nara.
“Sampai begitu senangnya kamu, Nar.” Ucapku yang berjalan di sampingnya.
Saat aku sedang berjalan santai bersama Nara. Tiba-tiba kepalaku sakit sekali dan entah kenapa pandanganku kabur. Semua gelap seketika.
“Ai...Ai... Kamu kenapa? Tolong.. Tolong...!!” teriak Nara yang saat itu panik.
“Ai?!..” ucap pak Candra saat itu yang kebetulan mendengar suara minta tolong.
Tanpa banyak bicara, Pak Candra langsung mengangkat tubuhku dan langsung membawaku ke Rumah sakit terdekat.
Terlihat betapa khawatirnya pak Candra saat itu. Setelah sampai, Pak Candra pun langsung memasukkanku ke UGD agar bisa langsung ditangani. Tidak perlu antri.
“Bagaimana keadaannya dok?” tanya pak Candra begitu khawatir
“Dia tidak apa-apa. Hanya sedikit tertekan dan stres. Tapi sebentar lagi dia akan sadar dan boleh pulang.” Jelas dokter
__ADS_1
“Dan ini nanti resep yang harus ditebus ya.” Ucap dokter sambil menyerahkan selembar resep.
“Terimakasih, Dok.” Ucap pak Candra lega.
Setelah beberapa saat, aku pun sadar, dan melihat pak Candra sedang ada di sampingku. Dia terlihat sangat lelah. Entah sudah berapa lama aku pingsan.
“Kau sudah bangun, sayang?” tanyanya lembut.
“Iya.” Jawabku singkat
“Aku kenapa ada di sini?” tanyaku bingung.
“Tadi kamu pingsan dan saya panik. Akhirnya saya putuskan membawa kamu ke sini.” Jawab Pak Candra
“Memang berapa lama saya pingsan?” tanyaku kemudian
“Tidak lama kok sayang. Hanya 1 jam.” Jawab pak Candra sambil mengelus rambutku.
“Orang tuaku tahu?” tanyaku lagi
Hatiku tenang seketika mendengar penjelasannya.
“Tapi sebenarnya saya kenapa pak?” tanyaku masih saja bingung.
“Bapak? Kamu tadi panggil saya bapak? Kamu masih marah sama saya, Ai?” Ucap pak Candra tanpa menjawab pertanyaanku.
Aku hanya diam...diam dan lagi-lagi diam. Seperti diingatkan hal-hal yang tidak ingin diingat.
“Ai...??” ucap pak Candra menyadarkanku
“Eh ya? Ada apa ya tadi? Tadi bapak ngomong apa?” kataku pura-pura tulalit.
__ADS_1
“Tadi saya tanya, kenapa kamu panggil saya bapak? Kamu masih marah sama saya?” Tanyanya lagi. Tapi kali ini dengan nada agak tinggi.
Aku pun masih diam seribu bahasa.
“Ya sudah kalau kamu tidak mau menjawab. Saya tidak akan memaksanya.” Ucapnya putus asa.
“Ai, maafkan aku. Aku terlalu
bodoh untuk bisa memahamimu. Aku sangat rindu sekali sama kamu, sayang. Ingin rasanya aku memelukmu, menciummu dan menjadikanmu istriku secepatnya.” Gumam Pak candra dalam hati.
Dan pada saat yang bersamaan, ruangan terasa sangat hening seketika. Aku hanya menunduk tidak tahu harus bagaimana, sedangkan pak Candra hanya tetap melihat wajahku dengan lekat.
Kami pun masih diam tanpa mengatakan apa-apa. Seperti ada jarak di antara kami.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Lanjut👇