
“Sudahlah Ai, menangislah jika kamu ingin menangis agar hatimu menjadi lebih lega.” Ucap Bi Ina
Setelah mendengar ucapan bi Ina, aku pun menangis lagi dalam pelukan bi Ina.
Sementara di luar kamar, ternyata pak Chandra mendengar semua yang aku katakan pada bi Ina dan ini membuat pak Chandra hanya terduduk lemas. Dia menyadari kesalahannya.
“Ai, maafkan aku. Maaf...” gumam pak Chandra lirih
Beberapa saat kemudian, bi Ina keluar dari kamarku
“Tuan...?? Sedang apa tuan di sini?” tanya bi Ina terkejut
“Bi, Ai sudah mau makan dan minum obatnya?” tanya pak Chandra lirih
“Sudah tuan. Sekarang Ai sudah tidur.” Jawab bi Ina
“Oh begitu. Terimakasih ya, bi.” Ucap pak Chandra
“Iya tuan.” Jawab bi Ina
Setelah bi Ina pergi, pak Chandra pun masuk ke dalam kamarku dan melihatku sedang tertidur dengan mata yang sembab
“Ai, entah bagaimana caranya agar kamu mau memaafkan aku?! Aku sungguh tidak sanggup Ai kalau kamu seperti ini lagi. Aku sungguh tidak sanggup.” Ucapnya lirih sambil membelai rambutku
****
Keesokan paginya, aku ingin sekali sekolah. Aku tidak betah berlama-lama di dalam rumah.
“Bi, aku berangkat sekolah dulu ya bi.” Pamitku
“Ai tidak bareng pak Chandra?” tanya bi Ina
“Tidak, bi. Aku ingin berangkat sendirian. Oh ya bi, aku mungkin pulang agak malam. Jadi tidak usah menungguku ya, bi.” Ucapku
“Memang Ai mau kemana?” tanya bi Ina
“Aku ada urusan, bi.” Jawab bi Ina
__ADS_1
“Tapi apa tidak apa-apa Ai? Ai kan baru sembuh. Tidak boleh terlalu kecape’an.” Ucap bibi mengingatkan
“Aku tidak apa-apa kok, bi.” Jawabku
“Ya sudah aku berangkat dulu ya, bi.” Lanjutku berpamitan
“Iya Ai, hati-hati di jalan.” Ucap bi Ina
******
Sesampainya di sekolah, aku membaca-baca catatan yang kemarin diberikan Gilang ke aku.
Sementara di rumah, seperti biasa, pak Chandra berangkat pagi. Namun, ketika dia mau berangkat, dia melihat ke kamarku dulu dan dia tidak menemukanku di kamar.
“Bi, bibi lihat Ai?” tanyanya panik.
“Oh Ai sudah berangkat tuan.” Jawab bi Ina
“Berangkat kemana?” tanya pak Chandra
“Berangkat ke sekolah.” Jawab bi Ina
“Ya sudah, bi. Aku langsung berangkat saja.” Pamit pak Chandra
Setelah berpamitan, pak Chandra pun langsung mengendarai mobilnya dan melesat cepat ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, seperti yang diduga, belum ada satu murid pun yang datang.
Pak Chandra kemudian ke kelasku dan menemuiku yang sedang serius membaca
“Ai, kenapa kamu hari ini ke sekolah?” tanya pak Chandra lembut
“Aku tidak betah saja lama-lama di rumah.” Jawabku datar sambil masih membaca buku
“Apa kamu sudah merasa lebih baik?” tanya pak Chandra
“Lumayan.” Jawabku lagi singkat
__ADS_1
“Ai, kamu sudah sarapan?” tanya pak Chandra lagi
“Sudah.” Jawabku
“Minum obat?” tanyanya
“Sudah.” Jawabku yang terus-terusan singkat
“Oh ya sudah kalau begitu. Aku ke ruanganku dulu ya.” Ucap pak Chandra
“Ya.” Jawabku yang sekali lagi singkat
Tak selang berapa lama setelah pak Chandra pergi, Nara dan Gilang pun datang.
“Ai, kamu kok sudah sekolah hari ini? Katanya besok?!” ucap Nara yang langsung memelukku
“Aku tidak betah di rumah. Ingin sekolah saja.” Jawabku datar
“Oh begitu ya?!” ucap Nara
Setelah menjawab itu, Nara pun duduk di sampingku. Sementara aku masih serius dengan buku catatan yang aku baca.
****
Di saat yang bersamaan, di tempat lain...
“Hai Chan, tumben kamu datang agak pagi.” Celetuk pak Rudi ketika masuk ke dalam ruangan pak Chandra
“Kamu tuh yang tumben.” Sahut pak Chandra
“Masa’ sih?!” ucap pak Rudi sambil memonyongkan bibir.
.
.
.
__ADS_1
.
Lanjut..👇