
Pagi ini, meskipun terasa sangat berat aku melangkahkan kakiku ke sekolah, tapi aku harus tetap berangkat😟. Kalau aku tidak sekolah, nanti banyak yang curiga.
“Ai, woi...tunggu aku kenapa?! Kamu cepat sekali jalannya. Kamu seperti lagi dikejar hansip eh salah, dikejar maling begitu?!” teriak Nara sambil terengah-engah.
“Oh sori, aku mau cepat masuk kelas saja. Takut di luar bertemu dengan guru itu.” Jawabku sinis sambil tetap jalan.
“Ya ampun Ai, sampai segitunya. Kamu mau sampai kapan seperti ini coba?!" Tanya Nara mengimbangi langkahku.
“Sampai aku puas.” Jawabku singkat.
“Ai, kamu tidak merasa kalau kamu itu rajanya tega.” Ucap Nara
“Biarkan saja.” Sahutku tanpa menoleh.
Sampai di kelas, aku langsung duduk dan diam hingga pelajaran pun dimulai. Aku tidak sadar pelajaran pertama ini adalah pelajaran pak Candra. Dan aku juga lupa kalau akan diadakan ujian. Aku pun masih tetap diam walau dari tadi aku tahu pasti bahwa pak Candra memperhatikanku.
Kertas ujian pun dibagikan. Aku yang dari tadi hanya diam, mencoba untuk mengerjakannya. Setelah semuanya selesai, aku titipkan lembar jawabannya ke Nara untuk dikumpulkan.
Tanpa terasa bel istirahat sudah berbunyi, aku pun tidak banyak bicara langsung pergi meninggalkan kelas dan ke perpustakaan untuk menenangkan diri. Secara kan perpustakaan itu sepi alias tidak berisik.
Dalam perpustakaan ternyata ada banyak buku yang menarik sekali. Aku pun membacanya.
#Dalam ruangan pak Candra
“Lumayan. Semua nilainya sudah ada perkembangan.” Gumamku.
“Tapi kenapa Ai hanya dapat nilai 50. Sangat menurun dari nilai dia yang biasanya.” Gumam pak Chandra heran.
# kembali ke Ai
Bel masuk kelas sudah bunyi. Aku pun langsung masuk kelas.
“Ai, kamu tadi kemana? Aku cari kamu ke kantin, kamunya tidak ada.” Tanya Nara.
“O.. Aku tadi lagi menenangkan diri.” Jawabku santai.
__ADS_1
Tak selang berapa lama, akhirnya ketua kelas, Gilang, mengumumkan siapa saja yang akan ikut pelajaran tambahan. Ternyata di situ ada namaku.
“Sudah ku duga.” Batinku.
“Ai, aku tidak salah dengarkan? Kamu juga ikut pelajaran tambahan." ucap Nara
“Mungkin.” Jawabku singkat sambil menyiapkan buku pelajaran baru
“Kamu nanti datang?” tanya Nara sambil melihatku
“Tidak.” Jawabku singkat dan tegas.
“Kamu yakin tidak datang? Kamu tahukan hukumannya kalau tidak ikuti peraturan guru killer itu." ucap Nara
“Aku sih masa bodo. Khusus guru satu itu, aku bakalan jadi siswa yang pembangkang untuk saat ini.” ucapku dengan nada sedikit penekanan.
“Ai.. Ai... Benar-benar kamu ya. Aku tidak tahu harus bilang apa ke kamu.” Ucap Nara sambil menggelengkan kepalanya.
Waktu sekolah pun usai. Aku langsung saja pulang ke rumah. Aku tidak peduli sama yang di sekolah.
“Benar-benar kacau.” Umpatku dalam hati.
“Nar, Ai mana?” tanya pak Chandra
“Tadi langsung pulang pak.” Jawab Nara
“O ya udah, kamu masuk.” Ucap pak Chandra
Pelajaran tambahan pun dimulai. Pak Chandra merasa sangat suntuk sekali. Karena orang yang dia harapkan ternyata tidak ikut pelajaran tambahannya.
“Ai.. Ai.. Tidak bisakah kamu beri aku sedikit waktu untuk melihatmu tersenyum” ucap pak Chandra sedih
Kelas tambahan pak Chandra pun selesai.
“Nar, boleh bapak tanya sesuatu ke kamu?” tanya pak Chandra sedikit hati-hati
__ADS_1
“Tanya apa pak?” ucap nara
“Ini masalah Ai. Dia kenapa sampai dapat nilai turun seperti ini?” tanya pak Chandra lagi.
“O itu pak, tadi dia bilang dia sengaja menjawabnya asal-asalan.” Jawab Nara yang buat pak Chandra kaget.
“Terus kenapa dia juga tidak ikut pelajaran tambahan saya?" Tanya pak Chandra lagi
“Maaf pak. Ini kata dia loh ya. Katanya...khusus untuk Bapak, dia bakal jadi murid yang pembangkang.” Jawab Nara lebih mengagetkan pak Chandra lagi.
“Pak, masih ada lagi yang mau ditanyakan atau disampaikan?” tanya Nara
“Oh..tidak.. tidak..sudah tidak ada lagi. Ya sudah kamu boleh pulang. Terimakasih ya, Nar.” Ucap pak Chandra
“Sama-sama, pak.” Ucap Nara singkat lalu pergi meninggalkan pak Chandra yang sedang galau.
“Ai...oh Ai, segitu marahnya kamu sama aku!?” gumam pak Chandra putus asa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
lanjut 👇