
Setelah acara selesai, teman-teman pun saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Kemudian mereka pun pulang. Sementara Yuli masih saja kecentilan dengan pak Chandra
“Woi, Yuli, kami mau sampai kapan ada di sini? Kamu tidak pulang?” celetuk Gilang
“lha kenapa juga kamu sendiri belum pulang? Hah?” ucap Yuli ketus
“Lha suka-suka akulah mau sampai kapan di sini.” Sahut Gilang tidak mau kalah
“Sudah.. Sudah.. Jangan berantem. Yuli, sekarang kan sudah hampir malam, tidak baik kalau anak gadis masih keluyuran di luar apalagi di rumah cowok.” Ucap pak Chandra dingin
“Dengarkan tuh.” Celutuk Gilang
“Pak, bapak tidak adil. Kenapa saya sendiri yang di suruh pulang, sedangkan mereka tidak. Mereka kan juga gadis ?!” protes Yuli sambil menunjuk ke arahku dan Nara
“Eh Yul, ini juga kita mau pulang kali. Kenapa juga lama-lama di sini?! Takut merusak pemandangan.” Sindir Nara
“Apa kamu bilang?” ucap Yuli kesal
“Sudah.. Sudah jangan bertengkar. Lebih baik sekarang kalian semua pulang saja ya. Sudah hampir malam.” Ucap pak Chandra sambil mengedipkan mata.
“Baiklah, pak. Kami bertiga pulang.” ucap Gilang yang mengerti dengan isyarat yang pak Chandra kasih
“Nah begitu donk, adil.” Ucap Yuli sambil mengambil tas miliknya.
“O ya, Nara, Gilang, hati – hati nanti ada pelakor lho.” Sindir Yuli kepadaku..
“Kamu...!!” ucap Nara emosi
Aku yang melihat Nara seperti itu, hanya bisa geleng-geleng kepala memberi tanda agar tidak diteruskan lagi.
Setelah menyindirku seperti itu, Yuli pun pulang dan di susul oleh Gilang dan Nara
Sementara aku tetap tinggal dan membantu bi Ina untuk beres-beres
__ADS_1
****
Setelah selesai membantu bi Ina beres-beres, aku pun duduk santai di depan TV.
“Sayang, tadi bagaimana pestanya? Kamu senang tidak?” tanya pak Chandra lembut sambil duduk di sampingku
“Biasa saja, mas.” Ucapku datar karena memang tidak suka acara yang seperti itu.
“Sayang, aku boleh jujur tanya sesuatu tidak?” ucap Pak Chandra
“Tanya apa mas?” ucapku bingung
“Sayang, kamu marah tidak tadi waktu aku mengobrol berdua saja dengan Yuli?” tanya pak Chandra
“Tadinya aku marah mas, tapi aku berpikir lagi. Buat apa aku marah sama dia. Toh, aku sudah menang kok. Ya kan?!” ucapku membanggakan diri
“Lagi pula ya mas, justru aku kasihan sama dia. Karena kalau memang ternyata dia benar-benar suka sama mas, berarti dia harus siap-siap untuk di tolak. Iyakan?” jelasku
“Ah kamu ini. Bisa saja.” Ucap pak Chandra sambil mengacak-ngacak rambutku
“Ya sudah.. Ya sudah.. Maaf. Habis senang sih buat kamu jengkel.” Goda pak Chandra
“Eh ya sayang, sepertinya untuk tahun ajaran baru nanti, aku tidak akan jadi wali kelas lagi. Tapi aku tetap mengajar bahasa inggris kok.” Jelas pak Chandra
“Iya aku tahu kok, mas.” Ucapku
“Biarpun aku sudah tidak jadi wali kelasmu, aku mohon, kedepannya kita saling percaya dan saling jujur ya. Jika ada hal yang tidak mengenakkan hati, harus diungkapkan. Jangan dipendam.” Pinta pak Chandra sambil memeluk pinggangku.
“Iya pak. Aku tahu. Bapak juga harus hati-hati sama Yuli ya.” Sindirku
(Author✏️ : Untuk panggilan bapak pada percakapan di atas, itu karena Ai sedang dalam momen menyindir pak Chandra😊😊)
“Ehm.. Ada yang cemburu nih rupanya.” Goda pak Chandra
__ADS_1
“Apa sih mas ini. Memang tidak boleh ya kalau aku cemburu seperti ini?!” rajukku
“Boleh, sayang. Malahan aku senang sekali.” Jawab pak Chandra
Kami pun terus mengobrol sampai larut malam.
******************************
“Selamat pagi tuan putri..” ucap pak Chandra sambil mengecup dahiku
“Eh mas, mas sudah bangun ?” tanyaku
“Iya sudah.” Ucapnya
“Cepat bangun. Kita harus berangkat pagi sebelum yang lainnya sampai di sekolah. Kamu tidak mau kan kalau kita ketahuan ?” ucapnya lagi
“Oh iya ya hari ini kan sudah masuk sekolah.” Ucapku yang tiba-tiba bangun
“Ya sudah sana mandi. Aku tunggu kamu di meja makan buat sarapan ya.” Ucap pak Chandra dan aku pun mengangguk
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Lanjut...👇