Aku Dicintai Oleh Guruku

Aku Dicintai Oleh Guruku
permintaan maaf


__ADS_3

Akhirnya bel pulang sekolah pun berbunyi. Nara pun tidak lupa langsung mampir ke ruangan wali kelasnya.


“Permisi pak, bapak mau titip apa ke saya buat Ai?” Tanya Nara begitu masuk ruangan pak Candra.


“Tolong berikan buku ini untuknya. Saya tidak tahu apakah dia akan menyukainya atau tidak.” Ucap pak Candra sambil menyerahkan sebuah buku yang tidak tahu buku apa itu. Masalahnya buku itu di bungkus rapi.


“Baik pak. Saya akan berikan padanya nanti. Apa masih ada hal lain? Kalau tidak ada lagi, saya mau pamit pulang dulu.” Ucap Nara.


“Tidak. Sudah tidak ada lagi. Kamu boleh pulang sekarang. Terimakasih bantuannya.” Ucap pak Candra.


“Sama-sama pak.” Balas Nara. Lalu Nara pun langsung OTW ke rumah Ai.


# Di rumah Ai


“Ai, kamu tidak apa-apa? Tanya Nara setelah di persilahkan masuk.


“Tidak apa-apa kok.” Jawab Ai datar.


“Ai, ini buku catatan yang tadi dan ini titipan dari wali kelas kita. Aku tidak tahu percis sih itu apa. Tapi sepertinya sih buku. Coba kamu buka. Aku juga ingin tahu, plis.” Ucap Nara dengan sangat mengharap temannya mau membukanya di hadapan dia.


Akhirnya karena bujukan yang mematikan dari sahabatku itu, aku pun membuka bungkusan itu. Dan kalian tahu apa itu isinya?! Beberapa buku novel yang romantis.


Bayangkan...seorang guru tampan, tapi juga killer dan dingin, bisa memberikan buku seperti ini. Pastilah mukjizat. Hehehe...😁. Tapi eit tunggu dulu.


“Ai, tunggu sebentar. Itu ada pesannya. coba kamu baca.” Ucap Nara sambil menunjuk ke sebuah kertas kecil.


'My sweety girl...,


Ai, Sayangku...saya minta maaf padamu jikalau saya berbuat salah padamu. Saya masih bingung dengan apa yang terjadi. Saya sendiri tidak tahu dimana letak kesalahan saya sampai membuat kamu menghindar dari saya. Saya cuma tahu satu hal, yaitu saya sudah salah karena membentak kamu. Itu semua karena saya khawatir sama kamu. Kamu sama sekali tidak mau cerita apa-apa. Itu yang membuat saya frustasi. Ai, maafkan saya ya. Saya janji tidak akan membentak kamu lagi. Kamu jangan marah seperti ini lagi ya sayang.'

__ADS_1


Seperti itulah isi suratnya. Sontak membuat Nara kaget dan bingung. Ternyata sahabatnya ini punya hubungan yang tidak biasa dengan wali kelasnya.


“Pantas saja waktu itu pak Candra bertanya macam-macam soal Ai. Ternyata ini alasannya.” Pikir Nara dalam hati.


“Ai, apa kamu tidak mau menjelaskan sesuatu ke aku?” tanya Nara kepo.


“Penjelasan masalah apa, Nar?” Tanyaku yang pura-pura tidak paham dengan maksud sahabatku itu.


“Ish.. Kamu itu ya?! Sudah jelas-jelas isi suratnya kaya begitu. Masa berlagak ngeles segala lagi.” Ucap Nara kesal.


“Sori Nar, bukan niat aku untuk menutupi masalah ini dari kamu. Kejadian ini terlalu mendadak dan aku belum siap untuk menceritakannya.” Jelasku sambil menundukkan kepala.


“Ai, kalau kamu simpan semuanya sendiri, berarti kamu tidak pernah menganggap aku ini sahabat kamu. Iya kan?! Ya sudah kalau itu mau kamu. Aku pergi dulu. Percuma juga aku ada di sini.” Ucap Nara hendak pergi.


“Tunggu, Nar. Ok aku cerita. Tapi kamu harus janji jangan ceritakan ini ke siapa pun sampai kita lulus.” Kataku mencoba menahan langkah Nara.


# cerita


“Begini, Nar. Sebenarnya waktu awal kita masuk kelas 2 kemarin, wali kelas kita, pak Candra, secara mendadak melamar aku buat jadi istrinya”. Jelasku.


“Buju buset, gila kamu. Ah yang benar!?” celetuk Nara kaget bukan main dan aku saat itu menganggukkan kepala mengiyakannya.


“Terus...terus... Kamu setuju tidak?” tanyanya lagi.


“Awalnya aku sih ragu karena ini kan...kamu tahu sendiri lah, aku seperti apa orangnya...” kataku dan berhenti sesaat.


“Iya...iya... terus...!?” kata Nara makin kepo.


“Kemudian aku tanya beberapa hal dulu untuk memastikannya dan setelah mendengar jawabannya, akhirnya aku putuskan buat coba menerima dia jadi calonku.” Jelasku dengan wajah yang memerah karena malu banget.

__ADS_1


“Cie..cie...cuit...cuit...” goda Nara.


“Terus, kamu sekarang kenapa? Alasan kamu marah apa?” lanjut tanya Nara.


“Sebenarnya ini masalah mid semester. Dia bilang kalau aku bisa dapat nilai rata-rata 80 ke atas, aku bisa minta apa saja ke dia. Tapi sebaliknya, kalau nilai rata-rataku di bawah 80, dia bakalan buka rahasia hubungan kami ke semuanya. Ini kan sama saja aku dipaksa serius belajar. Yang jadi masalah buat aku itu bukan nilainya atau belajarnya, yang bermasalah itu caranya. Kamu kan tahu sendiri aku tidak suka dipaksa.” Jawabku kesal.


Nara yang dari tadi mendengarkan hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil memegang dagunya.


“Jadi kamu ceritanya lagi kasih dia pelajaran sekaligus mengambek ya?” tanya Nara menebak tujuanku begini.


“Tidak tahu. Tapi yang jelas aku bad mood sekarang.” Kataku dengan menunjukkan wajah super BT.


“Sudah-sudah, apa pun yang kamu lakukan itu terserah. Tapi aku cuma mau mengingatkan, kalau dia cuma punya tujuan baik. Hanya saja caranya salah. Kenapa tidak kamu coba bilang ke dia. Daripada kamu uring-uringan tidak jelas kaya begini.” Ucap Nara mengingatkan.


“Tidak, Nar. Belum waktunya.” Jawabku memberi keputusan mutlak.


“Haizz... Ni anak satu. Keras kepala banget sih.” Gumam nara lirih.


.


.


.


.


..


Lanjut👇

__ADS_1


__ADS_2