
"ayo lakukan aku ingin segera pulang"ucap Ronald menajamkan pandangannya
"tenang Lisa tidak apa dia suami mu ingat"ucap Lisa dalam hati
ketika lida hendak membuka bagian celana jordan.nampak senyuman kemenangan diwajah Ronald
"permisi,ohhh maaf tuan nyonya"ucap Deo membuka pintu dan menunduk
"kenapa"ucap Ronald sedikit kesal
"saya ingin memberitahukan semuanya sudah siap dan nyonya dipanggil dokter untuk keruangannya untuk menjelaskan beberapa obat dan mengenai trapi tuan Ronald"ucap Deo menjelaskan
"ohhh baiklah,tuan saya permisi untuk menemui dokter diruanganya"ucap Lisa melihat kearah Ronald
"sekertaris Deo saya minta tolong bantu kak Ronald sebentar"ucap Lisa menitipkan pada Deo dan pergi
"siall kenapa dia menitipkan aku dengan laki laki bujang tua ini bagaimana jika deo seleranya bukan perempuan tapi laki laki habislah aku"ucap Ronald dalam hati
"maaf tuan biar saya bantu"ucap Deo sambil memeras kain pengelap
"hetsss Jagan sentuh itu sudah sana keluar saya bisa sendiri"ucap Ronald meridik
"sudah sana kenapa masih bengong kamu disiniucap Ronald sedikit kesal
__ADS_1
kemudian sekertaris Deo keluar dan mengurungkan niatnya
"masih untung ada yang bantuin lagi sakit makin tambah reseknya"ucap sekertaris d i menggelengkan kepalanya
Ronald nampak mengelap tubuhnya sendiri . sedangkan Lisa sekarang sudah diruangan dokter dan mengkonsultasikan mengenai trapi ronald
"jadi ini obatnya semua diminum tiga kali sehari setelah makan.selanjutnya masalah trapi bisa dilakukan satu Minggu sekali dan harus rutin agar hasilnya lebih cepat terlihat dan maksimal"ucap dokter menjelaskan
"baik dong"ucap Lisa mengangguk
"untuk jadwal trapi akan saya kirim jadwal melalui sekertaris Deo agar lebih mudah"ucap dokter
"baik dok kalau begitu saya permisi dulu"ucap Lisa tersenyum
"kamu harus sabar ya , namanya orang sakit wajar kalau agak sedikit marah atau kesal mungkin bisa jadi efek dari tragedi yang dialami"ucap dokter merasa kasian melihat Lisa yang sempat dimaki suaminya
ketika Lisa kembali menuju ruangan Ronald nampak Ronald sudah siap dengan segalanya.namun sedikit ada keributan antara Ronald dan sekretarisnya
"saya bilang saya tidak butuh kursi roda"ucap Ronald penuh amarah
"tapi tuan anda untuk saat ini harus menggunakan kursi roda untuk membantu anda"ucap sekertaris Deo sedikit memaksa untuk kebaikan tuanya
"kamu harus tau saya ini lumpuh sementara bukan cacat"ucap Ronald sedikit berteriak
__ADS_1
"sekertaris Deo bisa kemobil dulu ya untuk kursi rodanya taruh di mobil aja"ucap Lisa nampak menengahi
"baik nyonya saya permisi"ucap sekertaris Deo pergi meninggalkan ruangan dan hanya tersisa Ronald dan Lisa
"kenapa kamu mau menyuruh ku menggunakan kursi roda lagi seperti orang cacat kaki ku ini hanya lumpuh sementara mengerti"ucap Ronald lagi lagi Lisa terkena amukannya
"iya tuan ini hanya sementara anda akan kembali seperti semula lagi.kalau begitu bisa saya bantu"ucap Lisa dengan begitu sabarnya
"tidak usah saya bisa sendiri"ucap Ronald memaksakan berjalan menggunakan kakinya yang lumpuh itu.namun Lisa tidak bisa mencegahnya karena kemauan atau keinginan Ronald mutlak tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun
"awwwwwww,hati hati tuan"ucap Lisa dengan sigap menangkap Ronald
kedua mata itu nampak menatap nampak merasakan sesuatu yang aneh diantara mereka berdua namun rasa itu membuat mereka saling nyaman.
"awwwww"ucap Ronald sedikit menjauh dari Lisa namun masih dibantu Lisa
"maaf tuan apa ada yang sakit atau saya panggilkan dokter"ucap Lisa panik
"kenapa wanita ini sepeduli ini dan mengkhawatirkan aku"ucap Ronald dalam hati sambil memandangi wajah tulus Lisa
"tuan apa ada yang sakit"ucap Lisa melihat Ronald yang terdiam
"tidak bantu aku,aku ingin pulang sekarang tapi aku tidak ingin kursi roda"ucap roanld sedikit manja
__ADS_1
"baiklah kalau begy saya akan memapah anda menuju mobil,namun jika ada rasa sakit atau apapun saya mohon anda untuk gunakan kursi roda agar tidak merasakan itu"ucap Lisa begitu perhatian
Ronald lagi lagi terpanah dan hanya mengangguk sebagai tanda mengerti.kemudian Lisa membantu Ronald menuju mobil dengan memapahnya sedikit berat namun Lisa melakukannya dengan sabar