
sekarang matahari sinarnya sudah masuk kedalam kamar yang Lisa tak kenali kini matanya sidah beratanya tanya keberadaannya
"aku dimana,ini bukan rumah tuan Ronald bukan juga tempat hotel kemarin"ucap Lisa panik
Lisa segera keluar dari kamar itu dan melihat beberapa pelayan
"selamat pagi nyonya ada yang bisa saya bantu"ucap ketua pelayan
"aku dimana aku ingin pulang"ucap Lisa takut
"Anda sedang berada dikediaman ruan Diki kenalkan saya Maryam kepala pelayan dirumah ini apa ada yang bisa saya bantu"ucap Maryam menjelaskan dengan lembut
"saya mau pulang ini bukan tempat saya"ucap Lisa semakin bingung
"maaf nyonya saya tidak bisa mengabulkannya anda harus menunggu tuan Diki tiba."ucap Maryam
Lisa begitu takut dan heran apa sebenarnya yang terjadi tiba tiba ada anak kecil yang menghampirinya
"hallo Tante cantik apa kamu sudah bangun"ucap Sarah menghampiri lisa.namun Lisa masih diam heran
"bagaimana jika kau temani aku sarapan aku sangat kesepian orang tua ku tidak ada om Diki bahkan sudah berangkat berkerja aku hanya melihat pelayan saja disini"ucap saraj sedih
"kasian anak ini nasibnya sama seperti ku tanpa orang tua dan terkurung di sangkar yang sama"ucap Lisa dalam hati
"ayo "ucap Lisa mengangguk
"bik Maryam aku dan kakak cantik ingin makan"ucap Sarah menggandeng tangan Lisa menuju meja makan
kemudian Lisa nampak menikmati semua hidangan namun ia begitu khawatir dengan keadaan suaminya itu
__ADS_1
"kakak cantik kenapa melamun"ucap Sarah melohat kearah Lisa
"tidak tidak apa apa "ucap Lisa menggeleng
"apa kamu mau menjadi sahabat ku"ucap Sarah menunjukan janji kelingkingnya
"tentu saja"ucap Lisa sembari membuat janji kepada sarah
"karena kita sudah menjadi sahabat sebaik-baiknya kita saling terbuka .jadi sekarang apa yang kamu pikirkan"ucap Sarah tersenyum
"aku sebenarnya tidak tau kenapa aku bisa disini aku sudah memeluk suami aku takut mereka cemas mengkhawatirkan aku"ucap Lisa menunduk
"kenapa tidak coba menelponnya akan ku pinjamkan telpon genggam milik pelayan"ucap Sarah tersenyum
"tapi masalahnya aku tidak hafal dengan nomor suamiku"ucap Lisa terbata
"hmmmmm kalau begitu apa ada nomor telepon yang kamu hafal"ucap Sarah
"kakak cantik apa kamu sudah mengingat"ucap Sarah memecahkan lamunan lisa.dan Lisa hanya menggeleng menutupi semuanya
"baiklah kalau begitu nanti setelah om Diki pulang aku akan bicara padanya untuk mengantarkan kakak cantik pulang"ucap Sarah sambil mengunyah
"terimakasih Sarah"ucap Lisa mengukir senyum
dilain tempat nampak ronald sudah mempersiapkan untuk bertemu diki.ronald nampak menunggu di ruangannya
tok...tok...tok...
"permisi tuan Ronald"ucap Diki membuka ruang kerja Ronald
__ADS_1
"kau....,kemana istri ku kembalikan"ucap Ronald emosi dan menarik kerah baju Diki
"eetsss santai,bisakah bermain dengan baik"ucap Diki mengangkat alisnya
"katakan apa yang kau inginkan dan cepat lepaskan Lisa"ucap Ronald melihat sinis Diki
"yang ku inginkan... sayangnya aku tidak menginginkan apapun etsss aku hanya menginginkan kau hancur"ucap Diki tersenyum sinis
"kau ini"ucap Ronald kembali ingin menyerang Diki.ia memukul Diki hingga terjadi pertarungan dikantor tersebut.
"pak sudah pak"ucap sekretaris Deo melerai
kemudian Ronald melepaskan pukulannya dan melihat sekitar banyak karyawan yang melihat perkelahian itu
"kalian semua kembali berkerja sekarang"ucap sekertaris Deo
"cihhhhh,apa kau kurang puas lakukan sepuasnya tapi ingat istri kecilmu bersama ku aku akan melakukan hal yang sama bahkan lebih seperti engaku lakukan sekarang"ucap Diki mengusap bibirnya yang berdarah Diki nampak tersungkur
"kau ini cepat katakan Lisa dimana"ucap Ronald kembali ingin memukul Diki.namun untungnya di lerai kembali oleh sekertaris Deo.
"tuan tenanglah ini dikantor banyak karyawan"ucap sekertaris Deo berbisik
tak lama itu beberapa bodyguard datang menuju ruangan Ronald
"tolong kalian bawa orang ini keluar"ucap sekertaris Deo
"baik pak"ucap para bodyguard
"ayo cepat buat rusuh saja"ucap ketua bodyguard
__ADS_1
"aku bisa jalan sendiri tidak perlu diusur aku akan keluar.kau ingat Ronald hari kesengsaraan mu baru saja dimulai aku harap kau menikmati setiap prosesnya hingga menyusul melati dialam barzah"ucap diki tersenyum licik sambil keluar dari ruangan Ronald