
🍂🍂🍂
KLAK
" Lex, aku sudah membawakan tuan Daniel " ujar Leticia
" Disini tidak ada yang mulia?" Daniel melihat ke kamar yang tidak ada siapapun disana.
" Kemana dia? " gumam Leticia bingung
Tak lama kemudian, Anne datang dan memberitahukan pada Leticia dan Daniel kalau Alexander sedang berkelahi dengan Raja Gustaf. Sesegera mungkin Leticia dan Daniel pergi ke aula utama kerajaan, tempat di mana kedua pria itu berkelahi.
Dalam 3 menit mereka sampai di aula kerajaan, dan benar saja. Kedua pria yang sedang berkelahi itu menjadi tontonan para pengawal yang ada disana.
" Apa apaan mereka?" Leticia terlihat kesal melihat pemandangan di depannya itu.
Eh, tapi mereka tidak menggunakan sihir.
" Mereka terlihat seperti anak TK " gerutu Leticia gemas
" Yang mulia ! bagaimana ini ?"
" Biar aku yang menyelesaikan nya, aku tidak percaya ini !" seru Leticia geram
Di tengah tengah adegan saling pukul dan saling tendang itu, Leticia muncul tiba-tiba di tengah tengah mereka. Alexander yang akan memukul Gustaf, hampir saja memukul Leticia.
" Kenapa kau disini?" tanya Alexander
" Kalian ini, mau sampai kalian menjadi lelucon orang-orang itu? kalian sungguh kekanak-kanakan " Leticia menatap tajam kedua pria yang ada disampingnya itu.
" Ini.. ini " Gustaf terlihat bingung
" Kau seharusnya tidak menghalangi nya, minggir !" ujar Alexander tegas
" Jadi kau akan begini saja Alexander Victor Wayne?" Leticia menatap marah suaminya
Gawat, yang mulia Ratu marah. Seram juga. batin Daniel yang terpana melihat Leticia yang marah
Setelah diceramahi habis-habisan oleh Leticia, akhirnya Raja baru dan mantan raja Fostiarus itu berhenti berkelahi. Mereka terlihat seperti anak kecil saat di marahi oleh Leticia.
" Benar-benar tidak masuk akal bukan? kalian bertengkar karena memperebutkan seorang wanita. Kalau untuk suamiku itu wajar saja untuk mempertahankan istrinya, tapi yang mulia Raja Gustaf. Kenapa kau malah ikut ikutan? aku ini adalah istri dari keponakan mu " wanita itu menyilangkan tangannya dan menatap tajam Raja Gustaf
" Maaf, tapi aku tidak peduli dengan itu semua. Terlepas dari status mu sebagai istrinya atau tidak, cinta tetaplah cinta. Kau juga sudah janji untuk memberikan kesempatan padaku " kata Gustaf
" tidak ada kesempatan ya ! hukum baru atau apalah itu, kau harus membatalkan nya, dasar brengsek !"
" Atas dasar apa kau menyuruhku membatalkan nya? aku Raja nya " kata Gustaf sambil tersenyum percaya diri
Astaga dragon, aku tak percaya ini. Kedua orang ini begitu tergila-gila denganku sampai sampai mereka berubah menjadi orang yang konyol. Dan aku yang harus menyelesaikan masalah hati ini.
" Kalian ! sudah cukup, hentikan !" teriak Leticia pusing mendengar perdebatan kedua pria di depannya itu.
" Tuh kan, aku suruh kau diam !"seru Alexander
" kau yang diam, kau yang paling berisik disini " Gustaf tersenyum sinis pada Alexander
" Cukup! tidak bisakah kalian berdamai saja?" tanya Leticia heran
Benar, jika aku bisa memperbaiki hubungan persaudaraan mereka. Mungkin negeri ini akan menjadi lebih baik, dan Gustaf juga akan menyerah dengan perasaan nya padaku. Kenapa aku tidak mencoba nya ya?
" Berdamai? aku dan dia ? " Alexander menunjuk Gustaf dan menatap pamannya itu dengan sinis
" Damai? tidak mungkin, kami ini dilahirkan untuk jadi musuh " kata Gustaf mustahil
" Jadi kalian tidak mau berdamai ya? bagus sekali, karena hukum yang baru sudah ditetapkan. Aku bisa menikah lagi kan?" Leticia tersenyum seperti memikirkan sesuatu
" Jadi kau memutuskan untuk menikah denganku?" tanya Gustaf senang
" Siapa yang bilang aku mau menikah dengan yang mulia. Haa...karena kalian begitu memusingkan dan selalu bertengkar, aku memilih tuan Daniel saja " kata Leticia santai
Gustaf dan Alexander terpana mendengar nya. Sontak mereka berdua langsung melihat Daniel dengan penuh kemarahan dan cemburu. Sementara itu Daniel terlihat ketakutan.
Kenapa aku merasa seperti ada pedang yang mengarah padaku? pedang itu ada dua !
" Oh, jadi begitu ya Daniel. Aku pikir kau setia kepada ku, ternyata diam-diam kau itu ya.." Alexander tersenyum sinis, matanya tajam menusuk Daniel yang gemetar ketakutan
" Kita harus apakan dia, keponakan ku?" Gustaf juga ikut-ikutan menatap Daniel dengan tajam.
Bertambah lah ketakutan Daniel, sementara Leticia diam-diam tersenyum melihatnya.
" Yang-yang mulia anda salah paham. Kalian salah paham pada saya " Daniel berusaha menjelaskan
__ADS_1
Kenapa yang mulia Ratu mengatakan itu? ya ampun. Aku bisa mati nih.
" Pfut.. Hahaha.. hahaha " Leticia tertawa sendiri ditengah tengah pria yang sedang marah dan sedang bingung itu. Seperti nya wanita itu menikmati keadaan itu.
" Sudah, sudahlah. Aku hanya bercanda sedikit, tapi kalian begitu serius. Nah sekarang aku juga serius, Raja Gustaf dan suamiku Alex, mau ada hukum itu atau tidak. Aku tidak akan mengkhianati suamiku, karena hatiku cuma ada satu. Dan itu sudah kuberikan pada suamiku " Leticia tegas
Mendengar penolakan itu, hati Gustaf sedikit terhenyak, dadanya seperti tertusuk sesuatu yang tajam. Apakah begini rasanya mencintai istri orang? apakah begini rasanya berharap? Namun, Gustaf masih mempunyai pegangan dan harapan, dalam 1 bulan itu ia akan memanfaatkan nya untuk meluluhkan hati gadis itu.
Setelah penjelasan panjang lebar dari Leticia. Alexander dan Leticia pun pergi meninggalkan Gustaf di aula kerajaan. Will yang sedari tadi melihat pemandangan itu, akhirnya angkat bicara dan menasehati Gustaf agar memilih wanita lain, karena wanita di dunia ini masih banyak.
" Saran yang bagus dan realistis, wanita memang masih banyak di dunia ini. Kau benar Will. Tapi, aku cuma ingin dia. Lalu aku harus bagaimana ?" Gustaf tersenyum pahit
" Yang mulia, saya tau cinta itu memang tidak mudah. Saya hanya bisa berdoa semoga saja harapan yang mulia terkabul. " kata Will sedih
" Ayolah, masa kau memberiku semangat dengan wajah muram begitu. " Gustaf tersenyum pahit.
Gustaf sudah tau bahwa ia mungkin memang akan kalah dari Alexander. Will juga berfikiran yang sama dengannya.
Berbanding terbalik dengan Gustaf yang sedih, Alexander terlihat senang. Bahkan saat Leticia menariknya masuk ke dalam kamar.
" Kenapa kau senyum senyum seperti itu?" tanya Leticia heran
" Tidak apa apa, hanya saja kata-kata mu tadi sangat bagus "
" Kau seperti nya senang " kata Leticia
Alexander memeluk tubuh istrinya, ia menciumi pipi Leticia beberapa kali. Keduanya tersenyum bahagia, diiringi dengan kata-kata cinta yang keluar dari mulut mereka.
Alexander berkata pada Leticia, kenapa dia bisa jatuh cinta sedalam ini kepada Leticia? kadang-kadang ia merasa malu dengan kalimat yang sering ia ucapkan dulu, "aku tidak suka wanita "
Tapi tidak ada yang tau masa depan, apalagi jatuh cinta adalah rahasia terdalam hati manusia. Siapa sangka Alexander akan jatuh cinta pada Leticia melebihi apapun di dunia ini. Begitu pula yang dirasakan oleh Leticia, wanita itu merasa beruntung dilahirkan kembali dan mendapatkan banyak kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan sebelum nya.
Di dalam pelukan hangat suaminya, Leticia merasa nyaman. Setiap sentuhan dari Alexander membuatnya hangat dan tenang. Padahal dulu ia sangat takut dengan Alexander yang sering ia sebut sebagai tiran psikopat. Dia tidak tau kalau musuh yang ia benci dan selalu menyiksanya itu akan menjadi suaminya dan cinta nya di masa depan.
Saat mereka sedang berduaan, Leticia menceritakan tentang kakak nya yang sudah memberi restu pada hubungan mereka. Alexander tak menyangka bahwa restu kakak ipar nya itu sudah dikantongi nya. Kebahagiaan mungkin sudah berada di depan mata mereka.
Melihat wajah Alexander yang terlihat resah, Leticia menanyakan apa yang terjadi padanya.
" Ada apa? apa kau tidak senang kakak ku sudah memberi restu? " tanya Leticia.
" Tentang itu, tentu saja aku sangat senang."
" Lalu ada apa dengan wajahmu? "
Leticia menjawab bahwa cincin nya selalu ia simpan di tempat yang aman agar tidak hilang. Alexander sudah tau itu hanya alasan Leticia untuk tidak mengatakan dimana letak cincin itu, sebenarnya Alexander sendiri sudah tau kalau cincinnya ada pada Gustaf.
Karena saat berkelahi dengan Gustaf, Alexander melihat Gustaf memakai kalung yang berbandul kan cincin pernikahan milik Leticia. Aku akan mengambil kembali tahtaku, dan cincin itu dari dirinya, itulah tekadnya di dalam hati.
Setelah berpelukan cukup lama, Leticia mengajak Alexander jalan-jalan ke taman bunga matahari. Jari Alexander tersemat dan menggenggam jari istrinya dengan erat, mereka berjalan di taman bunga itu. Diiringi senyuman di wajah mereka.
" Sekarang kau lebih sering tersenyum "
" Apa aku harus selalu marah gitu?" tanya Alexander dengan wajah datar nya
" Tidak bukan begitu. Aku pikir kau sudah terlihat seperti manusia pada umumnya " kedua tangan Leticia membelai kedua pipi Alexander, ia menatap kedua bola mata berwarna hitam milik Alexander.
" Jadi dulu aku bukan manusia?" Kedua tangan kokoh Alexander melingkar di pinggang Leticia dan meraih nya.
4 mata itu saling bertatapan, tatapan yang penuh cinta membara, kepercayaan, dan penuh rasa sayang.
" Dulu aku berfikir wajah dingin dan datar ini tidak akan tersenyum semanis dan setulus ini. Aku berfikir dan bertanya-tanya apakah pria di depanku ini adalah iblis? tapi siapa sangka aku bisa melihat senyuman di wajahmu, dan kau kelihatan semakin tampan "
Deg , wajah Alexander langsung merona, saat mendengar pujian dari Leticia. " Lucunya, wajahnya merona. hehe " Leticia tersenyum melihat wajah Alexander yang memerah karena kata-kata manis darinya.
" Kenapa kau bisa mengatakan hal hal manis seperti ini? apa kau sedang menggombal? apa kau juga mengatakan hal ini pada semua mantan mu?" tangan Alexander menyentuh bibir merah milik Leticia, mengangkat dagunya, hingga mereka bertatapan.
" Aku hanya mengatakan ini padamu saja, aku sungguh-sungguh."
" Jadi aku yang paling tampan? " tanya Alexander sambil tersenyum tipis
" Hem.. itu.. " Leticia terlihat berfikir
Melihat Leticia berfikir, Alexander terlihat kesal. Ia menduga dirinya bukanlah yang tertampan di mata Leticia. Sontak wanita itu mengecup pipi Alexander untuk meredakan sedikit amarahnya, seraya berbisik ditelinga suaminya " Kau yang tertampan suamiku "
Alexander tersenyum kecil, ia tak bisa menahan lagi pesona dari Leticia. Terlebih lagi dengan pujian-pujian manis dari mulut wanita itu membuat gairah nya memuncak. Tidak peduli kapan dan dimana tempatnya, kedua tangan Alexander meraih leher Leticia perlahan-lahan dan mencium ranum bibir merah istrinya itu.
Awalnya bibir Leticia menutup, namun setelah Alexander memberikan kode untuk membuka mulutnya dengan memberikan gigitan kecil. Leticia pun membuka bibir nya, dan mengikuti gerakan dari suaminya. Tak lupa tangannya melingkar di leher Alexander.
" Pantas saja kau bisa berkata manis begini, ternyata kau mengolesi madu di bibir mu. Atau.. memang bibirmu selalu semanis ini?" Alexander tersenyum manis
Dia sangat tampan, apalagi kalau tersenyum seperti itu.
__ADS_1
" A-Apa? "
Kini giliran Leticia yang dibuat merona oleh Alexander. Kata-kata sederhana yang seperti gombalan itu, membuat hati Leticia berdebar-debar.
GREP
" Meskipun banyak ujian dan cobaan menghampiri kita, aku harap kau meninggalkanku " Alexander memeluk Leticia dengan lembut dan penuh kehangatan.
" Aku kan sudah bilang aku tidak akan pergi darimu, sampai kau sendiri yang akan melepaskan ku. Kau jangan lupa itu. "
" Aku tidak akan melepaskan mu, walaupun sebenarnya aku takut suatu saat nanti kau akan berpaling pada lain hati. Apalagi saat keadaanku sedang seperti ini "
" Tidak akan, hanya kau yang memenuhi ruang hatiku. Tidak ada tempat untuk orang lain " Leticia tersenyum dan memberikan kecupan ringan di mata dan hidung Alexander dengan gerakan lembut.
" Kau akan bersamaku, walau aku tidak sekuat dulu dan tidak memiliki kekuasaan lagi ?" tanya Alexander
" Tentu saja, lihat kan? aku masih bersama mu saat ini. Suka duka kita akan lewati bersama, sudah sampai sini mana bisa berhenti. "
" Terimakasih. Aku semakin mencintai mu "
" Aku juga "
Dari kejauhan, Vivian melihat pemandangan romantis yang ada di depannya. Ia terlihat tidak suka melihat kebersamaan mereka.
" Padahal Alexander sudah tidak punya apa-apa, dan sudah ada Raja Gustaf diantara mereka..Tapi kenapa mereka masih tetap bersama? haa.. masa sih cinta mereka sekuat itu? jadi apa yang harus aku lakukan? aku harus membuat siapa yang meninggalkan siapa?"
🍂🍂🍂
.
.
Di tempat lain, Gustaf terlihat sedang berbicara dengan para pasukannya. Mereka terlihat serius, membicarakan tentang kehadiran iblis di salah satu desa, di kerajaan Fostiarus.
" Benar yang mulia, katanya iblis itu menghisap darah manusia untuk menyerap energinya "
" Apa itu semacam dracula? baru kali ini aku mendengar iblis semacam ini " gumam Gustaf
" Ya, yang mulia saya juga baru pertama kali mendengar nya. Bagaimana jika kita pastikan secara langsung keberadaan iblis itu, apakah benar ada nya atau hanya berita palsu belaka?" tanya Will menyarankan dengan sopan
" Jika ini hanya berita palsu, tidak mungkin kan ada laporan dari 2 desa sekaligus. " Gustaf terlihat sedang berfikir, siapa orang yang pernah berhadapan dengan iblis secara langsung, dan hanya 1 orang yang terpikirkan olehnya.
Kalau masalah ini tentang iblis, tiran itu pasti tau banyak. Aku harus bertanya padanya, meskipun aku tidak suka.
Malam itu Gustaf menemui Alexander. Mereka tidak ragu menunjukkan ketidaksukaan mereka, bahkan di depan Leticia. Hal itu membuat Leticia tidak senang dan tidak nyaman.
Kini mereka bertiga berada di dalam ruangan kerja Raja.
" Katakan, apa maksud mu memanggil ku?" tanya Alexander dengan nada ketus
" Ini tentang iblis " jawab Gustaf
" Iblis? " Leticia dan Alexander bersamaan
" Iya, ada 2 desa di kerajaan ini yang diserang oleh iblis. Aku bertanya padamu karena kau pasti lebih tau tentang iblis "
" Mustahil? iblis itu sudah lama mati, aku sudah mengalahkan nya 5 tahun yang lalu. " wajah Alexander tampak serius
" Ya aku pun berfikir begitu, tapi aku mendapat banyak laporan tentang iblis itu. Katanya mereka beregenerasi, dan bisa memperbanyak diri dengan menggigit darah manusia " Gustaf nampak cemas dan serius
" Apa itu semacam vampir?" tanya Leticia
" Vampir ? apa itu vampir?" tanya Gustaf dan Alexander bingung
Apa di dunia ini tidak ada istilah vampir?
" Dracula.. ya Dracula " jawab Leticia
" Ya semacam itu lah " kata Gustaf membenarkan
Setelah penjelasan Gustaf dan Alexander tentang iblis itu. Akhirnya Alexander dan Gustaf harus pergi mengecek secara langsung dua desa yang menjadi sarang iblis itu.
Meskipun Alexander bukan lagi Raja Fostiarus, tapi ia merasa memiliki tanggungjawab terhadap rakyat juga. Gustaf keheranan melihat Alexander yang sudah banyak berubah, padahal dulu Alexander bukan tipe orang yang akan memedulikan rakyatnya. Ia hanya fokus pada tahta dan menjadi orang nomor 1 di Fostiarus. Tapi, sekarang tiran itu sudah berubah total.
Gustaf semakin yakin bahwa alasan ia menyukai Leticia mungkin sama dengan alasan Alexander menyukai Leticia. Berawal dari tidak suka, kekaguman, lalu berubah menjadi cinta.
Mendengar Alexander dan Gustaf akan segera pergi, Leticia memberikan semangat kepada dua saudara itu.
...----***----...
Hai Readers ! maaf baru up nya siang, karena tadi pagi mati lampu dan ini baru nyala.
__ADS_1
Jangan lupa ya like nya 😘