
.
.
Marquez Randell dan ketiga bangsawan pendukung setianya itu kaget saat mendengar Raja mengatakan bahwa ia akan membatalkan pernikahan nya dengan Vivian. Marquez Randell dan ketiga bangsawan itu sudah jelas menolak nya dengan tegas.
" Yang mulia ! anda tidak bisa seperti ini, undangan sudah disebar ke seluruh negeri, bahkan ke negeri tetangga. Wajah kita sebagai rakyat Fostiarus akan ternodai dengan pembatalan pernikahan ini " terang Marquez Randell menjelaskan dengan hati-hati
" Mohon tarik kembali perintah anda yang mulia !" kata Duke Zillon salah satu pendukung Marquez Randell
" Mohon kebesaran hati anda yang mulia, jangan lakukan ini !" ujar Count Mcknight salah satu pendukung Marquez Randell juga
" Kalian berisik sekali, besok keputusan resmi nya akan keluar. Aku lelah, pergilah kalian sebelum aku memenggal leher kalian !" ujar Alexander penuh kemarahan, dan mata merah nya muncul lagi
" Ternyata yang mulia Raja sudah mengambil keputusan besar, jadi akhirnya dia memilih tuan putri. Di satu sisi aku merasa senang, tapi disisi lain aku merasakan bahaya. Apakah mereka memang bisa bersatu?" batin Daniel bertanya-tanya
" Kali ini tidak bisa dibiarkan, yang mulia Raja tidak bisa dibiarkan seenaknya lagi. Aku harus gigih !" batin Marquez Randell yakin
" Anda tidak bisa begini lagi yang mulia, kalau anda bertindak plin plan seperti ini. Yang mulia akan kehilangan pendukung dari pada menteri dan para bangsawan yang mendukung yang mulia, mereka akan berbalik menyerang yang mulia dan akan mulai mendukung pangeran Gustaf " terang Marquez Randell memberanikan dirinya
" Berani sekali Marquez Randell mengancam yang mulia raja, dia tidak takut mati ya " batin Duke Zillon heran
Raja tiran itu menghela napas dan tersenyum sinis lalu mengayunkan pedangnya ke arah Marquez Randell.
SRAT
Darah mengucur dari leher Marquez Randell, rupanya pedang yang di ayunkan Raja tiran itu mengenai lehernya. Ketiga bangsawan lainnya kaget dan menghormati Marquez Randell, dengan ketakutan dan badan yang gemetar. Kemarahan terlihat di mata Marquez Randell yang ia tujukan kepada Raja Fostiarus itu.
" Marquez Randell !!" ujar ketiga bangsawan itu panik
" Beruntung sekali hanya tergores, kalau aku mengayunkan pedangku lebih baik lagi pasti lehermu akan putus " kata Alexander sambil tersenyum puas, pedang yang dipegangnya terkena noda darah.
" Yang mulia ! bagaimana bisa anda melakukan ini??!" tanya Marquez Randell menahan kesalnya
" Dasar raja brengsek! sialan " batin Marquez Randell memaki Raja Alex
" Untuk memanjat ke tempat yang lebih tinggi, beraninya dia menentang keputusan ku !. " batin Alexander marah
" Marquez mari kita pergi dulu, saat ini yang mulia Raja sedang marah " bisik Duke Zillon pada Marquez Randell
" Benar, bisa bisa nyawa kita melayang. Kita bicara lagi nanti dan adakan rapat dewan istana " Bisik Count Mcknight menyarankan pada Marquez Randell
Marquez Randell sedikit berfikir, jujur di dalam hatinya ia juga ketakutan kepada Raja yang ada di depannya itu. Bahkan raja itu berani melukai lehernya, dan pedangnya hampir menebas kepalanya.
" Kami .. mohon undur diri yang mulia " kata Count Calypso sambil membopong Marquez Randell
" Tunggu ! " ujar Alexander marah
Marquez Randell dan ketiga bangsawan itu menghentikan langkah mereka. Sang Raja masih menatap mereka dengan tatapan penuh amarah.
" Ini peringatan untuk kalian yang berani mempertanyakan keputusan ku atau menantang ku ! lain kali bukan hanya leher tergores saja, tapi kepala kalian yang akan putus dan ku gantung di alun alun kota! aku serius " kata Alexander dengan wajah dinginnya dan tak menunjukkan keramahan sedikit pun, suaranya terdengar menggelegar dan menusuk.
" Hiiy yang mulia menunjukkan ekspresi itu lagi, sungguh menyeramkan " batin Daniel ketakutan
Keempat bangsawan itu ketakutan dan memutuskan untuk angkat kaki dari kerajaan itu, karena melihat kemarahan sang Raja pada mereka.
KLANG
Alexander menjatuhkan pedangnya ke lantai dengan kesal.
" cih ! dasar para bangsawan sialan " gumam Alexander kesal
" Yang mulia, apa anda benar-benar akan membatalkan pernikahan nya?" tanya Daniel
" Kau sudah dengar kan tadi? apa kau tuli?" tanya Raja itu sinis
" Yang mulia Raja bermulut pedas seperti biasanya " batin Daniel sebal
" Saya hanya tidak yakin, apa itu benar-benar keputusan mutlak , yang mulia " kata Daniel ragu
" Daniel kau benar, aku tidak bisa melepaskan nya. Aku tidak bisa hidup tanpa dirinya, ternyata kehadiran nya begitu besar bagiku. Ini gila, bukan?" Alexander tersenyum tipis
" Jadi, sekarang yang mulia sadar apa kesalahan yang mulia? dan apa yang anda rasakan?" tanya Daniel sambil tersenyum
" Iya, ini cinta. Benar kan Daniel?" tanya Alexander sambil tersenyum hangat
"Itu benar Yang mulia.. akhirnya anda menyadari nya juga. Saya turut bahagia.." kata Daniel senang
" Aku yang jatuh cinta, kenapa kau yang bahagia? dasar jomblo menyedihkan " kata Alexander mengejek sambil melangkah pergi
" Siapa yang jomblo? bukankah yang mulia sendiri juga jomblo !" gumam Daniel sebal
" DANIEL ! kau bilang apa?!" Alexander melihat asisten nya itu dengan sinis.
__ADS_1
" Ti..tidak yang mulia..ampuni aku " Daniel ketakutan
" Padahal jaraknya begitu jauh, tapi pendengaran yang mulia sangat tajam seperti singa memburu mangsanya. Seramnya.. " batin Daniel heran
" Bersyukurlah suasana hatiku sedang baik, kalau tidak kau sudah habis, DANIEL !" kata Alexander sambil tersenyum
" Yang mulia tidak akan membunuh saya, yang mulia kan membutuhkan saya " kaya Daniel percaya diri
" Kau terlalu percaya diri ya " kata Alexander ketus
" Tapi saya benar kan ?" tanya Daniel sambil tersenyum
" Siapkan makan malam, aku lapar !" ujar Alexander
" Baik yang mulia, saya akan segera pergi ke dapur " kata Daniel patuh
***
Keesokan harinya, di istana Ilios.
Pagi itu Leticia dan Carol menyapa semua orang yang ada di dapur, gadis itu berencana memenangkan hati semua orang disana dengan memasak sarapan pagi untuk semuanya.
" Aku baru pertama kali memakan makanan aneh ini " kata salah satu pelayan disana
" Iya, tapi ini enak loh " kata pelayan yang lainnya memuji
" Maaf tapi itu bukan makanan aneh. Namanya Omelet " kata Leticia sambil tersenyum cerah
" Nama yang unik ya "
Melihat respon bagus dari para pelayan di istana Ilios, Leticia semakin percaya diri bahwa mereka akan menerima nya dengan baik.
" Bagus, aura mereka berubah yang tadinya hitam kini menjadi abu abu, aku harus membuat aura mereka berubah menjadi kuning " batin Leticia
" Yang mulia seperti nya para pelayan di dapur sudah mulai menerima kita, walaupun terlihat ada beberapa dari mereka yang masih kelihatan cuek " kata Carol
" Iya ini awal yang bagus, Carol. Berapa kali aku bilang padamu, kau tidak boleh memanggilku yang mulia lagi. Panggil saja aku nona atau Leticia juga boleh " kata Leticia
" Maafkan saya, saya belum terbiasa. " kata Carol
" Kalau begitu kau harus mulai terbiasa sekarang, karena nanti aku akan marah kalau mendengar kau memanggil ku yang mulia atau tuan putri lagi " kata Leticia tegas
" Baiklah nona hehe " kata Carol sambil tersenyum
Setelah memasak, Leticia bersiap-siap untuk berkencan dengan Darren. Namun, ia malah melihat Darren sedang bergandengan dengan wanita lain.
" Nona jangan salah paham, siapa tau itu saudara pangeran Darren " kata Carol berusaha menjelaskan
" Saudara ya?" batin Leticia
Wanita yang tidak dikenal itu terus menggandeng tangan Darren dengan genit. Beberapa pengawal melihatnya dan mengira bahwa Darren memiliki hubungan dengan wanita cantik yang sedang menggandeng tangannya itu.
" Hentikan ini, nona Giselle ! perhatikan kelakuan anda, ini di depan umum !" ujar Darren kesal dan berusaha menyingkirkan tangan Giselle dari tangannya.
" Bagaimana kalau Leticia melihat ini? dia pasti salah paham " batin Darren gelisah
Giselle dengan sengaja semakin menempel pada pria itu, dan membuat pria itu semakin jijik padanya. Giselle adalah salah satu nona bangsawan yang pernah menjalin hubungan dengan Darren, atau bisa disebut juga sebagai mantan pacar.
" Sudah lama tidak bertemu ya yang mulia, aku sangat merindukanmu " kata Giselle dengan nada yang manja
Leticia dan Carol yang sedang berjalan pada akhirnya berpapasan dengan Darren dan Giselle. Mereka berdua langsung memberi hormat pada Darren dengan sopan dan sikap yang formal.
" Tisha? bagaimana ini?" batin Darren panik
" Apakah dia memang orang seperti ini? membiarkan wanita mana saja menggandeng tangannya seperti itu? lebih baik aku tidak bicara apa apa tentang kencan itu, siapa tau wanita ini adalah kekasihnya. " batin Leticia berfikir
" Siapa dia? apa pelayan? tidak mungkin pelayan secantik ini. Dia menganggu pemandangan saja, dan kenapa pangeran Darren menatapnya begitu?" batin Giselle tidak senang dan melihat Leticia dengan sinis
" Aura wanita ini berwarna abu muda, dan dia menatap ku dengan sinis. Bisa ku tebak kalau dia tidak suka padaku. Sebaiknya aku menghindar dari sini " batin Leticia
Leticia dan Carol meneruskan perjalanan mereka untuk menemui Derrick, padahal tadinya mereka ingin menemui Darren. Giselle terlihat kesal melihat Leticia dan Carol yang pergi begitu saja. Sementara Darren terlihat merasa bersalah dan takut wanita yang ia cintai itu akan salah paham padanya karena melihat ia bersama wanita lain.
" Tunggu ! " ujar Giselle pada Leticia dan Carol.
Giselle tersenyum sinis dan menjatuhkan sapu tangannya dengan sengaja, lalu menginjaknya.
" Maaf, bisa kau ambilkan sapu tanganku?" tanya Giselle sambil tersenyum ramah
" Baik " jawab Carol
" Hey hey, bukan kau ! tapi perempuan berambut perak itu " kata Giselle tegas
" sudah kuduga akan ada drama lagi, kenapa sih aku selalu terjebak dalam situasi ini? jadi cantik juga ternyata membawa masalah juga ya " batin Leticia percaya diri
__ADS_1
" Baik akan saya ambilkan, nona " kata Leticia sambil membungkuk di depan Giselle dan hendak mengambil sapu tangan itu.
GREP
" Yang mulia !" teriak Giselle kaget melihat Darren memegang tangan Leticia dan menatap wanita itu dengan lembut.
" Yang mulia.. " gumam Leticia kaget
" Beraninya kau seorang pelayan memegang tangan yang mulia pangeran !" kata Giselle marah sambil mendorong Leticia hingga gadis itu jatuh
BRUK
" Nona ! " kata Carol sambil membantu Leticia berdiri.
" Kau buta ya? jelas-jelas pangeran Darren yang memegang tangan nona. " batin Carol kesal
" Tisha, kau tidak apa apa? apa kau terluka?" tanya Darren cemas
" Aku tidak apa apa " jawab Leticia
" beraninya kau yang hanya seorang pelayan bicara tidak formal pada yang mulia pangeran !" teriak Giselle marah
" Cukup ! nona Giselle sebaiknya kau pergi dari sini, aku tidak ingin melihat mu. " kata Darren mengusir
" Kenapa.. kenapa aku yang dimarahi karena pelayan ini?" tanya Giselle heran
" Dia bukan seorang pelayan ! dia adalah keka.. teman dekat ku. Beraninya kau menghina nya di depanku, nona Giselle !" kata Darren
" Kenapa kau membela teman mu daripada kekasihmu sendiri? kau sangat jahat yang mulia.. " kata Giselle dengan wajah memelas
" Ya ampun, ini adegan yang sering ku lihat di drama drama. Perempuan yang pura pura polos, si cantik yang munafik. " batin Leticia
" Kekasih? kita sudah putus, jangan bicara sembarangan !" seru Darren
" Kalau bukan karena ayah nya adalah menteri pertahanan istana, mungkin aku sudah mengusir nya dari tadi. Tidak ku sangka, dia akan mengikuti ku lagi setelah 1 bulan dia menghilang " batin Darren
Karena tidak ingin terlibat masalah, Leticia dan Carol pergi begitu saja. Hal itu membuat Darren semakin merasa bersalah, dan ia kesal pada Giselle yang selalu mengikuti nya. Pada akhirnya kencan yang sudah direncanakan oleh Darren dan Leticia pun gagal total, karena Darren harus menemani putri menteri pertahanan itu atas perintah Raja.
***
Tak terasa waktu berjalan sangat cepat, hari sudah malam. Leticia menyiapkan makan malam untuk semua anggota kerajaan di istana, dan mereka sangat suka dengan hidangan yang dibuat oleh gadis itu.
" kau benar-benar pandai membuat hidangan yang enak, nona Leticia " kata Ratu Mariana memuji
" saya hanya melakukan tugas saya, Baginda ratu " kata Leticia sopan
Wanita itu melihat aura ratu yang mulai membaik padanya, namun ia heran melihat aura Raja yang berwarna hitam. Apakah ada seseorang yang tidak ia sukai di ruang makan itu? atau ia sedang kesal akan sesuatu? Dan Leticia pun jadi berfikiran negatif, saat Raja Cedric membicarakan tentang pertunangan Darren. Leticia dan Carol dibiarkan berada disana sampai mereka semua selesai makan, pada akhirnya ia mendengar kan pembicaraan keluarga kerajaan Ilios itu.
" Oh ya yang mulia Ratu, bukankah ini saat yang tepat untuk membicarakan hal itu dengan pangeran Darren ?" tanya Raja Cedric sambil melirik sinis ke arah Leticia
" Kenapa aku merasa Raja menatapku dengan tatapan yang tidak biasa? apa aku melakukan kesalahan? ah .. tidak, ini pasti salah paham. Yang mulia Raja kan adalah orang yang ramah " batin Leticia berfikir
" Seperti nya ini bukan waktu yang tepat yang mulia " kata Ratu Mariana sambil tersenyum
" yang mulia Raja pasti sengaja membicarakan ini agar gadis itu mendengar nya " batin Ratu Mariana
" Apa yang ingin yang mulia bicarakan dengan ku?" tanya Darren tak mengerti
" Ini mengenai pertunangan mu dengan putri menteri pertahanan Grand Duke Varass " jawab Raja Cedric tegas
" Kakak ! aku dan dia tidak mungkin !" kata Darren tegas
" Sebaiknya aku tidak mendengar hal pribadi seperti ini " batin Leticia
Wanita itu melangkah pergi, karena tak mau mendengar obrolan keluarga itu. Namun, sang Raja menghentikan nya dan mengatakan bahwa ia harus mendengar nya juga. Kini Leticia peka dan mengerti apa maksud raja.
" Darren jangan membantah ku ! saat ini aku sedang berbicara dengan mu sebagai Raja yang tidak bisa kau bantah perintahnya !" kata Raja Cedric marah
" Yang mulia tidak bisa memaksa ku ! bukankah sebelumnya yang mulia Raja mendukung ku, bersama siapapun diriku, yang penting aku bahagia. Bukankah begitu?!" kata Darren
Leticia sedikit kaget karena ini pertama kalinya ia melihat Raja Cedric yang lembut bertengkar dengan Darren.
" Sudah hentikan, kenapa kalian malah bertengkar?" tanya Ratu Mariana melerai keduanya
" nona Leticia, kau sudah dengar kan? pangeran Darren harus bertunangan dengan nona Giselle, tolong kau bantu bujuk dia. Kau kan dekat dengan nya " kata Raja Cedric menatap Leticia dengan sinis
" KAKAK !!"
" Maafkan kakak, Darren. Kakak tidak bisa membiarkan mu bersama wanita ini, karena dia tidak pantas untukmu. " batin Raja Cedric
" ternyata aura hitam itu ditujukan padaku ya?"
...---***---...
__ADS_1