
Alexander jatuh terduduk setelah menerima surat itu, ia bertanya pada Daniel siapa yang sudah mengirimkan surat itu padanya. Surat itu berisi tentang informasi yang mengatakan bahwa ibu kandung Alexander tidak dibunuh oleh Gothel.
Rasa bersalah menyelimuti hati Raja tiran itu, bagaimana ia akan menebus dosanya pada nenek tua renta yang sudah ia bunuh itu? baru kali ini ia merasakan perasaan bersalah setelah membunuh seseorang.
Hari itu Raja pergi keluar istana, seperti biasa ia tidak mempedulikan para nona bangsawan yang akan menjadi Ratu nya. Hal itu membuat para bangsawan dan menterinya geram pada Raja itu dan mendesaknya untuk segera memilih salah satu putri bangsawan untuk ia nikahi. Mereka bahkan memberikan tenggat waktu agar Raja segera menikah, Raja Alexander merasa kesal karena di desak oleh mereka, namun jika ia ingin mempertahankan posisinya maka ia harus menikahi salah satu nona bangsawan.
" Tidak bisa kah mereka membiarkan ku istirahat satu hari saja? aku sibuk mengurusi pemberontakan pamanku, dan mereka sibuk mendesak ku menikah " gumam Alexander pusing
" Agar mereka tidak bicara lagi, maka pilihannya ya yang mulia harus segera menikah. Tapi jika yang mulia menikah dengan salah satu nona bangsawan itu, bagaimana dengan tuan putri?" tanya Daniel bingung
" Aku belum memikirkan sampai sejauh itu untuk menikahinya, kami bahkan bukan kekasih " jawab Alexander
" Yang mulia, tolong jangan jadi plin plan. Yang mulia mencintai nya dan tuan putri juga begitu. Kenapa yang mulia bertele-tele seperti ini? kalau yang mulia kehilangannya nanti, yang mulia akan menyesalinya " kata Daniel menasehati
" Aku tidak meminta komentar mu untuk urusan asmaraku, tidakkah kau terlalu banyak ikut campur?!!" teriak Alexander marah
" Baiklah yang mulia saya hanya mengingatkan saja " kata Daniel patuh
" Apa yang sedang dia lakukan?" tanya Alexander
" Tuan putri sedang menyiram tanaman bersama Carol " jawab Daniel
****
Mood wanita itu tampaknya sedang jelek, ia menyiram tanaman tidak dengan ceria seperti biasanya. Carol merasakan bahwa tuan putri nya itu sedang bersedih akan sesuatu.
" Ada apa tuan putri? 2 hari ini perasaan anda seperti nya kurang baik. Apa terjadi sesuatu ?" tanya Carol
" Tidak apa apa. Carol, pernahkah terpikir olehmu untuk kita pergi dari sini?" tanya Leticia
" Kenapa tuan putri tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Carol kaget
" Kenapa memangnya? "
" Saya pikir tuan putri tidak pernah bertanya seperti itu karena tuan putri betah berada disini. Jadi saya sedikit kaget saat tuan putri bilang kalau anda ingin pergi " jawab Carol
" Betah? aku disini agar menahan Raja psikopat tiran itu agar tidak menyerang kerajaan Ilios. Dan juga karena...
" Karena aku memiliki perasaan pada nya " kata Leticia dalam hatinya
" Itu pasti karena yang mulia putri sudah jatuh cinta pada yang mulia Raja. " batin Carol menebak
" Jadi, tuan putri apa kita akan kembali? tapi kemana kita kembali? bukankah ia kerajaan Brilla sudah hancur " tanya Carol bingung
" Kita akan kembali ke kerajaan Ilios, bukankah kakakku ada disana. "
" Tapi bagaimana kalau yang mulia Raja tidak mengizinkan nya?" tanya Carol
" aku akan mengaturnya, pokonya persiapkan saja keberangkatan kita nanti " kata Leticia tegas
" Baiklah tuan putri " kata Carol
__ADS_1
" Lakukan secara sembunyi-sembunyi " kata Leticia mengingat kan
" Tidak ada gunanya lagi aku tinggal disini, hanya membuat sakit hati saja. Aku seperti digantung disini.. " batin Leticia sedih
" kalau caramu begitu, yang mulia tidak akan membiarkanmu pergi dan dia akan membawamu kembali sama seperti sebelumnya " kata Vivian yang tiba-tiba muncul bersama Gloria dan Liliana.
" Salam nona " kata Carol dan Leticia membungkuk sopan
" Apa nona nona ada cara agar saya bisa keluar dari istana ini tanpa halangan?" tanya Leticia serius
" Seperti nya kau benar-benar serius ingin pergi dari sini ?" tanya Liliana
" Melihat kesungguhan mu itu, tentu kita akan membantu " jawab Gloria sambil tersenyum sinis
" Apa benar kalian akan membantu saya? tolong jangan rencanakan hal lain atau yang buruk pada saya " kata Leticia mengingatkan
" Tenang saja, kami tulus mau membantu. Lagipula kami juga diuntungkan disini, kalau kau pergi saingan berat kami akan hilang. " kata Vivian
" Dengan begitu yang mulia Raja akan segera memilih salah satu dari kami sebagai istrinya atau bahkan memilih kami bertiga " kata Gloria
" Itu masuk akal juga, apa saya tidak akan menyesal bekerja sama dengan para nona ?" tanya Leticia tajam
" Seperti nya mereka benar-benar mau membantu. Banyak keuntungan bagi mereka kalau aku tidak ada disini lagi " batin Leticia
" Kau tidak akan menyesal " kata Liliana sambil menyeringai
" Kalau begitu, saya minta bantuannya dari para nona " kata Leticia sambil tersenyum
Ketiga nona bangsawan itu seperti mempunyai ide cemerlang di kepalanya, untuk membuat Leticia bisa terlepas dari Alexander. Rupanya ide itu adalah membuat para bangsawan menekan Alexander agar menghukum mati Leticia, karena ia adalah anak dari pembunuh keluarga Alexander.
" bukankah kalian bilang akan membantu saya? jadi ini namanya membantu?" tanya Leticia
" Kau tidak mengerti ya? ini memang rencana yang ekstrim, tapi kami jamin yang mulia Raja akan melepaskan mu " kata Liliana
" Melepaskan ku bagaimana? bisa bisa saya dihukum mati!" kata Leticia marah
" Kami sengaja menekan yang mulia raja agar dia tidak punya pilihan lain selain mengusir mu keluar dari istana ini demi keselamatan mu." kata Vivian
" Apa kalian yakin ini akan berhasil?" tanya Leticia
" kami yakin 98 persen " jawab Gloria
***
Rupanya rencana para nona bangsawan itu mempengaruhi Alexander dan membuat Raja itu tidak bisa menolak permintaan para bangsawan yang menekannya, kalau ia menolak maka kekuasaan nya akan jatuh ke tangan Pangeran Gustaf ( Paman Alexander ).
" Yang mulia Raja, tuan putri ingin bertemu dengan anda " kata Daniel dari luar pintu ruang kerja Raja
" Suruh dia masuk "
KLAK
__ADS_1
Leticia masuk ke dalam ruangan Raja dan memberi hormat dengan formal.
" Kemana saja kau selama ini? apa bersembunyi dariku sangat menyenangkan?" tanya Alexander dingin
" Saya minta maaf yang mulia, tapi saya sangat sibuk membantu di dapur. Anda tau sendiri kan kalau saya bekerja di istana ini " kata Leticia sambil tersenyum
" Bagaimana kau bisa tersenyum seperti itu? setelah menghindari ku selama beberapa hari?" tanya Alexander
" padahal banyak yang ingin aku bicarakan denganmu. Tapi kau malah.. sekarang malah ada masalah besar " batin Alexander
" Mungkin lebih baik memang kita saling menjauh. Nyatanya aku memang memiliki perasaan padamu, sebelum aku jatuh terlalu dalam, aku akan pergi darimu. Agar hatiku bisa tercegah dari rasa sakit. " batin Leticia yakin
" Saya kan sudah minta maaf, dan saya tidak akan berbasa-basi lagi. Saya kemari untuk menagih janji yang mulia Raja " kata Leticia tegas
" Janji? " tanya Alexander
" Iya, anda berjanji akan mengabulkan permintaan saya. Saya akan meminta itu hari ini yang mulia " kata Leticia
" Iya aku ingat. Jadi apa permintaan mu?" tanya Alexander
" Tolong lepaskan saya yang mulia, lepaskan saya dari genggaman anda. Saya ingin pergi dari sini " jawab Leticia
BRAK
Alexander kaget saat Leticia mengatakan bahwa ia ingin pergi dari sisinya. Wajahnya menunjukkan kemarahan, bola mata nya yang hitam kembali berubah menjadi merah.
" Apa kau serius dengan ucapan mu?" tanya Alexander tajam
" Dia seperti itu lagi? tidak, aku harus membuatnya tenang, ayo bicara selembut mungkin Leticia, cari alasan yang masuk akal.. " batin Leticia
" Iya saya serius, saya ingin pergi dari sini. Tentu saja bersama Carol, itu adalah permintaan saya " kata Leticia
" Kau bisa meminta apapun dariku, seribu bahkan berjuta juta permintaan, tapi yang kau inginkan itu hanyalah pergi dariku? apakah itu benar-benar yang kau inginkan?" tanya Alexander kecewa
" Benar, saya hanya ingin pergi dari sini " jawab Leticia serius
" Pergi ! aku tidak mau melihat mu sekarang !" ujar Alexander marah
" Anda harus bilang setuju dulu ! anda sudah berjanji " seru Leticia memaksa
" Jangan buat aku marah lagi " kata Alexander kesal
" Bukankah anda tertekan dengan semua ini? apa anda ingin saya mati?!! mati di tangan para bangsawan itu?" tanya Leticia kesal
" Jadi kau sudah tau masalah itu? kau tidak usah cemas kalau soal itu aku akan menangani nya " kata Alexander
" Lebih baik melepaskan dari pada terus menggenggam tapi kesakitan " Leticia menatap pria itu dengan berkaca-kaca
" Apa maksud mu?" tanya Alexander
" Saya tidak bahagia bersama yang mulia ! saya .. ingin pergi dari sini. Biarkan saya pergi agar saya bahagia " kata Leticia tegas
__ADS_1
Alexander melihat wanita itu, dan terdiam setelah mendengar kata kata Leticia. " Tidak bahagia? denganku? apa kau kesakitan bersamaku?" batinnya bertanya-tanya.
...---***---...