Aku Menjadi Tawanan Sang Tiran

Aku Menjadi Tawanan Sang Tiran
Chapter 6 Prisoner


__ADS_3

Raja itu dengan wajah datar nya mengacungkan pedangnya ke leher Carol, dengan cepat Leticia berlari ke depan Carol yang sudah bersiap siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Pelayan itu terkejut karena sang putri menghadang pedang itu untuk nya.


" Cukup ! kau sudah keterlaluan ! jangan membunuh orang lagi !" seru Leticia dengan tatapan mata membara penuh kemarahan pada Alexander. Leher nya tergores pedang dan sedikit berdarah.


" Yang mulia !" seru Carol terkejut


" Melihat sikapnya yang tanpa ragu membunuh orang, aku harus mempertahankan nyawa ku dan Carol , malam ini kami harus selamat " batin Leticia penuh keberanian


" Pandangan mata yang tajam, penuh kebencian tapi ada keberanian. Wanita gila ini, tatapan nya itu tidak buruk . Mempertaruhkan nyawa hanya untuk seorang pelayan, dia cukup bodoh" batin Alexander menilai Leticia


" Jangan sakiti pelayan ku ! tidak.. jangan bunuh kami !" seru Leticia tegas


" kenapa aku harus mendengarkan mu?" tanya Alexander menyeringai


" Biarkan kami hidup, kami akan menuruti semua permintaan mu " kata Leticia


" Yang mulia.. jangan.." Carol menangis


" Maaf, tapi aku bukan orang yang akan menyisakan satu orang pun yang akan menjadi bibit pengkhianat, aku suka menyapu bersih " kata Alexander sambil menghunuskan pedangnya ke arah Leticia.


" Apa aku akan mati lagi?" batin Leticia panik


" Yang mulia !" teriak Daniel sambil berlari menghampiri Alexander.


Alexander pun menurunkan pedangnya dan menatap ke arah Daniel. Sementara Leticia dan Carol merasa lega.


" Ada apa? kau menganggu ku !" Alexander marah


" Maaf yang mulia, saya ingin memberitahu bahwa putra mahkota Derrick dan pengawal nya jatuh ke bawah jurang dan menghilang " kata Daniel menjelaskan


" Apa? kakak .. kakak menghilang?" batin Leticia kaget


" Huh? jadi dia menghilang ya? " gumam Alexander


Leticia menggandeng tangan Carol dan berusaha kabur dengan berlari. Namun, Alexander menahan nya dengan menghunuskan pedang nya ke leher gadis itu.


" Kau bilang kau ingin hidup kan? Baik, akan kuberikan kesempatan. Jangan kabur, atau kau mati !" Alexander mengancam


Alexander menggendong paksa Leticia di bahunya.


" Lepaskan aku ! hey kau orang jahat ! biarkan aku pergi !" seru Leticia berusaha memberontak


" Kenapa dia tidak melepaskan ku?" batin Leticia bingung


" Daniel, kau bawa gadis itu !" seru Alexander


" Baik yang mulia " Daniel membawa Carol


" Lepaskan aku psikopat ! orang gila !" seru Leticia penuh kemarahan


" Apa kau bilang?" tanya Alexander kesal


" Aku bilang kau orang gila ! turunkan aku !" seru Leticia berusaha turun dari gendongan bahu Alexander


" Aku akan menyelesaikan mu nanti !" seru Alexander dingin


" Ya tuhan, apa gunanya aku hidup kembali kalau seperti ini? apa aku akan berakhir mati ditangannya? tidak ! aku tidak boleh mati sebelum membalas dendam pada nya atas kematian Ayah dan Lydia !" batin Leticia penuh kemarahan


Alexander dan Daniel membawa 2 orang dari kerajaan Brilla itu ke istana Fostiarus. Alexander mendorong Leticia dengan kasar di hadapan semua prajurit di istananya.


" Kau bilang kau ingin hidup kan?" tanya Alexander


" Pria ini kuat sekali, aku harus menurutinya untuk saat ini. Mempertahankan nyawa ku lebih penting untuk saat ini, balas dendam bisa ku lakukan nanti " batin Leticia


" Ya, aku ingin hidup " jawab Leticia tegas


" Kalau begitu jadilah pelayan pribadi ku " kata Alexander


" Apa?" Leticia terpana


" Kau tidak dengar?" tanya Alexander ketus


" Yang mulia, jangan lakukan itu !" seru Carol yang di ikat oleh Daniel.


" Pelayan? aku tidak sudi menjadi pelayan mu, tolong berikan syarat yang lain!" seru Leticia menolak


" Bagaimana bisa aku menjadi pelayan musuh ku sendiri?" batin Leticia tak percaya


" Rupanya harga diri tuan putri ini cukup tinggi. Atau mungkin kesombongan mu? Daniel, bunuh pelayan itu !" seru Alexander tegas


" Baik !" jawab Daniel


" Jangan ! jangan bunuh dia ! tolong ampuni nyawanya !" seru Leticia sambil menangis


" Tadi kau bilang kau tidak mau?" tanya Alexander dengan senyuman sinis nya


" A.. aku.. aku akan menjadi pelayan mu " jawab Leticia akhirnya


" Kenapa tidak begini dari tadi? mudah kan? " tanya Alexander sambil memegang tangan Leticia dengan kasar


" Lihat itu Raja Edmund yang agung, putrimu memohon dan mengemis kepadaku. Kuharap kau bahagia di alam sana. Ini belum seberapa dibandingkan kematian ibu, ayah dan adikku.

__ADS_1


Aku akan membuat putri kesayanganmu, bahwa mati lebih baik dari pada hidup " batin Alexander


Alexander menyeret Leticia ke kamarnya dan mendorong gadis itu ke ranjang dengan kasar.


" Kau bisa pelan-pelan tidak! sakit tahu !" seru Leticia mengeluh


" ngomong-ngomong kenapa dia membawa ku ke kamar ? sepertinya ini juga kamar nya?" batin Leticia heran


" Kau bisa masih bisa mengeluh, panggil aku dengan hormat! aku ini raja, kau tidak ada takutnya sama sekali ya !" kata Alexander marah


Alexander membuka baju nya di depan Leticia dan melempar baju itu ke ranjang nya. Leticia kaget begitu melihat pria itu telanjang dada di depannya.


" Apa.. apa yang kau lakukan?" tanya Leticia kaget


" Badannya bagus sekali, dan wajahnya tampan ,membuat orang tergiur saja. Astaga ini bukan waktunya terpukau, Leticia dia sepertinya akan melecehkan mu. Kau harus berbuat sesuatu pada si mesum ini !" batin Leticia panik


" Ekspresi macam apa ini? dia pikir aku ingin berbuat apa?" batin Alexander


Alexander mendekati Leticia, gadis itu memegang vas yang ada di meja dan bersiap-siap dalam posisi memukul.


" Kau jangan macam-macam ! orang gila ! mundur kau ! mundur ! mau apa kau? " seru Leticia marah


" Gadis ini tidak terlihat seperti tuan Putri, kelakuan nya liar dan barbar. Sekarang dia terlihat seperti kucing kecil yang sedang marah " batin Alexander


" Mau apa lagi? cepat layani aku !" seru Alexander dengan wajah datar mendekati Leticia


" Apa? dia bilang apa barusan?" batin Leticia kaget


" Kau pelayan ku jadi mulai sekarang kau harus melayani ku " kata Alexander tajam


Alexander mendorong Leticia dan mencengkram kedua tangannya dengan kuat.


" Sa..sakit lepaskan aku ! dasar Raja gila!" seru Leticia berusaha berontak


" Dia kuat sekali, aku tidak bisa bergerak. Apa aku akan habis ?" batin Leticia ketakutan


Melihat Leticia yang ketakutan dan gemetaran membuat Raja itu tersenyum puas. Pada akhirnya Leticia menangis saat lengan baju nya di sobek oleh Alexander.


" Lepaskan aku..kumohon, jangan begini.. ayah.. kakak.. hiks " kata Leticia sambil menangis


" Dia bisa menangis juga?" batin Alexander heran


Alexander melepaskan Leticia dan terlihat marah.


" Raja brengsek, gila !" batin Leticia menggerutu


" Apa yang kau pikirkan? aku minta kau melayani ku mandi, tapi kau berfikir macam-macam ?" kata Alexander sambil tersenyum menyeringai


" Tentu, apa kau mengharapkan yang lain? tenang saja, aku tidak suka wanita " jawab Alexander sinis


" Apa maksudnya? apa dia gay?"batin Leticia terpana


" Yang mulia !" seru Daniel sambil mengetuk pintu


" Ada apa?" tanya Alexander tegas


" Ada Duke Henry, ingin bertemu dengan anda " jawab Daniel


" Henry? si pria sampah itu, apa dia yang mengkhianati ayah, kakak dan kerajaan Brilla?" batin Leticia kesal


" Bilang padanya, aku sedang ada urusan dengan tuan putri. Besok pagi baru bicara !" kata Alexander


" Akan saya sampaikan yang mulia " kata Daniel


Di luar kamar Raja Alexander...


" Apa yang mulia pikirkan dengan membawa putri itu ke dalam kamar? apa pria yang sudah menahan itu selama hidupnya akan mengakhiri keperjakaan nya malam ini? tidak mungkin kan, yang mulia tidak pernah menyentuh wanita manapun karena dia tidak suka wanita" batin Daniel berfikir


" Tuan Duke, anda dengar sendiri kan kalau yang mulia raja tidak bisa diganggu saat ini. " kata Daniel


" Sialan, harusnya aku yang menyentuh Leticia lebih dulu. Tapi, raja tiran ini malah.. ah sudahlah, aku yakin dia tidak akan menyentuh Leticia karena aku dengar dia tidak suka wanita " batin Henry marah


" Baiklah, saya akan kemari lagi besok. Tolong sampaikan pada raja kalau saya akan menagih janji nya besok " kata Henry tegas


" Ya, tuan duke" jawab Daniel


Di dalam kamar Alexander..


" Kau kenal dengan Duke Henry Elza bukan?" tanya Alexander


" Untuk apa anda menanyakan nya lagi? bukan kah itu sudah jelas? " ucap Leticia merasa di khianati


" Bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang kau cintai? apa rasanya sakit , tuan putri?" tanya Alexander sambil menyentuh pipi Leticia. Dengan tatapan jijik, Leticia menepis tangan Leticia.


" Anda salah, saya tidak pernah mencintai pria sampah seperti itu. Dan jangan sentuh saya dengan tangan kotor mu itu !" seru Leticia penuh kemarahan


" Apa kau bilang?" tanya Alexander


" Tangan anda kotor " jawab Leticia ketus


Alexander menampar Leticia hingga ia terjatuh ke lantai dan sudut bibir nya berdarah.

__ADS_1


" Kau tidak punya rasa takut, apa kau memang ingin mati ??!!" teriak Alexander membentak


" Kalau begitu bunuh lah aku, tapi bebaskan Carol " kata Leticia pasrah


" kalau aku mati, mungkin aku akan kembali ke kehidupan ku yang dulu. Setidaknya di sana aku tidak akan melihat pembunuhan sadis seperti disini. Ya, mungkin aku akan kembali ke kehidupan ku yang dulu kalau aku mati disini " batin Leticia


" Ingin mati? jangan mimpi, sebelum kau membayar dosa-dosa ayah mu kau tidak diizinkan untuk mati !" seru Alexander dengan tatapan tajam seperti biasanya


" Kau sudah membunuh ayah ku, menghancurkan kerajaan ku, membunuh pelayan ku, dan juga membunuh kakak ku. Apa itu tidak cukup?" tanya Leticia sedih


" Tidak cukup ! kau harus membayar nya seumur hidup mu !" seru Alexander


Raja itu sama sekali tidak kasihan melihat Leticia yang terluka karena nya, ia mengurung Leticia di tahanan karena Leticia bersikeras tidak mau menjadi pelayan dari orang yang sudah membunuh keluarganya.


Di dalam penjara ...


" Yang mulia, apa anda baik baik saja?" tanya Carol cemas


" Aku baik baik saja, Carol jangan cemas. " jawab Leticia sambil tersenyum


" Yang mulia seharusnya anda biarkan saja saya di bunuh, lagipula nyawa saya tidak berarti. Kenapa yang mulia menyelamatkan nyawa saya?" tanya Carol sedih


" Kata siapa nyawa mu tidak berarti? setiap nyawa itu sangat lah berharga Carol " jawab Leticia


" Tapi saya hanya pelayan yang mulia " kata Carol


" Meskipun kau seorang pelayan, tapi kau juga manusia dan manusia punya hak untuk hidup. Orang seperti raja psikopat itu tidak akan mengerti hal seperti ini, tapi aku mengerti.. Carol" terang Leticia


" Yang mulia, anda sangat baik pada saya.. terimakasih yang mulia .." kata Carol sambil menangis dan memegang tangan Leticia


" Carol, kau satu satu nya yang ku miliki sekarang. Jangan pernah meninggalkan ku ya " kata Leticia


"Yang mulia .." Carol terharu


" Bolehkah saya memeluk yang mulia?" tanya Carol


Leticia tersenyum dan mengangguk. Mereka pun berpelukan untuk menenangkan satu sama lain.


" mengharukan sekali ya tuan putri dari Brilla, maksud ku mantan tuan putri " kata Marques Randell sambil tersenyum sinis


Leticia dan Carol terkejut, sontak melepaskan pelukan mereka.


" Siapa kau?" tanya Leticia melihat tajam


" Seperti rumor yang beredar, kau memang sangat cantik putri Leticia " kata Marques Randell


" Aku tanya siapa anda?" tanya Leticia


" Kenapa raja membiarkan putri ini tetap hidup? bukan kah dia tidak akan membiarkan satupun orang tersisa ? ini tidak seperti biasanya " batin Marques Randell heran


" Lupakan saja. Saya kesini untuk melihat orang yang selamat dari yang mulia raja, selamat bersenang-senang di penjara " kata Marques Randell mengejek


" Aku harus menanyakan ini kepada raja, kenapa putri ini tidak di bunuh dan dibiarkan hidup? " batin Marques Randell


Selama Raja Alexander menaklukan kerajaan kerajaan kecil di bawahnya atau dalam peperangan. Ia tak akan melepaskan siapapun hidup, tanpa terkecuali. Ia selalu mengatakan tentang mencabut sampai ke akar untuk tidak menyisakan pengkhianat. Tapi kali ini ia membiarkan Leticia hidup, dan membuat Marques Randell curiga kenapa Leticia menjadi pengecualian.


Sementara Leticia yang tidak tahu apapun soal masalah Alexander dan ayahnya malah berada di tengah tengah masalah mereka. Namun, ia sudah tau dari sikap Alexander pada nya, bahwa raja itu memiliki dendam yang besar pada ayahnya dan berniat menyiksa nya sebagai pelampiasan.


***


Keesokan harinya, Leticia dan Carol diganggu oleh para penjaga.


" Hey lihat, bukankah dia putri Leticia? " tanya pengawal 1


" Dia sangat cantik seperti rumornya, lihat rambut perak nya itu.. " kata Pengawal 2 melihat Leticia dengan genit


" Bagaimana kalau kita bermain sebentar dengan nya sebelum mengantar nya pada yang mulia raja?" tanya pengawal 2 menyarankan


" Jangan bertindak gegabah, kalau yang mulia raja tau bagaimana? kau mau tanggung resikonya?" tanya pengawal 3


" Jika yang mulia raja tidak tahu, kan tidak apa apa?" tanya pengawal 1


" Kau benar juga, dan ini juga sudah nasib nya kan menjadi tahanan. " kata pengawal 2 menyeringai


" Sudah beruntung dia masih hidup, biasanya yang mulia akan membunuh siapapun tanpa sisa " kata pengawal 3


Pembicaraan itu rupanya terdengar oleh Leticia dan Carol. Mereka berdua terlihat ketakutan dan berhati-hati. Ketiga pengawal itu masuk ke dalam penjara dan menunjukkan mata mesum mereka. Beberapa dari mereka memegang megang tangan Leticia, berulang kali gadis itu menepisnya.


" Aku tidak mau kehilangan keperawanan ku! " batin Leticia ketakutan


" Kalian mau apa ? hentikan! jangan sentuh yang mulia !" seru Carol panik


" Tenang lah tuan putri, kami akan menghangatkan mu " kata pengawal 1 sambil menyentuh tangan Leticia


" Jangan macam-macam pada ku !" teriak Leticia


Kedua Pengawal itu mengikat tangan Leticia dan tangan Carol, gadis itu sudah berusaha berontak namun ketiga pria itu terlalu kuat untuk ia lawan.


" TIDAK!! " teriak Leticia saat ketiga pria itu akan berbuat tidak senonoh padanya


" Ya tuhan , kalau tau begini aku akan mati saja. Aku tidak mau seperti ini, sangat menjijikan " batin Leticia sedih

__ADS_1


__ADS_2