
Alexander berniat mengejar si pembunuh yang menusuk Leticia. Tapi Daniel menghentikan nya.
Carol yang melihat Leticia bersimbah darah, berlari menghampiri nya dengan panik.
" kenapa kau menghentikan ku?! dasar bodoh !" Alexander terlihat murka
" Saya akan mengejar nya ! yang mulia, anda harus bersama nona Leticia? anda tidak lihat keadaan nona Leticia !" teriak Daniel panik
Raja tiran itu mengerti perkataan Daniel. Ia mempercayai perkataan asisten nya itu. Daniel berlari mengejar pembunuh.
Sementara Alexander menggendong Leticia dan membawa wanita itu ke tempat yang aman, Carol juga ikut dengannya.
" Nona !"
" Kenapa kau lakukan ini? dasar bodoh ! siapa suruh kau melindungi ku?!!" tanya Alexander sambil berusaha menyembuhkan luka di perut Leticia dengan sihirnya. Pria itu terlihat panik, dan cemas, ia takut terjadi apa apa dengan Leticia.
" Kenapa aku malah dimarahi.." lirih Leticia yang lemas
" Apa aku terlihat sedang marah?!!"
Kenapa? kenapa sihir penyembuhan ku tidak bereaksi pada lukanya?
Yang mulia Raja terlihat panik dan ketakutan. kata Carol dalam hatinya.
Mata Leticia mulai menutup perlahan-lahan, namun ia tetap berusaha mempertahankan kesadaran nya agar Carol dan Alexander tidak panik lagi.
" Bertahanlah ! aku akan membawamu ke tabib di dekat sini, kumohon tetaplah sadar " kata Alexander yang tanpa sadar menangis dan menggendong kembali Leticia.
" Aku...a..ku baik-baik sa..ja " Leticia tersenyum, lalu menutup matanya dan mulai tidak sadarkan diri di gendongan Alexander.
" Carol, kau tau kan dimana tabib terdekat disini?!!" teriak Alexander panik dan terburu-buru
" Iya saya tau, ada di dekat sana ! ayo yang mulia " kata Carol
Saat Alexander berjalan, tiba-tiba ia melihat Gustaf yang sudah ada di depannya dan menghalangi jalannya. Gustaf tercengang melihat Leticia yang berdarah berada di gendongan Alexander.
" Kau ?!! apa ini ulah mu?!!" Alexander menuduh
" Kenapa dia bisa terluka?" tanya Gustaf sambil menatap cemas pada Leticia yang tidak sadarkan diri.
seperti nya ini bukan perbuatan pamanku, dia terlihat tidak tau apa-apa.
" Kita harus cepat cepat membawa nona ! ayolah !" ujar Carol panik
" Aku tau tabib terdekat yang hebat, ikut aku jika kau ingin dia selamat " kata Gustaf
Tidak boleh terjadi apa apa padamu. Mantan tuan putri.
Raja tiran itu menahan kekesalannya pada Gustaf dan menuruti pamannya itu demi keselamatan orang yang ia cintai.
DRAP
DRAP
DRAP
Benar saja, tempatnya sangat dekat dari tempat Alexander berdiri tadi. Sebuah toko pengobatan kecil, tapi toko obat itu sedang tutup.
Gustaf yang sudah mengenal si pemilik toko nya, memaksa untuk masuk ke dalam toko obat itu dan bertemu dengan pedagangnya yang ternyata adalah tabib.
" Hey Pak tua ! buka toko mu ini dan obati dia, atau akan ku bakar habis semuanya !" ujar Gustaf mengancam dengan garang
Wah, dia sama berbahayanya dengan Raja Alexander. Memang ya mereka saudara sedarah
" Haa.. tuan, baiklah saya akan mengobati nya. Ini juga kewajiban saya sebagai tabib " kata Tabib Yohanes
" Kalau terjadi sesuatu padanya, kau yang akan mati !" ujar Alexander sambil menatap tajam pada tabib yang sudah tua itu.
Apa apaan mereka ini? ya ampun, aku sudah tua tapi masih saja harus mengalami seperti ini
CEKREK
Pintu rumah tabib itu terbuka, sesegera mungkin Alexander meletakkan Leticia yang tidak sadarkan diri, di ranjang salah satu kamar yang ada di rumah berlantai 2 itu. Gustaf dan Alexander terlihat sama-sama cemas melihat kondisi Leticia.
" Saya akan memeriksa nya, tolong kalian keluar dulu dari ruangan ini " pria tua itu sudah mengenakan stetoskop nya dan bersiap memeriksa keadaan Leticia.
" Aku tidak mau keluar " kata Alexander keras kepala
" Aku juga " kata Gustaf ikut-ikutan
" Kenapa kami harus keluar? "
" Karena konsentrasi saya akan pecah kalau ada tuan tuan disini. Saya harus memeriksa pasien dengan serius " kata tabib itu menjelaskan
" Tidak bisa, siapa tau kau berbuat cabul padanya !" kata Alexander curiga.
" Benar, karena aku yang merekomendasikan mu. Maka aku juga harus ada disini untuk memperhatikan mu " kata Gustaf yang beralasan ingin tetap tinggal di ruangan itu dan melihat Leticia.
Kedua orang ini benar-benar
Batin tabib itu kesal
" Bisakah tuan-tuan keluar dulu? dan saya juga bukan orang mesum ! Kalau tidak mau keluar, saya tidak akan mau mengobati nona ini ' Tabib itu mengancam dengan kesal
" Baiklah...baiklah. Kau harus menyelamatkan nya " kata Alexander melorot
Tabib sialan. Gerutu Alexander dalam hatinya
CEKREK
Alexander dan Gustaf, keluar dari kamar itu. Mereka saling mendelik sinis, tak suka satu sama lain.
" Hey, ngapain kau ada disini paman?" tanya Alexander sinis
__ADS_1
" Aku hanya jalan-jalan saja, memangnya apa urusanmu?" Gustaf menyilangkan tangannya di dada
" Kau pikir aku akan percaya? kau datang untuk mencelakai kekasih ku kan? apa kau ada dibalik ini?" tanya Alexander tajam
" Haha.. kau lucu sekali. Aku tidak pernah berniat untuk mencelakai kekasihmu, yang ada di dalam kepalaku adalah menjadikannya tawanan untuk mengancam mu, aku tidak sebodoh itu. Ah.. atau apa kau pikir, musuh mu cuma aku? konyol sekali " Gustaf tertawa
Alexander tertegun, seperti nya ia percaya bahwa Gustaf tidak akan melakukannya.
🍂🍂🍂
Sementara itu, Daniel yang sedang mengejar pembunuh itu kehilangan jejak nya saat ia mendekati hutan terlarang.
" Tidak ku sangka orang itu berani memasuki hutan terlarang. Dia sangat cepat, siapa dia? ah.. aku tidak mau kembali, aku akan mati oleh Baginda karena tidak menemukan si pembunuh itu. Tapi, aku juga khawatir pada nona Leticia. Ya, yang mulia berhak memarahi ku dan menghukum ku, bahkan membunuhku, aku tidak mengerjakan tugasku dengan baik. " gumam Daniel sedih sambil memegang pisau si pembunuh yang berlumuran darah ditangannya.
Tapi, aku punya pisau ini. Aku harus memberikan nya pada yang mulia, siapa tau ada petunjuk di pisau ini
Daniel menunggangi kudanya dan pergi dari depan hutan terlarang itu.
" Seperti nya dia sudah jauh, tuan putri "' kata seorang pria pada Zayana
" Aku tidak pernah menyuruhmu untuk membunuh wanita itu, tuan Diego!" ujar Zayana marah
" Maafkan saya yang mulia, tujuan saya sebenarnya bukanlah membunuh wanita itu. Dia akan baik-baik saja " Diego menunduk
" Kau sudah mengabaikan perintahku! aku memerintahkan apa, dan kau mengerjakan apa? kau anggap aku ini atasan mu apa bukan?!" Zayana murka dan mengangkat pedangnya ke leher Diego
" Ampuni saya yang mulia ! saya bersalah !" Diego berlutut di depan Zayana dan meminta belas kasihan nya
" Tolong ampuni tuan Diego, yang mulia !" kata para pengikutnya sambil berlutut dan memohon
Tadinya aku ingin menjadikan kekasih Raja Alexander sebagai tawanan untuk mengembalikan kerajaan ku. Tapi, karena sudah seperti ini. Rencana itu harus ditunda dulu, baiklah itu bisa dilakukan nanti.
" Baik, aku akan mengampuni mu tuan Diego, Tapi, jika lain kali kau melakukan hal yang tidak ku perintahkan, akan ku tebas lehermu atas nama pembangkangan !!" seru Zayana tegas
" Terimakasih atas kebaikan hati tuan putri " kata Diego bersyukur
🍂🍂🍂
Tabib Yohanes sudah selesai menjahit luka di perut Leticia. Alexander, Gustaf dan Carol menemani Leticia di dalam kamar. Paman dan keponakan itu berdebat di dalam kamar itu, saat Leticia sedang tidur setelah diberi obat penenang.
" Tidak masuk akal, kenapa kau bisa ada disini?" tanya Alexander
" Suka suka aku dong " Gustaf santai
" Aku kekasihnya, dan kau siapa berada disini? pergi saja " kata Alexander mengusir
'' Kau saja yang pergi ! "
" Kalian ini .. apa kalian peduli pada nona ini? jika kalian peduli, seharusnya jangan bertengkar disini. Kalian tidak lihat ya kalau nona ini sedang tidur karena obat penenang yang saya berikan !" teriak tabib itu marah
" Tenanglah pak, kalau anda marah-marah seperti itu. Nanti anda bisa terkena serangan jantung " kata Gustaf
" Bukan serangan jantung, tapi darah tinggi. Itu yang benar, pamanku yang konyol " Alexander tersenyum.
" Ya, aku setuju dengan mu kali ini paman " kata Alexander sambil tersenyum licik
" Kalian anak-anak muda kurang ajar !" tabib itu marah
Leticia yang mendengar keributan itu pun, bangun dari tidurnya. Ia berusaha menahan tawanya, melihat tingkah kekanakan Alexander dan Gustaf yang seperti anak kecil.
Tapi kompak dalam beberapa hal, terutama dalam mengejek tabib yang sedang marah-marah itu.
Ya ampun, mereka
PFut ...HAHAHA.. HAHA..
Sakit juga ternyata kalau aku tertawa
" Kalian benar-benar ya...." Leticia tersenyum sambil memegang perutnya yang kesakitan karena habis menahan tawa
" Kau sudah bangun? bagaimana perasaan mu? ada yang sakit?" tanya Alexander sambil menghampiri Leticia dengan cemas
" Ini sangat sakit tau, kalian ini ya benar-benar."
" Aku kan tadi sudang bilang untuk diam? kalian ini berisik sekali !" ujar Alexander pada tabib Yohanes dan Gustaf yang juga ada disana.
Ya ampun, kenapa aku merasa Lex sangat imut. Memangnya aku tidak tau apa, yang ribut itu kau dan si pangeran gila. Haha.. dasar. Tadinya aku mau pura-pura tidur saja, tapi aku tidak bisa menahan tawa ini. Kelakuan mereka benar-benar seperti anak TK. Btw, kenapa si pangeran ini ada disini juga?
" Sudah ! hentikan! jangan ribut lagi, padahal aku sedang sakit. Kalian malah ribut-ribut. Aish.." Wanita itu memegang bekas tusukan diperutnya dan meringis kesakitan
" Apa perutmu sakit?" tanya Gustaf cemas
" Apa apaan kau ?" tanya Alexander yang kesal melihat Gustaf mencemaskan Leticia.
" Nona, berhati-hati lah dengan luka mu. Jangan sampai jahitannya terbuka lagi, kau harus banyak beristirahat selama beberapa hari. Sekarang ini harusnya kau sedang tidur, tapi kedua tuan ini malah menganggu tidurmu " kata Tabib itu sambil melirik kesal pada Alexander dan Gustaf.
" Beraninya kau berbicara padaku seperti itu? dasar pak tua ! kau tidak tau siapa aku, aku adalah....
HUP
Tangan Leticia menutupi mulut Alexander dengan cepat. Ia tak bisa menahan amarahnya meskipun ia merasakan sakit di perutnya, pada Alexander dan Gustaf yang sama-sama kompak tidak sopan pada tabib Yohanes.
Leticia menyuruh Raja dan pangeran itu meminta maaf pada orang yang sudah menyelamatkan nyawanya itu. Carol hanya diam menyaksikan semuanya dan tersenyum sendiri karena merasa lucu.
" Kenapa aku harus minta maaf pada si tua Bangka ini?" tanya Alexander geram
" Benar, kita tidak salah apapun pada nya. " kata Gustaf yang ikut-ikutan keras kepala
" Kali ini aku setuju dengan mu paman " jawab Alexander setuju
" HAH ! benar-benar paman dan keponakan, ya kalian memang bersaudara ! kalian bahkan bisa sangat kompak dalam urusan keras kepala ini, kalian pemenang nya !" Leticia terlihat kesal
" Kami bukan saudara !!!" seru Alexander dan Gustaf bersamaan.
__ADS_1
" KAU !!" Alexander dan Gustaf berbicara kompak untuk kedua kalinya, mereka saling melihat dengan jijik
" Pfut.. "
Carol menutup mulutnya untuk menahan tawa melihat tingkah Pangeran dan Raja dari Fostiarus itu.
Tahan Carol, jangan tertawa. Kalau tertawa kau mati ditangan mereka.
Tahan Leticia, jangan tertawa. Kalau kau tertawa, maka luka mu akan terasa sakit lagi.
" Kalian.. minta maaf lah pada tuan Yohanes. Cepat minta maaf !!" teriak Leticia kesal
" Kau jangan marah-marah seperti itu, kalau perutmu sakit bagaimana?" tanya Alexander cemas
" Ya, kalau begitu kalian jangan buat aku marah dong ! Cepat minta maaf pada tuan Yohanes..kau juga orang gila "
Gustaf dan Alexander, keduanya sama-sama tidak mau minta maaf. Mereka merasa tidak bersalah pada Tuan Yohanes.
" Jangan merasa hanya kalian yang berstatus tinggi, kalian tidak akan meminta maaf dan berterimakasih pada seseorang? kata siapa itu? minta maaf dan terimakasih bisa dilakukan dan diucapkan pada siapa saja, tidak terkecuali. Mau orang itu Raja, pangeran, pengemis, jika mereka bersalah tetap harus minta maaf. "
Pada akhirnya aku malah ceramah. Semoga mereka mengerti maksud ku.
" Kalian mau minta maaf kan?" tanya Leticia tegas
Kedua pria itu akhirnya luluh dengan perkataan Leticia. Mereka menunduk kepala mereka pada tuan Yohanes dan meminta maaf dengan tulus.
" Aku memujamu nona.. kelak mereka akan menjadi budak istri nya." kata tabib Yohanes
" Hehe " Leticia tersenyum
Entahlah, apa itu adalah hal yang patut dibanggakan?
Nona menjinakkan kedua pria kejam ini dengan mudah. Memang nona ku yang paling hebat. Carol bangga
" Ngomong-ngomong siapa diantara mereka?" tanya tabib Yohanes sambil tersenyum
" Siapa apanya ? maksud tuan ?" tanya Leticia
" Kekasihmu? apa yang berambut hitam gelap atau yang berambut coklat? " tanya Yohanes
" Kekasih nona adalah yang berambut gelap tuan " jawab Carol
" Kalian pasangan yang serasi. Tapi, dilihat-lihat si rambut coklat juga lumayan tampan loh. Kenapa tidak pacari saja dua duanya? haha " kata tuan Yohanes sambil tertawa
Alexander dan Gustaf menggunakan sihir mereka untuk memperbaiki toko Tabib Yohanes yang sudah rusak dan rapuh, sebagai tanda terimakasih nya karena sudah menyelamatkan Leticia.
Alexander yang sangat protektif pada Leticia, berjalan sambil menggendong wanita itu. Carol merasa bahwa Alexander sangatlah gentle dan manly, Carol mengagumi Alexander.
" Paman, terimakasih sudah membawa kami pada si pak tua ini. "
" Tidak usah berterimakasih, ini bukan demi dirimu. Tapi demi dia, seharusnya orang yang bersangkutan lah yang berterimakasih padaku. " kata Gustaf menyindir
" Ya, si gila. Terimakasih sudah menyelamatkan ku " kata Leticia sambil memalingkan wajahnya
Ada apa ini? kenapa aku merasa tidak nyaman melihat mereka mengobrol berdua.
" Sudah lah ! kau pergi saja paman ! ini terakhir kalinya aku membiarkan mu pergi " kata Alexander mengancam
" Kau baik hati sekali ya keponakan ku tersayang. Padahal kau bisa menangkap ku disini, tapi kau membiarkan ku pergi begitu saja " kata Gustaf heran
" Menurutmu kenapa?intinya aku tidak ada waktu untuk melayani mu sekarang " kata Alexander cuek
" Baiklah, jagalah dia dengan baik dari musuh musuh mu itu Alexander " kata Gustaf serius
" Tidak perlu bicara begitu, aku sudah pasti akan menjaganya. Kau tidak perlu mengingat kan ku " kata Alexander sinis
Padahal kalau paman dan keponakan ini damai. Pasti dunia akan indah, apa aku harus mendamaikan mereka juga?. Kata Leticia di dalam hatinya.
Gustaf tersenyum sinis, lalu ia pun menghilang secepat kilat. Tak lama kemudian Daniel muncul di depan Alexander.
" Yang mulia !" seru Daniel terburu-buru
Melihat ekspresi Daniel, seperti nya Alexander sudah menduga kalau asisten nya itu tidak berhasil menangkap pelaku penusukan itu. Raja tiran itu menyuruh Daniel mengatakan nya nanti saja. Karena ia harus fokus pada keadaan Leticia dulu.
" Ayo, aku akan mengantar mu pulang "
" Pulang kemana?" tanya Leticia
" Ke istana Ilios " jawab Alexander
" Jangan ! jangan antar aku pulang, kakak ku akan cemas melihat keadaan ku kalau aku pulang sekarang " kata Leticia
" Kau takut aku dimarahi oleh kakak mu? tenang saja, aku sudah bersiap mental untuk ini. Sejak aku memutuskan untuk menjadi kekasihmu, aku sudah bersiap untuk segalanya. " kata Alexander
Kyaa !! bagaimana kata-kata nya bisa terdengar begitu sweet? padahal itu hanya kata-kata biasa. Yang aku suka dengar di drama, sekarang aku mendengarnya sendiri, dan itu terdengar bagus. Jantungku tenanglah ! batin Leticia
" Bukan hanya itu saja, kakak ku akan marah padamu dan hubungan kita bisa saja...yang paling parah dia akan sangat mencemaskan ku" kata Leticia
" Baiklah, apa saran mu?"
" Aku tidak akan pulang " jawab Leticia
" Jadi kau mau pulang kemana?" tanya Alexander
" Mungkin aku akan pulang bersama mu, aku ikut denganmu "jawab Leticia yang masih berada di gendongan Alexander.
Pulang bersamaku? ke istana maksudnya? apa dia sadar kalau itu adalah kata-kata yang berbahaya?
Tiba-tiba saja wajah Alexander merah merona. Entah apa yang ia pikirkan sehingga ia bisa seperti itu. Leticia terlihat bingung saat melihat Alexander yang wajah nya memerah.
...---***---...
__ADS_1
Hai Readers 😊 Makasih yang udah kasih dukungannya buat karya ku ini, Like, terutama vote dan komennya. Tetap dukung karya ku ya...