Aku Menjadi Tawanan Sang Tiran

Aku Menjadi Tawanan Sang Tiran
Bab 39 She's not here


__ADS_3

Kini wanita itu sudah berada jauh dari istana yang menjadi tempat tinggalnya selama hampir 3 bulan itu. Kereta berjalan dengan cepat menuju ke kerajaan Ilios, ia berada di dalam kereta bersama Derrick dan Darren.


" Kenapa Leticia memasang raut wajah seperti itu? apa dia sedih harus meninggalkan istana Fostiarus? atau dia sedih karena meninggalkan Raja tiran itu? perkataan kakak itu tidak mungkin benar kan?" batin Darren khawatir


" Ada apa dengan Tisha, dari tadi dia diam terus ?" batin Derrick heran


" Tisha, kau baik-baik saja kan?" tanya Derrick cemas


" Aku baik-baik saja kakak " jawab Leticia sambil menyeka air matanya


" Kau menangis?" tanya Derrick cemas


" Kenapa kau menangis?" tanya Darren heran


" Jangan bilang kalau itu karena dia.. jangan " batin Darren berharap


" Aku tidak menangis.. aku kelilipan sesuatu.. ada yang masuk ke dalam mataku " Leticia memasang senyuman lagi di wajahnya


" Bohong, jelas jelas kau habis menangis " batin Darren sedih


" Kenapa hatiku sakit sekali? tanpa sadar air mata ku mengalir. Tidak ku sangka kalau perasaan ku padanya tidak mudah, saat dia bilang dia mencintai ku, tapi dia ingin menjadikan ku selirnya, aku merasa terluka. Saat dia melepaskan ku saat ini, aku merasa jadi wanita yang ditinggalkan. Setelah ini dia pasti akan menikah bukan? Ya, aku harus melupakan nya. Jangan bodoh lagi, di kehidupan kedua ini kau harus cerdas Leticia " batin Leticia meyakinkan dirinya


" Tisha, apa kau memikirkan Raja itu?" tanya Derrick tanpa basa basi


" Kenapa aku harus memikirkan nya? Pertanyaan kakak benar benar aneh " tanya Leticia heran


" Kau jangan lupa, sebaik apapun sikapnya padamu. Dia sudah membunuh keluarga kita, dan menghancurkan Brilla. Pada akhir nya kita dan dia adalah musuh !" seru Derrick tegas


JLEB


Perkataan itu menusuk ke dalam hati dan pikiran wanita itu.


" Ya benar juga, kenapa aku melupakan hal sepenting ini? karena aku sibuk menyukai nya, sesaat aku lupa kalau kami faktanya adalah musuh. Wajar saja jika seharusnya aku membencinya, tapi kenapa rasa ini malah ada ? Putri Leticia.. jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan? " batin Leticia


Di saat yang sama, istana Fostiarus..


Alexander merasakan hal yang sama, padahal baru beberapa menit sejak Leticia pergi. Ia merasa hampa dan hatinya tiba-tiba sakit, namun pria itu tak mau mengakuinya. Ia lebih mementingkan egonya. Daniel sangat menyayangkan sikap Alexander yang tidak terlihat seperti pria, rupanya Raja itu lebih mementingkan kekuasaan daripada Leticia yang sudah jelas menyukainya juga. Keinginan wanita itu hanya satu, ia ingin Alexander setia padanya, dan ia hanya ingin menjadi satu satunya wanita dalam hidupnya. Mengapa Alexander malah melepaskan nya? apa cinta memang bisa membuat orang jadi bodoh? sama hal nya seperti Raja tiran itu? Apakah ia akan menyesal nanti?


Daniel mengira bahwa ia sudah merasa lega karena Leticia bisa merubah Raja nya yang keras kepala itu, tapi ternyata cinta tidak bisa mengubahnya. Sekarang Daniel hanya berharap bahwa Raja nya tidak akan menyesal kehilangan satu-satu nya wanita yang ia cintai.


" Saya sudah mengingatkan yang mulia, sekarang masih belum terlambat yang mulia " kata Daniel sambil melihat raut wajah Alexander yang terlihat dingin


" Kau cerewet sekali Daniel "


" Biarlah saya dibilang cerewet, saya hanya mencemaskan yang mulia. Apa yang mulia sungguh akan terus bersikap seperti ini? " tanya Daniel


" Dia bilang dia tidak bahagia bersamaku, dia juga menolak tawaran ku. Aku hanya berfikir realistis, dia yang ingin pergi, dan aku hanya mengabulkan nya saja " kata Alexander santai


" Hanya karena tuan putri bilang begitu, jadi menurut yang mulia itu benar-benar keinginan nya? dan mengenai tawaran itu, mana ada perempuan yang ingin menjadi selir? apa yang mulia tidak memahami keinginan sederhana tuan putri?" tanya Daniel terus mengingatkan Raja nya itu


" Keinginan nya itu tidak sederhana, dia ingin menjadi satu satunya wanita di kehidupan ku. Dia tidak bisa mendapatkan itu, karena aku seorang Raja, aku perlu mempertahankan kekuasaan ku dengan pernikahan politik. Dia tidak mengerti itu !" kata Alexander marah


" Haa...maafkan saya berkata lancang yang mulia, tapi sepertinya yang mulia lah yang tidak mengerti tuan putri. Tidak.. yang mulia lah yang tidak mengerti cinta " kata Daniel dengan nada kecewa


" Tidakkah kau terlalu banyak bicara, Daniel !" Alexander membentak marah


" Mari kita lihat yang mulia, sampai berapa lama anda bisa bertahan tanpa kehadiran tuan putri disini. Jika itu benar-benar cinta, maka yang mulia akan merasa kehilangan, dan yang mulia akan menyesal karena sudah membiarkan tuan putri pergi " kata Daniel menasehati


" Kau jangan menggurui ku !"


" Yah, mungkin saja akan ada kabar baik dari Ilios sebentar lagi.. kabar pertunangan atau kabar pernikahan mungkin.. " kata Daniel memanasi


" Pertunangan? pernikahan? siapa ?!! " tanya Alexander dingin


" Entahlah " Daniel tersenyum sambil memalingkan wajahnya


" maksud mu dia dan pangeran lemah itu? haa.. tidak mungkin ..." gumam Alexander


" Siapa yang tau kedepannya, bukan?" Daniel tersenyum santai


Pria itu melanjutkan pekerjaan nya dengan serius, ia harus segera memilih salah satu dari ketiga nona bangsawan itu untuk menjadi Ratu nya. Daniel mengatakan bahwa diantara semua nona bangsawan, Vivian lah yang paling cocok menjadi ratu, karena ia cantik, pintar, dan kekuasaan ayahnya Marquez Randell juga cukup luas, memiliki banyak relasi dan mempunyai bisnis pertambangan terbesar di negeri Fostiarus.


Malam itu...


" tapi aku tidak terlalu suka dia, dia wanita yang sombong dan arogan. " kata Alexander menilai Vivian


" Bukankah yang mulia bilang sendiri kalau perasaan bukan hal yang penting? yang penting nona itu cocok menjadi ratu negeri ini, tanpa perasaan pun tidak masalah " Daniel tersenyum santai

__ADS_1


" Kenapa aku merasa kau sedang menusuk ku dengan kata-kataku sendiri ya? Daniel kau mulai kurang ajar !" kata Alexander marah


" Saya hanya mengingatkan kata-kata yang mulia sebelumnya, saya pintar kan. Karena mengingat setiap kata-kata yang mulia ?" Daniel tersenyum


" Kau mengejekku?" tanya Alexander sinis


" Mana berani saya begitu hehe " jawab Daniel


" Yang mulia, apa anda akan menjilat ludah ada sendiri?" batin Daniel kesal


" Kalau begitu pilih saja dia ! aku suka atau tidak, toh ini hanya pernikahan politik " kata Alexander


" Baiklah kalau begitu yang mulia " kata Daniel patuh


" Buatlah pengumuman besok, kalau nona Vivian akan menjadi Ratu Fostiarus " kata Alexander


" Siap melaksanakan perintah yang mulia !" kata Daniel patuh


" Aku tidak percaya iblis di medan perang, pintar dalam segala hal. Begitu bodoh dalam menyadari perasaan nya " batin Daniel heran


" Oh ya Daniel ! panggilkan si kucing kecil .. suruh dia buat makanan..."


Deg


Deg


Deg


Jantung pria itu kembali berdetak lebih cepat, tapi kali ini ia merasa lain. Ia merasa ada yang hilang.


" Apa yang sudah ku katakan? sesaat aku lupa kalau dia sudah tidak ada disini " batin Alexander


" Ini baru beberapa jam tuan putri pergi dan yang mulia sudah merindukannya, saya sudah bilang apa ? jangan menyesal ya " kata Daniel


" Kau ini bicara apa sih? aku tidak merindukan nya ! tidak !" seru Alexander menyangkal


" Setiap kali yang mulia berbohong telinga yang mulia selalu memerah " kata Daniel sambil melihat telinga kiri Alexander yang memerah


" Tidak ! ini memerah karena kepanasan ! bukan karena aku berbohong, kau ini sok tau ya !"


" Saya sudah mengenal anda dari kecil, saya tau anda " kata Daniel menggoda


" Hehe...baiklah yang mulia " kata Daniel


" Sebenarnya masalah nya bukan pada tuan putri, tapi pada yang mulia Raja. Aku harus bekerja keras membuat yang mulia menyadari semua tindakan bodohnya itu ' batin Daniel kesal


Pria itu seperti nya sangat mengerti bagaimana luar dan dalam sikap Alexander. Termasuk sikap tidak biasa nya saat ada Leticia disana, meskipun Alexander adalah tipe pemarah, temperamental dan terkadang dingin. Daniel selalu berfikiran bahwa Raja nya bersikap seperti itu karena ia kesepian dan membutuhkan seseorang disisi nya. Daniel sudah mengenal Alexander sejak kecil dan mengabdi setia kepada Raja tiran itu, ia tak pernah membenarkan tindakan yang dilakukan oleh Alexander, dan tidak bisa menghentikan nya.


Sampai Leticia datang mengubah sedikit sikap dan kepribadian nya, hatinya mulai terbuka sedikit demi sedikit, keceriaan dan kehangatan wanita itu membuat Alexander tergerak hatinya. Daniel berfikir itu adalah hal yang sangat baik membiarkan Leticia berada disisi Alexander, walau kepribadian kedua orang itu bertolak belakang.


Tapi.. bukankah itu cara cinta mempersatukan kedua manusia ? bukan persamaan yang dicari, tapi kecocokan.


Alexander dan Leticia mungkin berbeda, tapi mereka cocok satu sama lain dan bisa saling melengkapi. Yang satunya hangat seperti matahari dan yang satunya dingin seperti es batu. Bahkan yang dibutuhkan puzzle agar bisa selesai bukanlah kesamaan, tapi kecocokan. Nah, seperti itulah cinta menurut Daniel yang bahkan belum pernah pacaran sekalipun.


***


Di kamar mewah, istana Ilios. Leticia sedang berada di balkonnya dan melihat langit malam yang penuh bintang itu.


" Kejam sekali bintang bintang itu, bagaimana bisa mereka menghiasi malam dengan berani? Padahal aku disini sedang bersedih, beraninya mereka muncul dengan indah" gumam Leticia sambil menatap bintang bintang yang bertaburan di langit dengan indah.


" Kau belum tidur?" tanya Darren sambil menoleh ke arah gadis itu


" Pa.. pangeran Darren? kau ada disebelah kamarku?" tanya Leticia terkejut melihat Darren ada di balkon sebelahnya


" Iya, kau tidak tau ya kalau kamar kita bersebelahan " jawab Darren


" Oh begitu ya hehe.. aku tidak tau " kata Leticia sambil tersenyum


" Sebenarnya aku ingin bertanya kenapa kau bersedih? tapi seharusnya aku diam saja, karena bisa saja jawaban mu adalah jawaban yang tidak aku inginkan " batin Darren


" Kenapa kau belum tidur? apa kau masih belum terbiasa disini?" tanya Darren cemas


" Iya begitulah. Dan aku merasa tidak nyaman sebenarnya aku tidak enak hati padamu dan yang mulia Raja Cedric " jawab Leticia jujur


" Kenapa?"


" Karena kalian baik kepada ku dan kak Derrick, memberikan kami perlindungan dan tempat tinggal. Bahkan kamar ku ini tidak jauh beda dengan kamar ku saat aku berada di kerajaan Brilla, tapi sekarang kan aku bukan seorang putri, kakak juga bukan putra mahkota lagi, kami hanya orang biasa yang mungkin bisa membahayakan mu dan juga... "

__ADS_1


Tiba-tiba Darren sudah berdiri di depan Leticia dan menutup mulut wanita itu dengan telunjuk tangannya.


" Sejak kapan dia ada disini? apa dia iron man? atau Spiderman? yang bisa melompat dengan cepat.. ah. Leticia lagi lagi kau terpana, bukankah orang-orang disini punya sihir. Kenapa kau masih belum terbiasa? " batin Leticia terpana


" Hentikan ! jangan katakan itu lagi, kami tidak keberatan kok kau dan sir Derrick tinggal disini. Jadi jangan merasa tidak enak hati " kata Darren sambil tersenyum


" Sebenarnya tidak apa apa kau merasa tidak enak hati, teruskan saja.. jika dengan begitu kau mungkin akan mempertimbangkan menerima hatiku. " batin Darren berharap


" Pria ini selain tampan, dia ramah dan selalu tersenyum. Dia adalah pria yang baik, berbeda sekali dengan tiran psikopat itu. Kenapa aku tidak bisa menyukainya saja ya? kenapa aku malah teringat tiran psikopat itu? bukankah di jam segini biasanya aku memasak omelet untuknya.. dia sedang apa ya sekarang?" batin Leticia bingung


" Apa yang kau pikirkan Tisha?" tanya Darren


" ah.. tidak apa apa.. aku hanya berfikir kenapa tiba-tiba kau muncul di depanku, dan membuatku terkejut " jawab Leticia canggung


" Apa kau lupa? aku menguasai elemen udara dan elemen air, jadi aku cepat seperti udara, kalau segini sih bukan apa apa " kata Darren sambil tersenyum


" Oh begitu, apa dulu aku juga punya sihir?" tanya Leticia ragu-ragu


" setahuku tidak, kekuatan mu mungkin belum muncul. Tenanglah, pasti kau akan mendapatkan kekuatan mu nanti, karena Derrick mempunyai sihir api dan air, mungkin kau akan punya salah satu nya. "


" kenapa hanya salah satunya? " tanya Leticia bingung


" karena perempuan biasanya begitu, mereka hanya memiliki satu elemen. Kalau laki laki 2 elemen " jawab Darren


" Oh begitu ya, tapi kenapa raja tiran itu memiliki 4 elemen? berarti dia hebat bukan?" gumam Leticia heran


" Kau mungkin tidak tau , pengguna 4 elemen itu akan dianggap tidak normal. Karena hal itu berkaitan dengan kekuatan iblis, entah itu benar atau tidak. " kata Darren menjelaskan


" Berarti kata si pangeran itu benar dong? tidak ada yang bisa mengalahkan Alexander dalam segi kekuatan di dunia fantasi ini " batin Leticia


" Kau pasti memikirkan dia lagi. Kenapa Tisha? padahal aku disini.." batin Darren sedih


" Sudah malam, tidurlah. Besok aku akan mengajak mu jalan jalan ke taman bunga di kerajaan Ilios " kata Darren


" Benarkah? kau akan mengajakku?" tanya Leticia semangat


" Iya, aku kan sudah janji saat di Brilla waktu itu. Dan baru sekarang aku bisa menepatinya " kata Darren ramah


" Baiklah, besok ayo kita jalan jalan " kata Leticia


" Psikopat tiran itu tidak pernah membiarkan ku keluar istana, setidaknya aku harus jalan jalan " batin Leticia senang


Wanita itu tak sengaja menginjak gaun tidurnya dan badannya terhuyung.


" AKhhh !! "


GREP


Kedua tangan Darren menahan gadis itu agar tidak terjatuh. Posisi mereka berakhir dengan Darren yang terlihat memeluk Leticia dari belakang.


" Ma..maaf aku tidak bermaksud menyentuhmu tanpa izin.. " kata Darren sopan sambil melepaskan pelukannya dari wanita itu.


" Ah .. tidak apa apa. Aku merasa sangat berterimakasih kalau bukan karena mu aku pasti sudah jatuh " kata Leticia sambil tersenyum


" Pria ini sangat sopan, kebalikan dari psikopat tiran itu. Dia bahkan meminta izin untuk menyentuh ku terlebih dahulu, eh kenapa aku memikirkan dia lagi?! sadarlah Leticia !" batin Leticia sebal


" Tidak apa-apa Tisha, pelan-pelan saja. Karena kau sudah ada disini, aku punya banyak waktu untuk mendapatkan hatimu. " batin Darren semangat


" Jelas jelas pria di depanku ini sangat baik, dia bahkan menyatakan cinta padaku. Tapi kenapa aku masih ragu? bukankah pria seperti ini yang aku inginkan? hangat, baik hati, gentleman, plus tampan dan kaya " batin Leticia berfikir


***


Raja tiran itu berjalan sendirian di taman bunga matahari yang Leticia tanam di taman belakang istana nya, padahal hari itu memasuki dini hari.


Pria itu berjalan-jalan disana, meskipun mulutnya selalu menyangkal mengatakan kalau ia tidak merindukan gadis itu. Perilaku dan sikap nya menunjukkan kebalikan nya.


" Kenapa aku berjalan disini pada dini hari? tentu saja ini karena aku tidak bisa tidur, tapi kenapa kesini? tanpa sadar kaki ku menuntun ku kemari. "


Alexander kaget saat ia melihat Leticia sedang berjalan dan tersenyum padanya di taman bunga, lalu gadis itu memanggilnya.


" Psikopat tiran ! kemarilah ! mari kita jalan jalan sebentar !"


Raja itu tersenyum dan berfikir bahwa dirinya sudah gila, membayangkan wanita yang bahkan tidak ada lagi di istana nya. Ia bahkan mendengar suaranya. Lalu tak lama kemudian bayangan gadis itu menghilang sekejap di hadapannya.


" Ini gila ! padahal dia sudah tidak disini, tapi kenapa.. kenapa.. Sial ! kenapa aku harus merasakan seperti ini? perasaan apa ini?" Raja tiran itu terlihat kesepian dan terluka.


Dari kejauhan seorang pria melihat nya, dan terlihat senang melihat Raja tiran itu kesepian.

__ADS_1


...--***---...


__ADS_2